Oleh : INDAH "chy". Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Backpacker Absurd to Pantai Beras Basah, Bontang

Hi!

Gue menyempatkan diri menulis review perjalanan sangat singkat gue ke Bontang, salah satu kota di Kalimantan Timur.
Sebenernya gue berekspektasi bisa punya banyak cerita di tempat ini tapi mungkin Tuhan berkehendak lain, hahaha!
(Ini adalah tulisan dengan waktu mengendap terlama sebagai sebuah draft. Gue terlalu sibuk mengurus proyek baru.)

Yak, langsung aja gue review perjalanan singkat gue. Check this out!

Gue kembali menyempatkan liburan selepas tugas dinas. Ya, curi - curi waktu. Kali ini sengaja tanpa persiapan apa - apa. Pagi hari, gue baru cari - cari nomor travel yang bisa ngebawa gue dan temen - temen gue dari Samarinda menuju Bontang. Nggak gampang, karena kami cari yang harganya sesuai kantong. Setelah tanya sana sini, kami dapat mobil dengan harga seratus ribu per kepala. Karena waktu terbatas, gue sepakat pakai jasa mobil ini. Soalnya bapak travel ini juga menyediakan jasa travel buat kami balik dari Bontang ke Balikpapan nantinya dengan harga yang murah pake banget. (Lagi - lagi, travelling hemat adalah prioritas.)

Untungnya, recommended travel agent banget si bapak ini. On time! Tepat pukul satu kami meluncur ke Bontang, tanpa tau mau menuju kemana, hahaha! Tapi yang bikin kami terkejut, buset, kenceng banget!!! Perjalanan kami tempuh cuma dua jam (yang normalnya tiga - empat jam!). Gue terus terang nggak seberapa ngerti gimana cara dia mengemudi karena dalam perjalanan gue tidur pules banget (malam harinya gue begadang nonton sampai pagi, hehe.)
Setibanya di pintu masuk Kota Bontang, pak sopir baru tanya: Kita mau diantar kemana kah?
Gue cuma ketawa miris dan menjawab: Hotel pak, dekat beras basah. Dan si sopir kaget. Dia nggak percaya kalau gue langsung menuju tempat yang dinamakan beras basah. Ternyata si sopir bilang kalau jam siang - siang begini sudah tidak ada kapal ke beras basah. Karena gue berpikir Pulau Beras Basah (yang katanya little Maldieves) itu sejenis Kakaban, Maratua atau Sangalaki (Derawan) ya gue langsung berpikiran singgah di hotel lain yang ada di kota Bontang, yang paling dekat dengan pelabuhan. Sayangnya, pak supir tidak tahu menahu tentang hotel. Gue menyerah, akhirnya gue pun browsing dan menemukan satu hotel bernama Hotel Marina, letaknya di sebelah pasar Rawa Indah.

Sedikit review untuk hotel ini, sekelas hotel melati pada umumnya sih. Tarif yang ditawarkan juga murah. Tapi yaa, you know lah hotel melati itu kayak gimana.

(Pic)

Kami cuma meletakkan barang - barang dan bergegas cari makan. Sebenarnya ada beberapa hotel murah di dekat pusat kota Bontang (Hotel Garuda salah satunya) tapi karena halaman google pertama yng gue lihat adalah adalah hotel ini, ya sudahlah. Plus-nya di sini adalah hotel ini dekat dengan pasar Rawa Indah (gue bakal menjelaskan makna "plus" di sini ntar). Akhirnya setelah agak lama, kami mendapatkan angkot menuju sebuah tempat mirip cafe (atau sebut saja tempat makan yang tidak termasuk dalam kategori "warung"). Kami ngemil di sana sambil googling tempat apa lagi yang bisa kami eksplore sebelum menuju Beras Basah besok. Kebetulan si pelayan menyebutkan kalau Cafe Singapore (sebuah cafe yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Bontang) tidak jauh dari tempat kami. Kami pun memutuskan ke sana. Sayangnya, menemukan angkot di Bontang sore hari amatlah menyebalkan. Hampir dua jam kami berdiri, tidak ada satupun angkot yang lewat. Untungnya, penantian kami terbayar dengan datangnya sebuah angkot dengan seorang supir yang super ramah. Kata temen gue sih, tampang preman tapi hatinya dermawan (cuma gara - gara si supir akrab banget sama anak - anak SMP yang kebetulan mengisi penuh angkotnya).

Ternyata yang dimaksud dengan Cafe SIngapore adalah sebuah cafe yang dibangun di tepian laut dan di sana berdiri sebuah "MERLION". Yap, persis dengan patung kebanggaan Negara Singapura.

(Pic)

Kami pun kembali ngemil di sana karena menu makanan yang ditawarkan belum menggoda iman kami untuk makan. Kelihatannya sih, orang yang datang ke sini tujuan utamanya adalah foto di patung itu. Tapi sungguh disayangkan. Kenapa justru membangun sebuah icon seperti negara tetangga? Kenapa mereka tidak membangun patung Gajahmada, Garuda, atau bahkan patung Neptunus sekalian, biar nggak dituduh "menjilak"? (abaikan, ini pertanyaan bodoh.)

Oke. Kami pun melanjutkan perjalanan, kali ini dengan angkot yang sama. FYI, kami "mengontrak" angkot tadi untuk mengantar dan menjemput kami karena lokasi Cafe Singapura yang jauh dari jalan raya. Kami tidak mau mengambil resiko bahaya mengingat kami semua perempuan dan jam sudah menunjukan pukul tujuh malam. Kami pun kembali ke hotel dengan niat mencari makan di sekitar hotel saja.

Memang dalam perjalanan kami yang tanpa rencana dan persiapan, selalu ada keberuntungan (Alhamdulillah). Ternyata hotel kami tidak jauh dari sebuah area PKL yang menjual makanan khas bontang: IKAN SAMBAL GAMI. Ya, kami merasa sangat beruntung. Area PKL ini ramai sekali. Ternyata penjual di sini hanya berdagang di malam hari. Betapa senangnya kami karena besok malamnya kami sudah tidak menginap di hotel ini lagi.

Kami pun kalap. Seporsi besar ikan ludes dalam sekejab. Ikan di sini dijual per-kg. Jadi, kita bebas memilih ikan mana yang akan dimakan, ditimbang dulu, lalu deal harganya berapa. Benar - benar hemat kalau kita makan rame - rame.

Selepas makan, kami langsung ke hotel. Jarak area PKL ini tidak jauh dari hotel jadi kami cukup jalan kaki saja.

Keesokan harinya, kami menuju pelabuhan. Karena masih ada teman kami yang belum sampai di Bontang, terpaksa kami harus menunggu. Terus terang, gue kaget banget melihat pelabuhannya. Mungkin karena sebelum - sebelumnya gue travelling ke beberapa tempat yang cukup "wah", gue langsung speechless pas lihat pelabuhan di sini. Biarlah gambar yang berbicara.

(Pic)

Setlah rombongan siap, kami pun menyewa kapal. FYI, kapal di sini sudah ada rate harganya, khusus hari sabtu - minggu. Semacam ada koperasi yang mengelolanya gitu deh. Tapi untuk weekday (kabarnya) bisa langsung nego dengan para pemilik kapal sehingga lebih murah. Kami diberi harga lima ratus ribu PP. Karena tidak punya pilihan lain, kami pun berangkat.

(Pic)

Satu jam lebih kami ngambang di laut dan akhirnya menemukan pemandangan ini.

(Pic)

Dan...ya...sekali lagi gue speechless....ini  (lagi - lagi) bukan seperti ekspektasi gue...

(Pic)


Sekali lagi, tulisan ini murni dari pendapat gue, no offense, ya! Gue mikirnya Pantai Beras Basah yang dijuluki Little Maldieves itu bakalan mengalahkan Derawan (yang sampai saat ini masih memegang urutan teratas selama gue travelling). Ternyata kenyataan memang terkadang harus jauh dari khayalan, Jendral! Hahaha. Tapi nggak masalah. Kali ini gue travelling dengan banyak teman (ini kali pertama gue travelling rame - rame) jadi gue masih bisa have fun ketawa - ketiwi bareng mereka.

Keadaan pantai di sini cukup ramai. Ada fasilitas Banana Boat dan Snorkling. Tapi kami ngak mencobanya karena kami datang pas matahari ada di atas kepala. Kami malas nyebur haha! Airnya memang tidak seperti Derawan but it was also crystal water, indeed. Well, tempat ini masih cukup menarik kok untuk liburan. :)

(Pic)

Kami tidak berlama - lama di sini, selain karena kami nggak nyebur dan cuma berkeliling pulau yang memakan waktu kurang dari setengah jam, kami juga malas kalau harus membayar mahal untuk sekedar buang air kecil. Ya, di sini kami harus membeli air tawar dengan harga yang cukup mahal: lima ribu rupiah untuk satu dirigen kecil.

Karena masih banyak waktu luang, kami mencari objek wisata lain. Dan salah satu teman kami (yang kebetulan baru saja penempatan kerja di Bontang) bilang kalau ada satu tempat lagi yang disebut Lembah Hijau. Karena capek berekspektasi dan nggak punya tujuan lain, akhirnya kami serombongan sepakat menuju ke tempat itu, entah bagaimana wujud tempatnya, yang penting ada tujuan lain. Hahaha!

Dengan menyewa angkot (dua ratus ribu PP dan pak sopir mau nungguin) kami menuju ke sana. Jauh juga ternyata. Dan pemandangan selama menuju ke Lembah Hijau benar - benar menyedihkan. Pembakaran lahan sedang banyak terjadi sepanjang jalan. Entah ini mmenag musim berladang atau musim membinasakan hutan (agak ngeri gue nulisnya) tapi manusia harusnya nggak perlu melakukan ini, se-kaya-apapun hutan Indonesia. Gue bukan sok suci, gue pun belum sepenuhnya menghargai alam tapi di bumi Kalimantan ini manusia - manusianya udah kelewatan banget mengekploitasi alam. Yang batu akik lah, yang batu bara lah, yang hutan lah, apa - apaan sih mereka?!

Oke, gue nggak marah - marah lagi.

Kita lanjut ke Lembah Hijau. Memang beneran lembah dan beneran hijau. Tapi di sini kami melihat hamparan taman bermain yang sepiiiiiiiiiiiiii bangeeeeeeeeet. (Buset, gue lebay banget nulisnya) Saking sepinya, gue sampe nanya ke mbak - mbak penjaga tiket di pintu masuk: Mbak, ini masih buka atau sudah tutup ya, kok sepi?
Dan si mbak itu cuma senyum sambil ngomong: Tadi ada tiga ratus orang yang ke sini, sekarang sudah sepi, kan sudah sore. (Dan gue melirik jam tangan masih pukul dua siang).

Gue nggak mau mempermasalahkan ini sepi atau ramai, yang jelas miris banget melihat objek wisata satu ini. Banyak wahana yang tutup di weekend pukul dua siang hari. Di sini sebenarnya cukup lengkap wahananya. Ada sepeda air, saung pemancingan (yang sebenarnya bisa dipakai piknik juga), ada waterboom dan beberapa kolam renang (yang pintu masuknya terkunci) dan arena bermain seperti Taman Teletubbies dan Arena Kurcaci (yang astaga....gue bingung harus menyebutnya kebun yang terbengkalai atau tempat syuting film horror).

Kami menyusuri area Lembah Hijau. Gue membayangkan kalau tempat ini dikelola dengan baik, pasti akan menarik banyak pengunjung. Hanya saja, tidak hanya areanya yang tidak terawat tapi hewan - hewan yang "dipenjara" di sana. Gue kasihan melihat mereka, entah kenapa.

Semoga saja, pemandangan yang gue lihat ini semata - mata karena ini sudah sore dan sudah mau tutup (gue masih berharap mbak penjaga tiket masuk nggak berbohong. Suer!)

Kami hanya foto - foto narsis aja di sini dan kemudian pergi. Bukan kembali ke hotel melainkan ke tempat salah satu teman kami. Ya, malam harinya kami langsung menuju Balikpapan jadi kami tidak booking kamar hotel lagi. Selanjutnya kami pun bingung mau kemana, hahaha!

Ada usulan, kami makan malam di sebuah area PKL lain yang lebih ramai, namanya Koperasi Pupuk Kaltim. Dan wow, this is the most interesting place while I'm here! Makanannya lengkap, murah dan rame! Haha! Kami kalap. Sembilan orang makan dengan berbagai menu. Ikan bakar, sate, gudeg, batagor, siomay, sampe takoyaki pun ludes tanpa sisa dalam waktu singkat!
Pukul setengah sebelas malam, mobil yang kami sewa untuk berangkat sudah siap mengantar kami kembali. Bukan ke Samarinda tapi langsung ke Balikpapan. Bukan sebuah perjalanan malam yang singkat, tentu. Kami tiba di Balikpapan keesokan harinya, pukul enam pagi jadi kami tidur dalam perjalanan. Tentu saja si sopir berhenti beberapa kali di warung - warung pinggir jalan sekedar untuk minum kopi agar tidak mengantuk.

Sebuah cerita dari perjalanan singkat, melelahkan, tapi tetap ada makna dan cerita di dalamnya.


Sekian kisah gue. And I'm getting excited about my next journey. Guess where it is! :))

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BACKPACKER ABSURD TO PULAU NUNUKAN (INDONESIA) - TAWAU (MALAYSIA)

BACKPACKER ABSURD INDONESIA – MALAYSIA



Hi!
Setelah hibernasi gara – gara kerjaan kantor yang amit – amit banyaknya, kali ini gue bakal berbagi perjalanan lagi. Kali ini tujuannya memang luar negeri, tapi gue bakal lebih membahas sebagai perjalanan lintas batas.
OK, here we are!

Awalnya gue nggak merencanakan perjalanan semacam ini. Tujuan utama gue dan sohib gue adalah Kota Kinablu, Malaysia. Tapi ke-songong­-an kami berbuah penyesalan.

Perjalanan kami mulai selepas menjalankan urusan pekerjaan di Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Kami berniat menaiki kapal yang langsung menuju Tawau. Namun sayangnya kapal itu hanya berangkat di hari – hari tertentu saja. Rute Tarakan menuju Tawau hanya dibuka setiap senin – rabu – jumat. Sedangkan rute kembalinya adalah selasa – kamis – sabtu. Alhasil, kami memilih jalan lain. Menurut keterangan seorang teman, kami bias masuk Negara Malaysia melalui perbatasan, yang dikenal sebagai Sei Nyamuk (masih masuk dalam wilayah Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara).

Entah kenapa kami percaya begitu saja dengan informasi itu. Meluncurlah kami ke Sei Nyamuk pukul setengah sepuluh pagi. Karena cuaca yang buruk dan gelombang besar, kapal tidak berlabuh di dermaga biasanya. Tapi kesialan sepertinya mulai menempel pada kami pagi itu. Kami salah naik kapal. Dan kami baru sadar setelah mendaratkan kaki di Pulau Nunukan. Yak, kami salah pulau.
Setelah bengong dan menertawakan kebodohan, kami dibantu penduduk untuk menemukan cara menuju Sei Nyamuk. Menyeberang dengan menggunakan speedboat kecil yang membuat nyawa terancam akhirnya menyelamatkan kami. Kami pun menuju pelabuhan kecil Sei Nyamuk menggunakan jasa angkot (angkotnya mobil semacam Avanza gitu deh). Tapi si sopir menyarankan untuk lewat perbatasan lain, namanya “Haji Kuning”.

Pelabuhan Sebatik

Entah itu nama daerah apa, karena kami harus segera naik pesawat menuju Kinabalu (kami sudah memesan tiket PP) kami meng-iya-kan saja.

Ternyata yang dimaksud “Haji Kuning” adalah perbatasan Indonesia – Malaysia yang dijaga para petugas perbatasan. Dan, aksesnya melalui sungai kecil yang amit – amit ngerinya. (Suer, ada biawak yang gedenya kayak komodo di tepi sungai itu! Dan akhirnya kami tahu kalau itu adalah tansportasi barang Indonesia – Malaysia). Kami dengan polosnya naik perahu kecil. Di tengah jalan motorisnya Tanya: passport kalian sudah di cap?

Perlintasan bernama "Haji Kuning"

Kami bengong. Barulah gue sadar kalo gue belum mengantongi ijin resmi dari imigrasi. Gue langsung patah hati. Tanpa ijin resmi, kami cuma bakal tertahan di imigrasi dan balik pulang. Oke, kami nyerah. Kami putuskan buat balik ke Pulau Nunukan. Untung, ada sohib kami yang dengan sangat baik hati memberikan penginapan gratis. Tapi rasa nyesel dan nyesek itu nggak bias hilang. Bukan cuma rugi waktu, tapi uang tiket PP Tawau- Kinabalu pun hangus (walaupun  harganya nggak seberapa karena AirA*ia lagi promo waktu itu). Yasudah, kami memutuskan untuk menghibur diri tanpa tau tujuan selanjutnya.

Sohib kami menyerankan untuk tetap pergi ke Tawau lewat pelabuhan resmi Kabupaten Nunukan keesokan harinya. Ternyata, perbatasan lain sudah tidak melayani cap imigrasi. Jadi meskipun kami kemarin berhasil sampai di Sei Nyamuk, tetap tidak akan bisa menyeberang ke Tawau, Malaysia karena imigrasi tidak bisa lagi memberikan ijin. Sekarang, semua jalur menuju perbatasan dikendalikan oleh pelabuhan Nunukan – Tawau (hanya di Pulau Nunukan, bukan Sebatik) dan Tarakan – Tawau.

Hanya berbekal rasa pasrah, kami menuju pelabuhan dan memesan tiket jurusan Tawau. Jika memesan langsung PP, lebih murah harganya, katanya. Kami hanya menghabiskan 300ribu PP. Tapi….keadaan di pelabuhan yang membuat kami terpana. Kapal menuju Tawau hanya berangkat setiap pukul 08.30 dan 09.00 setiap harinya. Ya, dengan jadwal seperti itu bisa dipastikan penumpangnya menggila. Tapi ini benar – benar di luar ekspektasi kami. Tiba – tiba gue flashback ke pemandangan kereta ekonomi jurusan Jakarta – Surabaya di tahun 2008an. Miris. Terlihat sekali kelas para penumpangnya. Di bagian imigrasi pelabuhan lah yang paling rusuh. Nggak hanya saling dorong dan saling maki, tapi aksi para calo juga bikin gerah. Tapi kami masih beruntung. Ada kru kapal yang membantu kami “menge-cap” passport di imigrasi. Ini keberuntungan pertama kami. Keberuntungan kedua adalah: kami nggak ketinggalan kapal karena semenit aja kami telat, kapal udah nggak bisa dijangkau dengan lompatan kaki gue. Fiuh.

Di dalam kapal yang pengap, kami udah nggak kebagian tempat duduk. Beruntung, kru kapal teriak – teriak nyuruh semua penumpang ambil posisi duduk. Terjadilah adegan saling geser. Keberuntungan ketiga: kami kebagian tempat duduk. Gue sempat mengabadikan momen di dalam kapal. Silahkan menilai sendiri.


Suasana di imigrasi Kabupaten Nunukan


Suasana dalam kapal. Cuma ini yang sanggup gue abadikan......

Setelah dua jam lebih, akhirnya kami mendarat. Kembali kami dihadapkan pada suasana berdesak – desakan dan penuh makian. Gue sempat berpikir, bagaimana negara lain bisa menghargai kita kalau 
tindakan kita sendiri tidak berperikemanusiaan seperti ini?

Ah sudahlah, terlalu pelik kalau blog gue ngebahas permasalahan negara ini. Yang jelas, satu jam kemudian kami baru bisa menginjakkan kaki di Tawau setelah melewati imigrasi yang super ketat (gue nggak kebayang kalau kemaren gue maksa menerobos perbatasan tanpa cap imigrasi).
Begitu sampai, tempat pertama yang kami tuju adalah rumah makan. Laper bro! Kami menyusuri jalanan dan tibalah di salah satu rumah makan. Walaupun tidak seberapa enak di mulut, tapi karena lapar dan nggak ada pilihan rumah makan lain yang lebih dekat, kami makan dengan lahap. Lalu barulah kami berpikir kemana tujuan kami selanjutnya. Gue baca – baca blog, semua reviewnya tentang Kinabalu. Ya, memang iconic banget kan tempat itu. Tapi masalahnya kami sudah batal ke sana. Secara nggak sengaja gue kepikiran Sipadan – Ligitan, dua pulau yang katanya eksotik tapi udah bukan punya Indonesia lagi. Segera gue cari informasinya tapi tidak membuahkan hasil. Akhirnya gue memutuskan untuk bertanya pada sumber paling akurat: manusia.

Setelah kami mengumpulkan informasi, ,kami menuju masjid raya Tawau untuk sholat sekaligus merebahkan punggung sebentar. Tapi sepertinya lagi – lagi kami kurang beruntung. Informasi tentang dimana masjid itu berada tidak akurat. Kami sudah berjalan jauh tapi tetap tidak menemukan si masjid. Untungnya ada ibu – ibu penjual mukena yang menunjukkan kami angkutan mana yang bisa menjangkau masjid itu dengan cepat dan murah (angkutan disana bernama “BAS”). Ternyata memang tidak jauh. Si masjid yang gagah sudah kami temukan.


Masjidnya Gede, Adem, Sepi 

Puas melepas lelah, kami buru – buru pergi ke terminal mencari bas tujuan Semporna (tempat penyeberangan ke SIpadan – Ligitan dan beberapa pulau eksotis lain). Lagi – lagi, untuk kesekian kalinya kami tidak beruntung. Ternyata susah sekali menemukan terminal yang dimaksud. Kami pun akhirnya menyerah dan memutuskan untuk membeli suvenir khas Tawau terlebih dahulu di Pasar Gantung. Tapi hal yang sama terjadi, kami tidak menemukan dimana itu Pasar Gantung.
Tapi di tengah keputusaan kami, muncullah sebuah toko grosir yang menjual bermacam oleh – oleh dengan harga miring. Kami pun kalap. Gantungan kunci berbagai jenis dengan harga 10 RYM per 7 buah dan beberapa aksesoris lain berhasil masuk ke tas kami. Setidaknya, kami masih punya oleh – oleh. Haha! Dan keberuntungan mulai datang lagi. Langkah kami tiba – tiba dituntun ke sebuah parkiran yang ternyata terhubung dengan Terminal Sabindo, tempat menemukan Bas menuju Semporna. Akhirnya, akhirnya, dan akhirnya, kami punya tujuan: SEMPORNA RESORT!


Bas nya bagus, bersih, nyaman

Dua jam perjalanan nggak menyiksa karena bas yang kami tumpangi cukup nyaman dan sopirnya pun tahu kalau kami tourist sehingga mengantarkan kami langsung menuju area penginapan. Karena hari sudah malam, kami memutukan untuk segera mencari tempat untuk tidur. Beruntung, pak sopir mendaratkan kami di Borneo Backpacker, hostel yang menyediakan dormintory murah buat para backapcker macam kami.

Karena gue pernah punya pengalaman buruk di dormintory (baca pengalaman gue ke luar negeri sebelum ini) gue jadi agak ragu apakah dormintory ini nyaman, karena kondisi sohib gue udah lelah banget (dia sama sekali belum pernah ke luar negeri, nggak mau dia merasa makin nggak nyaman dengan dormintory yang buruk). Harga yang ditawarkan 27RYM. Cukup terjangkau, tapi gue mencoba buat melihat terlebih dulu keadaan kamarnya.
HEAVEN! Ternyata dormin nya rapi, bersih, ber AC pula!


Ini hostel loh...



Begini dalem dormin yang harganya 27 RYM


Nah ini lorongnya...


Kamar mandinya bersih, hehe...

Dan kalau ngeliat barang – barang yang udah ada di sana sih, isinya cewek semua. Yosh! Gue terima kamar ini!
Setelah meletkan barang, kami memutuskan buat jalan –  jalan sambil cari makan malam. Ketemulah kami dengan Semporna Dive Inn Resort, resort yang dibangun di tepi laut. Pengunjung dipersilahkan melalui jalanannya tapi dilarang memasuki area resort jika bukan bertujuan untuk menginap.
Secara umum sih, ini sebenarnya nggak kalah dengan Pulau Derawan milik Indonesia. Tapi gue akui, pengelolaannya jauh lebih baik. Terbukti, orang yang “menghuni” sekeliling gue waktu itu semuanya BULE! (termasuk gue kali ya, kan gue juga bukan orang lokal. Haha!) Gue sih bermimpi aja, pariwisata Indonesia bisa dikelola sebaik ini. Lumayan kan, devisa!

Semporna Dive Inn pas malam hari

Puas menyusuri jalanan resort sambil foto – foto, kami pun makan di salah satu restoran. Niatnya sih kami cari menu yang aman, biar nggak aneh rasanya. Tapi……justru rasanya malah aneh. Judul menunya sih Mie Goreng Telur tapi begini wujudnya dan rasanya pekat banget. Kurang cocok dengan lidah gue sih.


Sebut saja ini mie...

Tapi yasudah, berhubung laper banget dan mata udah ngantuk, akhirnya tandas juga mie “entahlah” itu. Kami pun kembali ke dormintory. Benar dugaan kami, kamar ini isinya cewek semua. Dan kami pun langsung terlibat dalam pembicaraan bahsa asing. Mengandalkan kemampuan bahasa gue yang “ah sudahlah” ini, gue berhasil punya beberapa teman baru sesama backpacker. Ini hal yang paling gue suka dari sebuah perjalanan. Mengenal manusia – manusia baru.


Pagi hari kami nggak bisa ketemu sunrise. Ya, lagi – lagi hujan. Terpaksa harus menikmati sarapan dulu. Di lounge hostel kami sarapan bareng para BULE yang udah siap – siap diving. Ya, memang Semporna adalah tempat yang terkenal dengan Diving Spot nya. Hostel ini juga menawarkan Diving and Snorkling menuju beberapa pulau eksotis dengan harga yang nggak mahal. Kami sempattergoda, hanya saja nanti siang kami udah harus balik ke Tawau. Butuh minimal two days trip untuk bisa menikmati pulau – pulau itu. Akhirnya, lagi – lagi kami cuma bisa gigit jari.


Ini list harga paket diving yang sempat gue foto 

Kami memutuskan kembali ke Dive Inn Resort yang kami kunjungi semalam. Masih sepi. Cocok banget buat fotografi. Ternyata pemandangan siang juga nggak kalah bagus. Airnya lumayan jernih (meskipun lagi – lagi gue masih suka sama derawan).


Semporna Dive Inn pas siang hari, sepi kalau masih pagi


Ini resort di atas lautnya

Dan pukul setengah 10 kami check out dari hostel. Pemilik hostel bersedia memberikan kami tumpangan menuju terminal (yang sebenarnya nggak jauh sih dari hostelnya, tepatnya di tengah kota Semporna, dekat dengan sebuah patung Merelyn besar). Kecewanya, bas di sana menunggu penumpang penuh. Alhasil pukul sebelas kami baru berangkat dan sampai di Tawau pukul setengah satu.

Ada lagi kesialan yang menghampiri. Menurut instruksi salah satu teman, kapal terakhir berangkat pukul empat dan kami udah harus antri di pelabuhan pukul dua. Ternyata dia lupa bilang kalau yang dimaksud “antri” di sini adalah bukan di imigrasi tapi antri di agen tiket kapal untuk dicatat ulang.
Fiuh. Untungnya kami merasakan keganjilan sebelum mengantri panjang di imigrasi. Jadi, sebelum antri di imigrasi, tiket kita harus dicatat dulu di agen kapal (tergantung kita naik kapal yang apa, agennya semua berjajar di depan pelabuhan) barulah boleh mengantri di imigrasi, itupun kalau kapal yang akan kita naiki sudah tiba di pelabuhan. Lagi, rusuh! Dan ada prioritas untuk pemegang passport warna merah (pemegang passsport milik negara sebelah). Di sinilah rasa lelah gue bertumpuk. Selain antrian rusuh, kapal juga terlambat datang. Bayangan pemandangan dan resort yang keren di Semporna tadi menguap begitu saja. Kapal kami baru datang sekitar jam lima sore. Bayangkan aja gimana rasanya berdiri dengan badan capek di tengah kerumunan padat dan bau yang bercampur kayak gitu. Fail banget lah.

Kami pun naik kapal, untungnya kali ini dapet tempat duduk yang lumayan enak (walaupun masih kayak naek kereta api ekonomi dengan penumpang berjubel dan bau – bauan yang tercampur) dan tiba di nunukan sekitar pukul delapan malam. Ternyata, setelah diselidiki, harusnya kami bisa naik kapal sebelumnya (asal kapalnya berasal dari agen yang sama. Satu agen melayani lebih dari satu kapal) karena tiket kami itu tanpa tanggal dan tanpa jam.


Pulau Nunukan (sebagian kecil)

Well, sudah selesai perjalanan panjang kami. Kali ini nggak ada yang terlalu spesial. Tapi pemandangan di plabuhan Nunukan – Tawau banyak memberikan pelajaran. Ya, kehidupan di perbatasan memang keras dan miris.

Kami pun melanjutkan sisa malam dan keesokan paginya mengeksplore pulau Nunukan, sebelum kembali ke Kota Tarakan pukul 08.30. Negara sendiri lebih ramah dan lebih menyenangkan. Itulah kesimpulan gue.




Sampai jumpa di postingan berikutnya!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BACKPACKER ABSURD TO MAKASSAR

(For translate in English, just send me your email address)



Baru kali ini, gue sekali nge-trip tapi posting dua kali. Hehe. Gue mau lanjut mengisahkan ke-absurd-an di hari ketiga trip gue. Kali ini, tentang Kota Makassar dan perjuangan kami menaklukannya.

Kami tiba di Makassar pukul dua belas siang dalam keadaan sama sekali tidak siap. Bagaimana tidak, sejak awal kami terpaku pada kegiatan bersama mobil sewaan. Dan ternyata kami harus merelakan mobil itu pergi setelah kami tiba di kota Makassar, tepatnya setelah kami menyewa penginapan.

Tanpa petunjuk, tanpa kenalan, dan tanpa persiapan sama sekali, kami nekat menerapkan ilmu “penduduk adalah peta paling akurat”. Itu sih mau nggak mau kami lakukan karena mau browsing pun nggak cukup dalam waktu semalam karena handphone yang bisa dipakai internetan cuma sebuah (punya gue rusak kena air laut dan punya temen gue yang satunya nggak bisa di-charge) meskipun koneksi internet di Bira kenceng banget. Ya, kami cuma sanggup mencari sebatas penginapan murah.
Sesampainya di Makassar, kami langung menuju penginapan karena nggak mungkin bawa backpack kemana – mana. Kami menginap di wisma Bawangkaraeng dengan tarif amat sangat murah yaitu 150ribu rupiah per malam. Lokasinya cukup strategis, dilewati angkot (yang disebut pete – pete) dan ramai. Jadi pulang malam – malam pun menurut kami masih aman. Hanya saja, ya, fasilitasnya ya sekelas backpacker lah. Jangan berharap lebih. Bahkan kami sempat dihebohkan dengan adegan pintu rusak. Haha. Sayangnya gue nggak sempat ambil foto wisma ini. Kelupaan. Cuma dapat foto dari jendela kamar aja.


Pemandangan dari atap Wisma

Setelah istirahat 15 menit, kami melanjutkan perjalanan yang hampir berantakan. Sisa tenaga kami hanya cukup ke dua destinasi: Rotterdam dan Losari. Bonusnya, kami mau nge-mall di Panakkukang yang katanya mall terbesar di Makassar (karena hidup kami di belantara hutan, mall adalah destinasi yang wajib dikunjungi meskipun nggak beli apa – apa). Cuaca hari itu mendung, sesekali gerimis. Dan di sinilah kami berjuang untuk survive bersama para sopir angkot.

Jujur, kami agak kesulitan menerjemahkan bahasa lokal penduduk. Itulah yang menjadikan kami berkali – kali harus memastikan angkot yang kami naiki benar. Untuk menuju Mall Panakkukang (masyarakat biasa menyebutnya dengan “MP”), dari Wisma Bawangkaraeng harus dua kali naik angkot dengan waktu tempuh sekitar satu jam. Setelah sampai di Panakkukang (ceritanya ini gue menyempatkan diri servis handphone), kami menuju Rotterdam. Rutenya jauh banget. Dari samping Mall Panakkukang kami harus jalan cari angkot, kalau nggak salah kodenya. Lalu kami oper menuju kawasan yang disebut dengan “Cendrawasih” (entah itu nama kampung atau nama jalan). Kira – kira butuh waktu satu jam lebih, kami baru sampai di Rotterdam.



Benteng Rotterdam dan spot yang difoto sejuta umat


Dalamnya benteng Rotterdam


Suasana Rotterdam sedang ramai. Tapi kami agak menyesal karena museum – museum sudah ditutup gara – gara kami terlalu sore (sekitar pukul empat kami baru sampai di sana). Benteng ini masih cukup alami tapi sayangnya ada tangan – tangan manusia yang sengaja merusaknya.



Tangan siapa hayo yang ngerusak ini?

Dari  Rotterdam kami menuju pusat oleh – oleh yang nggak jauh dari sana. Ada kawasan yang dinamai Sambo Opu, cukup jalan kaki saja dari Rotterdam. Dengan mengucap bismillah, kami memilih salah satu toko yang bernama Toko Ujung sebagai tempat membeli oleh – oleh. Ternyata pilihan kami cukup tepat. Harganya bersaing dan packaging nya bagus. Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Losari, juga dengan jalan kaki.

Gue dulu sempat mendengar “kabar angin” kalau Pantai Losari itu jelek. Tentunya, pas gue ke sana, pemikiran itu masih ada. Dan ternyata benar. Pantai Losari memang nggak seberapa bagus. Tapiii….. SUNSETNYA KEREN! GOKIL! PARAH! (Losari’s sunset is one of the great sunset I ever seen. IMO.)

Kami cuma duduk – duduk di pinggiran jalan yang dipadati dengan tukang jual pisang epe dan jagung bakar selama sunset tapi mata gue nggak sedikitpun berpaling dari maahari yang makin lama makin merah. Subhanallah, gue berasa benar – benar nggak pengen berkedip! Karena gue #sunsethunter garis keras, pemandangan ini adalah best scene sepanjang perjalanan gue yang penuh liku – liku di trip kali ini!




Sunset


Sunset lagi


Lagi - lagi sunset lagi


Sunset dan tongkrongan tepian


Teman gue sempat beli jagung bakar. Dan kami kaget, ternyata jagung bakar di sini udah diiris jadi nggak perlu digigit sama bonggolnya kayak yang biasa gue lihat. Hehe. Sunset di Losari memang menakjubkan. Gue benar – benar speechless, nggak bisa mengungkapkan lewat tulisan. (Lebay, sih, hehe.)

Tujuan terakhir kami adalah balik lagi ke Mall Panakkukang. Dari Losari kami harus naik angkot menuju kawasan “Central” lalu lanjut naik angkot tujuan MP. Perjalanan malam kami ditemani gerhana bulan yang jelas banget bisa kami lihat di langit (sayangnya kamera gue nggak menjangkau penampakannya). Tapi malam itu perjalanan terasa panjang banget, malam minggu kan ramai kendaraan jadi kami hampir menyerah di angkot. Hehe.

Setelah puas makan di MP, kami pun balik ke penginapan. Ternyata angkot sudah tidak ada yang menuju Bawangkaraeng jam segitu, Untung saja, ada rombongan mbak – mbak yang minta antar abang angkot ke suatu tempat dan kami akhirnya barengan sama mereka. Hehe. Syukurlah kami bisa sampai penginapan dengan cepat dan selamat tanpa oper – oper lagi. Tuhan selalu bersama para backpacker yang beriman. Hahaha.

Perjalanan kami di Makassar pun berakhir. Keesokan paginya, kami check-out pukul delapan. Karena katanya menuju bandara bisa naik DAMRI, kami mencoba berjuang menuju halte DAMRI terdekat yang menurut info berada di sekitar RRI. Nah, pas kami naik angkot, abang angkotnya bilang kalau di sekitar RRI nggak ada halte DAMRI. Habis sudah semangat kami dan bodohnya, kami mengiyakan tawaran supir angkot untuk mengantar kami ke tempat terdekat dari bandara yang bisa dijangkau Bus Penjemput Penumpang. Kami pun percaya saja, berhubung nggak sempat browsing lagi dan kondisi badan udah capek. Tapi, lagi – lagi kami dikecewakan angkot. Kami harus oper ke angkot lain entah karena alasan apa dari sang supir. Untungnya, angkot yang terakhir agak sedikit pengertian. Dengan membayar agak lebih banyak dari tarif normal, kami diantar sampai pintu bandara.

Tapi setelah gue pikir – pikir, nggak jauh dari lokasi oper angkot yang terakhir, sebenarnya kami langsung bisa ketemu sama Bus Penjemput Penumpang yang sepertinya gratis itu. Ya sudah, kalau duit harus keluar, mau gimana lagi. Sebanyak 50ribu kami keluarkan untuk ongkos angkot dari Balangkaraegn sampai ke bandara. Kalau dipikir – pikir sih, sebaiknya dari awal kami naik taksi aja. Soalnya, pas kami hitung – hitung, waktu perjalanan kami ternyata lebih dari dua setengah jam. ABSURD! Hahaha! Rasanya pas gue keluar dari angkot (dengan banyak pasang mata melihat ke arah kami) gue pengen teriak: KAMI ADALAH BACKPACKER ABSURD YANG MENYEDIHKAN TAPI TETAP BISA MENIKMATI HIDUP! Ya-Ha!

Begitulah perjalanan kami yang mahal, berliku – liku dan melelahkan. Tapi yang namanya perjalanan, nggak mungkin lancar – lancar aja, kan? Trip sebelumnya pun diwarnai kisah – kisah absurd yang mungkin berguna buat para traveller yang berniat menuju tempat – tempat yang sudah gue kunjungi. Tips selanjutnya dari gue adalah:
1.      Persiapkan selalu rencana cadangan saat travelling.
2.      Kalau memang berniat backpacking beneran, paling tidak kuasai sedikit dari bahasa daerah.
3.      Pelajari rute angkutan.

Sekian perjalanan absurd tapi keren dari gue. Oh iya, satu lagi, pas kami melintasi lautan Sulawesi menuju Kalimantan, gue kembali terpesona sama pemandangan laut di bawah pesawat. KEREN!
Mungkin sekian dulu pestingan gue, semoga berguna buat para pembaca.


Thanks for reading and see ya on the next trip!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BACKPACKER ABSURD TO TANJUNG BIRA

(For translate in English, just send me your email address)


Haloooo! Ketemu lagi sama gue, backpacker absurd.



Ini untuk pertama kalinya gue “sengaja” buat travelling. Maksudnya, gue backpackeran di high season plus ngeluarin ongkos yang mahal. Kalo lo tanya kenapa gue kali ini antimainstream, jawabannya adalah gue nggak tahu. Pokoknya gue tiba – tiba pengen merasakan sensasi travelling di “musim liburan”. Dan, tujuan gue adalah pulau sebelah: Sulawesi. Makassar adalah destinasi yang entah kenapa gue pilih secara random.

Dan kali ini juga, gue dengan sengaja menentang “asas backpacker” yang biasa gue lakukan. Hasilnya? Gue sempat kena masalah. Haha. Gue sengaja booking mobil dan hotel sebelum berangkat. Pertimbangan gue, ntar bakalan kehabisan hotel dan tarif mobil bakalan mahal kalau semua dilakukan di hari-H. Ya, begitulah, gue mengantisipasi segalanya, soalnya gue juga bawa dua orang teman, nggak kayak biasanya.

So, trip absurd kali ini lain dari yang sebelum – sebelumnya. Enak kah? Lancar kah? Kecewa kah? Buat gue, travelling itu semuanya enak. Karena menikmati bumi Tuhan itu nggak ada yang nggak enak. Hehe. Dan inilah perjalanan absurd gue di destinasi pertama.

Diawali ketika si singa mendarat dengan delay seperti biasa, Makassar hujan deras. Untungnya, driver gue udah standby walaupun kami sempat saling mencari di bandara yang sibukya amit – amit. Untuk yang pertama ini, prediksi gue bener. Gue nggak tahu gimana kalau gue masih harus cari mobil di suasana semacam itu dan di cuaca yang nggak mendukung. Perjalanan gue untuk pertama kalinya di pulau ini pun dimulai. Kami langsung menuju Tanjung Bira. Untungnya (lagi) kami udah booking penginapan, soalnya kami sampai di sana hampir tengah malam. Ya, gara – gara delay itu tadi. Tapi nggak masalah. Ternyata penginapannya di luar ekspektasi gue. Kami menginap di Nusa Bira Indah dengan harga 250ribu per malamnya. Gue pikir, lokasi yang agak jauh dari pantai bakal bikin kesan “pantai” di penginapan ini hilang. Ternyata enggak. Bentuk penginapannya mirip cottage gitu, ini pertama kalinya gue merasakan menginap seperti di satu rumah sendiri. Bentuknya rumah panggung, luas, bersih, jauh lebih enak lah dari semua penginapan yang pernah gue singgahi, hehe. Selain itu, di kamar ternyata nggak ada televisi. Itu menyenangkan. Kenapa? Karena liburan itu nggak perlu tontonan.


Penginapan kami. Kayak rumah, hehe.




Ini jalanannya...


Kamar yang masih belum beratakan



Pintu ke kamar mandi, ada jemuran buat baju juga di dalam

Pagi harinya, seperti biasa gue berburu sunrise. Gue jalan – jalan di sekitar penginapan. Ternyata, penginapan di sini banyak banget. Biasanya, di perjalanan sebelumnya, gue berusaha memberi info penginapan – penginapan. Tapi kali ini gue kebingungan, kalo gue fotoin semua, bisa – bisa blog gue ini kayak iklan berjalan. Haha! Cukup beberapa aja ya.
           


Penginapan kami nih.


Penginapan kami (lagi)



Jalanan di depan penginapan


Bira VIew In, penginapan tepat di inggir pantai



Jalanan menuju Amatoa Resort yang terkenal

Dan si sunrise pagi itu masih malu – malu, ditambah gerimis sisa hujan semalam yang masih turun, menghasilkan gambar yang sendu, kayak gini.



Sunrise yang sederhana nan manis



Late sunrise

Lalu, gue dan temen – temen memutuskan buat main air. Pantai masih sepi banget pagi itu. Gue mulai berpikir, apa iya ini high season? Kok gue merasa keramaiannya nggak tampak. Dan meskipun gue mikir begitu, gue tetap menikmati pantai yang pasirnya HALUS BANGET! Gue benar – benar takjub, kok bisa pasir pantai sehalus dan seputih itu. Pantai – pantai sebelumnya juga berpasir menakjubkan, tapi terus terang, Pantai Tanjung Bira juaranya. Haluuuuuuuus! Selain itu, dari tepi pantai juga bisa dilihat gradasi air laut tiga warna. Biasanya gue harus “berlayar” dulu buat ketemu pemandangan kayak gitu. Tapi di sini enggak. Beneran keliatan gradasinya dari tepi pantai.


Gradasi Air Laut





Pantai di pagi yang tenang

Puas di pantai, kami mau snorkling. Awalnya ada bapak – bapak yang menawarkan sewa speedboat harga 600ribu lengkap dengan peralatan snorkling. Tapi kami menolak dengan alasan bapak itu ngikutin kami terus sejak awal kami sampai di pantai. A little bit annoying aja sih. Eh, tapi ujung – ujungnya kami juga menyewa dengan harga yang nggak jauh beda. Sebuah kelotok dihargai 550ribu lengkap dengan alat snorkling. Awalnya, gue sempat menyesal karena salah kalkulasi. Tapi setelah dihibur sama dua temen gue, jadinya malah seneng. Kalau speedboat itu kenceng jalannya, sementara kelotok pelan – pelan, lebih luas pula. Kami memang cuma bertiga, tapi kalau menyewa kelotok yang notabene gede banget, jadinya berasa semacam orang kaya. Soalnya kebanyakan kan yang nyewa speedboat ramai – ramai. Hahaha! Pembenaran aja sih, sebenarnya juga sama aja. Mau kelotok atau speedboat, sama – sama menyenangkan.




Ini nih, kelotok.

Tujuan pertama kami ke Pulau Liukang. Di sini jarak antar pulau nggak sejauh di Derawan waktu itu jadi baru sebentar kami naik kelotok, eh udah sampai. Sebelum ke Liukang, kami snorkling dulu. Terumbu karang di sini nggak kalah sama Derawan. Tapi ikan – ikan di sini lebih beragam dan lebih mau “mendekati” manusia. Ombaknya juga ramah. Cuaca mendukung banget lah buat snorkling.



Makasih buat dua rekan seperjalanan yang rela jadi model, hehe.


Dan pas sampai kami baru diberitahu salah satu pemilik warung makan kalau sebaiknya tadi lebih dulu ke Pantai Bara, baru jalurnya ke Liukang dan lanjut ke Pulau Kambing. Tapi ya sudah, toh pantai Bara bisa ditempuh pakai mobil. Lagipula, bangku – bangku panjang di bawah pohon di tepi pantai yang sepi berhasil membuat kami kegirangan.


FOTO BANGKU DI PANTAI


View from my bench....


Nasi goreng super pedas

Dan kami menghabiskan berjam – jam di sini, cuma foto – foto, ngobrol, makan, dan bengong. Menikmati hidup banget! Kebetulan pas lagi sepi, jadi kami bisa puas di sana, hehe. Makanan di sini juga nggak mahal. Kami memilih nasi goreng seharga 25ribu yang menurut gue sih lumayan enak, banyak pula porsinya. Gue benar – benar nggak pengen waktu cepat berakhir deh pas di Liukang kemarin. J




Liukang yang kosong

Karena kami harus melanjutkan perjalanan, dengan berat hati gue mengucapkan salam perpisahan sama bangku favorit gue di sana. Haha. Kami lanjut ke penangkaran penyu. Ada penyu yang ramah, bisa diajak foto. Buat masuk ke sini, kita perlu bayar 10ribu per orang.



Penyunya gede banget



Bayar 10ribu buat ke sini, hehe.


Destinasi selanjutnya adalah Pulau Kambing yang tak berpenghuni tapi berhasil bikin gue merinding. Bukan, ini bukan tentang mistis atau sesuatu yang menakjubkan. Pulau Kambing itu berupa bukit – bukit batu, karang, dan semacamnya yang dikelilingi laut. Gue merinding karena selama ini selalu pengen lihat batu – batu besar gitu (yang gue asumsikan semacam di Belitung, walaupun beda). Dan bahkan gue pun bisa berenang di celah - celah batu – batu gede itu! Astaga! Keren!


 Pulau Kambing


Celah karang yang bikin merinding.....




Setelah puas, kami memutuskan untuk balik ke Bira. Sepanjang perjalanan, gue benar – benar kagum sama si langit, cakrawala dan gradasi laut. Jujur, view siang yang cerah  waktu itu benar – benar instagram-able. Sayangnya, handphone gue kena air laut (yang akhirnya harus diservis) jadi kamera pocket-lah yang akhirnya jadi saksinya. Sebagai #sunsethunter dan #skylover macam gue, sesi pemotretan “mereka” adalah best view di Tanjung Bira.





Langit


Langit (lagi)



Tepat pukul dua tiga puluh, kami sampai lagi di Bira. Dan lagi – lagi, pantainya kosong. Mungkin karena matahari sedang tinggi jadi orang – orang malas ke pantai, atau justru orang – orang sedang menikmati keindahan di spot lain. Yang jelas, itu menguntungkan kami. Air di siang hari yang sepi benar – benar menakjubkan! Jernih sejernih jernihnya! Pasirnya, yang pastinya halus banget, bikin kami betah.





Crystal water...



Cuma kami pemilik pantai ini, hahahahaha.

Setelah main air di pantai, kami segera membersihkan diri di penginapan dan bersiap menuju pantai Bara yang tadi terlewat. Dengan mobil (yang masih) kami sewa, kami menuju Pantai Bara. Yang bikin gue kagum adalah jalanan menuju ke sana, masih banyak pohon – pohon di kiri – kanan jalan. Seandainya kami punya waktu lebih, mungkin kami bisa tracking di sana.





Jalanan yang teduh

Pantai Bara lebih sepi daripada Bira. Tapi bagi gue, semakin sepi, semakin nyaman buat bersantai. Tapi jangan sekali – kali berharap dapat view sunset di sini ya. Hehe. Di Bara ini, gue melihat beberapa backpacker sejati mendirikan camp – camp. Dan gue beroikir: enak kali ya beneran camping di sini. Haha! Sayangnya, pemikiran gue runtuh seketika pas teman gue tanya: mandi sama BABnya dimana? Hahahaha!





Pantai Bara, hampir sunset

Selepas dari Bara, kami kembali ke Bira dan kaget. Ternyata udah ramai banget. Ini mungkin yang disebut dengan “liburan di high season”. Hehe. Tapi meskipun begitu, kami masih punya spot yang sepi, yaitu jalanan menuju Amatoa Resort yang terkenal itu. Spot sunset di sana juga cukup bagus, dan pastinya nggak ramai.




Sunset dari jalanan Amatoa Resort


Pantai Tanjung Bira yang ramai kala sunset


Malam hari, setelah seharian mood gue super bagus, tibalah waktu dimana mental backpacker gue teruji. Pertama, kami lapar dan lima restoran yang kami datangi pelayanannya mengecewakan: LAMA BANGET. Ternyata, sebaiknya kami pesan terlebih dahulu, terus ditinggal jalan – jalan, dan balik beberapa saat (mungkin beberapa jam) setelahnya. Untungnya, sebuah warung Jawa Timur menyelamatkan kami. Nah, kejadian kedua, gue kena masalah. Nggak perlu gue sebutkan karena menyangkut beberapa pihak, tapi cukup gue jadikan pelajaran buat trip gue selanjutnya. Akibat dari masalah yang kedua ini, akhirnya kami memutuskan untuk pagi – pagi balik ke Makassar (dengan berat hati) dan merelakan Tebing Aparalang dan tempat pembuatan perahu Pinisi yang nggak sempat kami kunjungi. Sedih sih, tapi perjalanan setelah ini jauh lebih absurd dan super menyenangkan buat para #sunsetlover macam gue. Sebelum gue lanjut ke tulisan gue tentang seharian di Makassar, ada titipan iklan nih, buat yang mau berencana trip ke Tanjung Bira, bisa menghubungi Daeng di 081340501506.
(Terima kasih buat semua pembaca yang akhirnya membuat blog ini diminati, makasih banget!)

Oh iya, gue mau bagi – bagi beberapa tips penting buat kalian:

  • Kalau berencana pergi backpacker pakai jasa sewa mobil atau travel, pastikan elo punya bukti fisik tentang perjanjian / kesepakatan dengan pihak mereka tentang harga, destinasi, dan sebagainya. Kalau bisa sih buktinya di print DAN disimpan baik – baik.
  • Jangan takut backpackeran di high season. Para wisatawan sepertinya masih pilih – pilih waktu khusus dari 24 waktu yang mereka punya. Pintar – pintar aja cari waktu yang kira – kira bikin destinasi kalian agak sepi. Misalnya, tengah hari bolong di pantai. Hehe.
  • Jangan lupa tanyakan rute – rute perjalanan kalau ada lebih dari satu destinasi. Gue misalnya, sempat salah rute pulau (walaupun akhirnya bisa dikunjungi semua).
  • Persaingan para pedagang, pemilik perahu, pemilik hotel, dan pemilik travl / sewa mobil di tempat wisata yang sudah ramai seperti Tanjung Bira cukup ketat. So, siapkan mental yang kuat dan pandai – pandailah bernegosiasi dengan mereka.
  • Kabarnya, ada pantai di sekitar Bira yang masih perawan, namanya Pantai Timur. Jangan lupa dikunjungi dan tulis di blog juga tentang keadaan di sana, oke! J




Sekian dulu postingan tentang Tanjung Bira. Sampai bertemu di keabsurdan gue di Makassar on the next post. See ya!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS