Oleh : INDAH "chy". Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label Borneo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Borneo. Tampilkan semua postingan

Backpacker Absurd to Pantai Beras Basah, Bontang

Hi!

Gue menyempatkan diri menulis review perjalanan sangat singkat gue ke Bontang, salah satu kota di Kalimantan Timur.
Sebenernya gue berekspektasi bisa punya banyak cerita di tempat ini tapi mungkin Tuhan berkehendak lain, hahaha!
(Ini adalah tulisan dengan waktu mengendap terlama sebagai sebuah draft. Gue terlalu sibuk mengurus proyek baru.)

Yak, langsung aja gue review perjalanan singkat gue. Check this out!

Gue kembali menyempatkan liburan selepas tugas dinas. Ya, curi - curi waktu. Kali ini sengaja tanpa persiapan apa - apa. Pagi hari, gue baru cari - cari nomor travel yang bisa ngebawa gue dan temen - temen gue dari Samarinda menuju Bontang. Nggak gampang, karena kami cari yang harganya sesuai kantong. Setelah tanya sana sini, kami dapat mobil dengan harga seratus ribu per kepala. Karena waktu terbatas, gue sepakat pakai jasa mobil ini. Soalnya bapak travel ini juga menyediakan jasa travel buat kami balik dari Bontang ke Balikpapan nantinya dengan harga yang murah pake banget. (Lagi - lagi, travelling hemat adalah prioritas.)

Untungnya, recommended travel agent banget si bapak ini. On time! Tepat pukul satu kami meluncur ke Bontang, tanpa tau mau menuju kemana, hahaha! Tapi yang bikin kami terkejut, buset, kenceng banget!!! Perjalanan kami tempuh cuma dua jam (yang normalnya tiga - empat jam!). Gue terus terang nggak seberapa ngerti gimana cara dia mengemudi karena dalam perjalanan gue tidur pules banget (malam harinya gue begadang nonton sampai pagi, hehe.)
Setibanya di pintu masuk Kota Bontang, pak sopir baru tanya: Kita mau diantar kemana kah?
Gue cuma ketawa miris dan menjawab: Hotel pak, dekat beras basah. Dan si sopir kaget. Dia nggak percaya kalau gue langsung menuju tempat yang dinamakan beras basah. Ternyata si sopir bilang kalau jam siang - siang begini sudah tidak ada kapal ke beras basah. Karena gue berpikir Pulau Beras Basah (yang katanya little Maldieves) itu sejenis Kakaban, Maratua atau Sangalaki (Derawan) ya gue langsung berpikiran singgah di hotel lain yang ada di kota Bontang, yang paling dekat dengan pelabuhan. Sayangnya, pak supir tidak tahu menahu tentang hotel. Gue menyerah, akhirnya gue pun browsing dan menemukan satu hotel bernama Hotel Marina, letaknya di sebelah pasar Rawa Indah.

Sedikit review untuk hotel ini, sekelas hotel melati pada umumnya sih. Tarif yang ditawarkan juga murah. Tapi yaa, you know lah hotel melati itu kayak gimana.

(Pic)

Kami cuma meletakkan barang - barang dan bergegas cari makan. Sebenarnya ada beberapa hotel murah di dekat pusat kota Bontang (Hotel Garuda salah satunya) tapi karena halaman google pertama yng gue lihat adalah adalah hotel ini, ya sudahlah. Plus-nya di sini adalah hotel ini dekat dengan pasar Rawa Indah (gue bakal menjelaskan makna "plus" di sini ntar). Akhirnya setelah agak lama, kami mendapatkan angkot menuju sebuah tempat mirip cafe (atau sebut saja tempat makan yang tidak termasuk dalam kategori "warung"). Kami ngemil di sana sambil googling tempat apa lagi yang bisa kami eksplore sebelum menuju Beras Basah besok. Kebetulan si pelayan menyebutkan kalau Cafe Singapore (sebuah cafe yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Bontang) tidak jauh dari tempat kami. Kami pun memutuskan ke sana. Sayangnya, menemukan angkot di Bontang sore hari amatlah menyebalkan. Hampir dua jam kami berdiri, tidak ada satupun angkot yang lewat. Untungnya, penantian kami terbayar dengan datangnya sebuah angkot dengan seorang supir yang super ramah. Kata temen gue sih, tampang preman tapi hatinya dermawan (cuma gara - gara si supir akrab banget sama anak - anak SMP yang kebetulan mengisi penuh angkotnya).

Ternyata yang dimaksud dengan Cafe SIngapore adalah sebuah cafe yang dibangun di tepian laut dan di sana berdiri sebuah "MERLION". Yap, persis dengan patung kebanggaan Negara Singapura.

(Pic)

Kami pun kembali ngemil di sana karena menu makanan yang ditawarkan belum menggoda iman kami untuk makan. Kelihatannya sih, orang yang datang ke sini tujuan utamanya adalah foto di patung itu. Tapi sungguh disayangkan. Kenapa justru membangun sebuah icon seperti negara tetangga? Kenapa mereka tidak membangun patung Gajahmada, Garuda, atau bahkan patung Neptunus sekalian, biar nggak dituduh "menjilak"? (abaikan, ini pertanyaan bodoh.)

Oke. Kami pun melanjutkan perjalanan, kali ini dengan angkot yang sama. FYI, kami "mengontrak" angkot tadi untuk mengantar dan menjemput kami karena lokasi Cafe Singapura yang jauh dari jalan raya. Kami tidak mau mengambil resiko bahaya mengingat kami semua perempuan dan jam sudah menunjukan pukul tujuh malam. Kami pun kembali ke hotel dengan niat mencari makan di sekitar hotel saja.

Memang dalam perjalanan kami yang tanpa rencana dan persiapan, selalu ada keberuntungan (Alhamdulillah). Ternyata hotel kami tidak jauh dari sebuah area PKL yang menjual makanan khas bontang: IKAN SAMBAL GAMI. Ya, kami merasa sangat beruntung. Area PKL ini ramai sekali. Ternyata penjual di sini hanya berdagang di malam hari. Betapa senangnya kami karena besok malamnya kami sudah tidak menginap di hotel ini lagi.

Kami pun kalap. Seporsi besar ikan ludes dalam sekejab. Ikan di sini dijual per-kg. Jadi, kita bebas memilih ikan mana yang akan dimakan, ditimbang dulu, lalu deal harganya berapa. Benar - benar hemat kalau kita makan rame - rame.

Selepas makan, kami langsung ke hotel. Jarak area PKL ini tidak jauh dari hotel jadi kami cukup jalan kaki saja.

Keesokan harinya, kami menuju pelabuhan. Karena masih ada teman kami yang belum sampai di Bontang, terpaksa kami harus menunggu. Terus terang, gue kaget banget melihat pelabuhannya. Mungkin karena sebelum - sebelumnya gue travelling ke beberapa tempat yang cukup "wah", gue langsung speechless pas lihat pelabuhan di sini. Biarlah gambar yang berbicara.

(Pic)

Setlah rombongan siap, kami pun menyewa kapal. FYI, kapal di sini sudah ada rate harganya, khusus hari sabtu - minggu. Semacam ada koperasi yang mengelolanya gitu deh. Tapi untuk weekday (kabarnya) bisa langsung nego dengan para pemilik kapal sehingga lebih murah. Kami diberi harga lima ratus ribu PP. Karena tidak punya pilihan lain, kami pun berangkat.

(Pic)

Satu jam lebih kami ngambang di laut dan akhirnya menemukan pemandangan ini.

(Pic)

Dan...ya...sekali lagi gue speechless....ini  (lagi - lagi) bukan seperti ekspektasi gue...

(Pic)


Sekali lagi, tulisan ini murni dari pendapat gue, no offense, ya! Gue mikirnya Pantai Beras Basah yang dijuluki Little Maldieves itu bakalan mengalahkan Derawan (yang sampai saat ini masih memegang urutan teratas selama gue travelling). Ternyata kenyataan memang terkadang harus jauh dari khayalan, Jendral! Hahaha. Tapi nggak masalah. Kali ini gue travelling dengan banyak teman (ini kali pertama gue travelling rame - rame) jadi gue masih bisa have fun ketawa - ketiwi bareng mereka.

Keadaan pantai di sini cukup ramai. Ada fasilitas Banana Boat dan Snorkling. Tapi kami ngak mencobanya karena kami datang pas matahari ada di atas kepala. Kami malas nyebur haha! Airnya memang tidak seperti Derawan but it was also crystal water, indeed. Well, tempat ini masih cukup menarik kok untuk liburan. :)

(Pic)

Kami tidak berlama - lama di sini, selain karena kami nggak nyebur dan cuma berkeliling pulau yang memakan waktu kurang dari setengah jam, kami juga malas kalau harus membayar mahal untuk sekedar buang air kecil. Ya, di sini kami harus membeli air tawar dengan harga yang cukup mahal: lima ribu rupiah untuk satu dirigen kecil.

Karena masih banyak waktu luang, kami mencari objek wisata lain. Dan salah satu teman kami (yang kebetulan baru saja penempatan kerja di Bontang) bilang kalau ada satu tempat lagi yang disebut Lembah Hijau. Karena capek berekspektasi dan nggak punya tujuan lain, akhirnya kami serombongan sepakat menuju ke tempat itu, entah bagaimana wujud tempatnya, yang penting ada tujuan lain. Hahaha!

Dengan menyewa angkot (dua ratus ribu PP dan pak sopir mau nungguin) kami menuju ke sana. Jauh juga ternyata. Dan pemandangan selama menuju ke Lembah Hijau benar - benar menyedihkan. Pembakaran lahan sedang banyak terjadi sepanjang jalan. Entah ini mmenag musim berladang atau musim membinasakan hutan (agak ngeri gue nulisnya) tapi manusia harusnya nggak perlu melakukan ini, se-kaya-apapun hutan Indonesia. Gue bukan sok suci, gue pun belum sepenuhnya menghargai alam tapi di bumi Kalimantan ini manusia - manusianya udah kelewatan banget mengekploitasi alam. Yang batu akik lah, yang batu bara lah, yang hutan lah, apa - apaan sih mereka?!

Oke, gue nggak marah - marah lagi.

Kita lanjut ke Lembah Hijau. Memang beneran lembah dan beneran hijau. Tapi di sini kami melihat hamparan taman bermain yang sepiiiiiiiiiiiiii bangeeeeeeeeet. (Buset, gue lebay banget nulisnya) Saking sepinya, gue sampe nanya ke mbak - mbak penjaga tiket di pintu masuk: Mbak, ini masih buka atau sudah tutup ya, kok sepi?
Dan si mbak itu cuma senyum sambil ngomong: Tadi ada tiga ratus orang yang ke sini, sekarang sudah sepi, kan sudah sore. (Dan gue melirik jam tangan masih pukul dua siang).

Gue nggak mau mempermasalahkan ini sepi atau ramai, yang jelas miris banget melihat objek wisata satu ini. Banyak wahana yang tutup di weekend pukul dua siang hari. Di sini sebenarnya cukup lengkap wahananya. Ada sepeda air, saung pemancingan (yang sebenarnya bisa dipakai piknik juga), ada waterboom dan beberapa kolam renang (yang pintu masuknya terkunci) dan arena bermain seperti Taman Teletubbies dan Arena Kurcaci (yang astaga....gue bingung harus menyebutnya kebun yang terbengkalai atau tempat syuting film horror).

Kami menyusuri area Lembah Hijau. Gue membayangkan kalau tempat ini dikelola dengan baik, pasti akan menarik banyak pengunjung. Hanya saja, tidak hanya areanya yang tidak terawat tapi hewan - hewan yang "dipenjara" di sana. Gue kasihan melihat mereka, entah kenapa.

Semoga saja, pemandangan yang gue lihat ini semata - mata karena ini sudah sore dan sudah mau tutup (gue masih berharap mbak penjaga tiket masuk nggak berbohong. Suer!)

Kami hanya foto - foto narsis aja di sini dan kemudian pergi. Bukan kembali ke hotel melainkan ke tempat salah satu teman kami. Ya, malam harinya kami langsung menuju Balikpapan jadi kami tidak booking kamar hotel lagi. Selanjutnya kami pun bingung mau kemana, hahaha!

Ada usulan, kami makan malam di sebuah area PKL lain yang lebih ramai, namanya Koperasi Pupuk Kaltim. Dan wow, this is the most interesting place while I'm here! Makanannya lengkap, murah dan rame! Haha! Kami kalap. Sembilan orang makan dengan berbagai menu. Ikan bakar, sate, gudeg, batagor, siomay, sampe takoyaki pun ludes tanpa sisa dalam waktu singkat!
Pukul setengah sebelas malam, mobil yang kami sewa untuk berangkat sudah siap mengantar kami kembali. Bukan ke Samarinda tapi langsung ke Balikpapan. Bukan sebuah perjalanan malam yang singkat, tentu. Kami tiba di Balikpapan keesokan harinya, pukul enam pagi jadi kami tidur dalam perjalanan. Tentu saja si sopir berhenti beberapa kali di warung - warung pinggir jalan sekedar untuk minum kopi agar tidak mengantuk.

Sebuah cerita dari perjalanan singkat, melelahkan, tapi tetap ada makna dan cerita di dalamnya.


Sekian kisah gue. And I'm getting excited about my next journey. Guess where it is! :))

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BACKPACKER ABSURD TO PULAU NUNUKAN (INDONESIA) - TAWAU (MALAYSIA)

BACKPACKER ABSURD INDONESIA – MALAYSIA



Hi!
Setelah hibernasi gara – gara kerjaan kantor yang amit – amit banyaknya, kali ini gue bakal berbagi perjalanan lagi. Kali ini tujuannya memang luar negeri, tapi gue bakal lebih membahas sebagai perjalanan lintas batas.
OK, here we are!

Awalnya gue nggak merencanakan perjalanan semacam ini. Tujuan utama gue dan sohib gue adalah Kota Kinablu, Malaysia. Tapi ke-songong­-an kami berbuah penyesalan.

Perjalanan kami mulai selepas menjalankan urusan pekerjaan di Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Kami berniat menaiki kapal yang langsung menuju Tawau. Namun sayangnya kapal itu hanya berangkat di hari – hari tertentu saja. Rute Tarakan menuju Tawau hanya dibuka setiap senin – rabu – jumat. Sedangkan rute kembalinya adalah selasa – kamis – sabtu. Alhasil, kami memilih jalan lain. Menurut keterangan seorang teman, kami bias masuk Negara Malaysia melalui perbatasan, yang dikenal sebagai Sei Nyamuk (masih masuk dalam wilayah Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara).

Entah kenapa kami percaya begitu saja dengan informasi itu. Meluncurlah kami ke Sei Nyamuk pukul setengah sepuluh pagi. Karena cuaca yang buruk dan gelombang besar, kapal tidak berlabuh di dermaga biasanya. Tapi kesialan sepertinya mulai menempel pada kami pagi itu. Kami salah naik kapal. Dan kami baru sadar setelah mendaratkan kaki di Pulau Nunukan. Yak, kami salah pulau.
Setelah bengong dan menertawakan kebodohan, kami dibantu penduduk untuk menemukan cara menuju Sei Nyamuk. Menyeberang dengan menggunakan speedboat kecil yang membuat nyawa terancam akhirnya menyelamatkan kami. Kami pun menuju pelabuhan kecil Sei Nyamuk menggunakan jasa angkot (angkotnya mobil semacam Avanza gitu deh). Tapi si sopir menyarankan untuk lewat perbatasan lain, namanya “Haji Kuning”.

Pelabuhan Sebatik

Entah itu nama daerah apa, karena kami harus segera naik pesawat menuju Kinabalu (kami sudah memesan tiket PP) kami meng-iya-kan saja.

Ternyata yang dimaksud “Haji Kuning” adalah perbatasan Indonesia – Malaysia yang dijaga para petugas perbatasan. Dan, aksesnya melalui sungai kecil yang amit – amit ngerinya. (Suer, ada biawak yang gedenya kayak komodo di tepi sungai itu! Dan akhirnya kami tahu kalau itu adalah tansportasi barang Indonesia – Malaysia). Kami dengan polosnya naik perahu kecil. Di tengah jalan motorisnya Tanya: passport kalian sudah di cap?

Perlintasan bernama "Haji Kuning"

Kami bengong. Barulah gue sadar kalo gue belum mengantongi ijin resmi dari imigrasi. Gue langsung patah hati. Tanpa ijin resmi, kami cuma bakal tertahan di imigrasi dan balik pulang. Oke, kami nyerah. Kami putuskan buat balik ke Pulau Nunukan. Untung, ada sohib kami yang dengan sangat baik hati memberikan penginapan gratis. Tapi rasa nyesel dan nyesek itu nggak bias hilang. Bukan cuma rugi waktu, tapi uang tiket PP Tawau- Kinabalu pun hangus (walaupun  harganya nggak seberapa karena AirA*ia lagi promo waktu itu). Yasudah, kami memutuskan untuk menghibur diri tanpa tau tujuan selanjutnya.

Sohib kami menyerankan untuk tetap pergi ke Tawau lewat pelabuhan resmi Kabupaten Nunukan keesokan harinya. Ternyata, perbatasan lain sudah tidak melayani cap imigrasi. Jadi meskipun kami kemarin berhasil sampai di Sei Nyamuk, tetap tidak akan bisa menyeberang ke Tawau, Malaysia karena imigrasi tidak bisa lagi memberikan ijin. Sekarang, semua jalur menuju perbatasan dikendalikan oleh pelabuhan Nunukan – Tawau (hanya di Pulau Nunukan, bukan Sebatik) dan Tarakan – Tawau.

Hanya berbekal rasa pasrah, kami menuju pelabuhan dan memesan tiket jurusan Tawau. Jika memesan langsung PP, lebih murah harganya, katanya. Kami hanya menghabiskan 300ribu PP. Tapi….keadaan di pelabuhan yang membuat kami terpana. Kapal menuju Tawau hanya berangkat setiap pukul 08.30 dan 09.00 setiap harinya. Ya, dengan jadwal seperti itu bisa dipastikan penumpangnya menggila. Tapi ini benar – benar di luar ekspektasi kami. Tiba – tiba gue flashback ke pemandangan kereta ekonomi jurusan Jakarta – Surabaya di tahun 2008an. Miris. Terlihat sekali kelas para penumpangnya. Di bagian imigrasi pelabuhan lah yang paling rusuh. Nggak hanya saling dorong dan saling maki, tapi aksi para calo juga bikin gerah. Tapi kami masih beruntung. Ada kru kapal yang membantu kami “menge-cap” passport di imigrasi. Ini keberuntungan pertama kami. Keberuntungan kedua adalah: kami nggak ketinggalan kapal karena semenit aja kami telat, kapal udah nggak bisa dijangkau dengan lompatan kaki gue. Fiuh.

Di dalam kapal yang pengap, kami udah nggak kebagian tempat duduk. Beruntung, kru kapal teriak – teriak nyuruh semua penumpang ambil posisi duduk. Terjadilah adegan saling geser. Keberuntungan ketiga: kami kebagian tempat duduk. Gue sempat mengabadikan momen di dalam kapal. Silahkan menilai sendiri.


Suasana di imigrasi Kabupaten Nunukan


Suasana dalam kapal. Cuma ini yang sanggup gue abadikan......

Setelah dua jam lebih, akhirnya kami mendarat. Kembali kami dihadapkan pada suasana berdesak – desakan dan penuh makian. Gue sempat berpikir, bagaimana negara lain bisa menghargai kita kalau 
tindakan kita sendiri tidak berperikemanusiaan seperti ini?

Ah sudahlah, terlalu pelik kalau blog gue ngebahas permasalahan negara ini. Yang jelas, satu jam kemudian kami baru bisa menginjakkan kaki di Tawau setelah melewati imigrasi yang super ketat (gue nggak kebayang kalau kemaren gue maksa menerobos perbatasan tanpa cap imigrasi).
Begitu sampai, tempat pertama yang kami tuju adalah rumah makan. Laper bro! Kami menyusuri jalanan dan tibalah di salah satu rumah makan. Walaupun tidak seberapa enak di mulut, tapi karena lapar dan nggak ada pilihan rumah makan lain yang lebih dekat, kami makan dengan lahap. Lalu barulah kami berpikir kemana tujuan kami selanjutnya. Gue baca – baca blog, semua reviewnya tentang Kinabalu. Ya, memang iconic banget kan tempat itu. Tapi masalahnya kami sudah batal ke sana. Secara nggak sengaja gue kepikiran Sipadan – Ligitan, dua pulau yang katanya eksotik tapi udah bukan punya Indonesia lagi. Segera gue cari informasinya tapi tidak membuahkan hasil. Akhirnya gue memutuskan untuk bertanya pada sumber paling akurat: manusia.

Setelah kami mengumpulkan informasi, ,kami menuju masjid raya Tawau untuk sholat sekaligus merebahkan punggung sebentar. Tapi sepertinya lagi – lagi kami kurang beruntung. Informasi tentang dimana masjid itu berada tidak akurat. Kami sudah berjalan jauh tapi tetap tidak menemukan si masjid. Untungnya ada ibu – ibu penjual mukena yang menunjukkan kami angkutan mana yang bisa menjangkau masjid itu dengan cepat dan murah (angkutan disana bernama “BAS”). Ternyata memang tidak jauh. Si masjid yang gagah sudah kami temukan.


Masjidnya Gede, Adem, Sepi 

Puas melepas lelah, kami buru – buru pergi ke terminal mencari bas tujuan Semporna (tempat penyeberangan ke SIpadan – Ligitan dan beberapa pulau eksotis lain). Lagi – lagi, untuk kesekian kalinya kami tidak beruntung. Ternyata susah sekali menemukan terminal yang dimaksud. Kami pun akhirnya menyerah dan memutuskan untuk membeli suvenir khas Tawau terlebih dahulu di Pasar Gantung. Tapi hal yang sama terjadi, kami tidak menemukan dimana itu Pasar Gantung.
Tapi di tengah keputusaan kami, muncullah sebuah toko grosir yang menjual bermacam oleh – oleh dengan harga miring. Kami pun kalap. Gantungan kunci berbagai jenis dengan harga 10 RYM per 7 buah dan beberapa aksesoris lain berhasil masuk ke tas kami. Setidaknya, kami masih punya oleh – oleh. Haha! Dan keberuntungan mulai datang lagi. Langkah kami tiba – tiba dituntun ke sebuah parkiran yang ternyata terhubung dengan Terminal Sabindo, tempat menemukan Bas menuju Semporna. Akhirnya, akhirnya, dan akhirnya, kami punya tujuan: SEMPORNA RESORT!


Bas nya bagus, bersih, nyaman

Dua jam perjalanan nggak menyiksa karena bas yang kami tumpangi cukup nyaman dan sopirnya pun tahu kalau kami tourist sehingga mengantarkan kami langsung menuju area penginapan. Karena hari sudah malam, kami memutukan untuk segera mencari tempat untuk tidur. Beruntung, pak sopir mendaratkan kami di Borneo Backpacker, hostel yang menyediakan dormintory murah buat para backapcker macam kami.

Karena gue pernah punya pengalaman buruk di dormintory (baca pengalaman gue ke luar negeri sebelum ini) gue jadi agak ragu apakah dormintory ini nyaman, karena kondisi sohib gue udah lelah banget (dia sama sekali belum pernah ke luar negeri, nggak mau dia merasa makin nggak nyaman dengan dormintory yang buruk). Harga yang ditawarkan 27RYM. Cukup terjangkau, tapi gue mencoba buat melihat terlebih dulu keadaan kamarnya.
HEAVEN! Ternyata dormin nya rapi, bersih, ber AC pula!


Ini hostel loh...



Begini dalem dormin yang harganya 27 RYM


Nah ini lorongnya...


Kamar mandinya bersih, hehe...

Dan kalau ngeliat barang – barang yang udah ada di sana sih, isinya cewek semua. Yosh! Gue terima kamar ini!
Setelah meletkan barang, kami memutuskan buat jalan –  jalan sambil cari makan malam. Ketemulah kami dengan Semporna Dive Inn Resort, resort yang dibangun di tepi laut. Pengunjung dipersilahkan melalui jalanannya tapi dilarang memasuki area resort jika bukan bertujuan untuk menginap.
Secara umum sih, ini sebenarnya nggak kalah dengan Pulau Derawan milik Indonesia. Tapi gue akui, pengelolaannya jauh lebih baik. Terbukti, orang yang “menghuni” sekeliling gue waktu itu semuanya BULE! (termasuk gue kali ya, kan gue juga bukan orang lokal. Haha!) Gue sih bermimpi aja, pariwisata Indonesia bisa dikelola sebaik ini. Lumayan kan, devisa!

Semporna Dive Inn pas malam hari

Puas menyusuri jalanan resort sambil foto – foto, kami pun makan di salah satu restoran. Niatnya sih kami cari menu yang aman, biar nggak aneh rasanya. Tapi……justru rasanya malah aneh. Judul menunya sih Mie Goreng Telur tapi begini wujudnya dan rasanya pekat banget. Kurang cocok dengan lidah gue sih.


Sebut saja ini mie...

Tapi yasudah, berhubung laper banget dan mata udah ngantuk, akhirnya tandas juga mie “entahlah” itu. Kami pun kembali ke dormintory. Benar dugaan kami, kamar ini isinya cewek semua. Dan kami pun langsung terlibat dalam pembicaraan bahsa asing. Mengandalkan kemampuan bahasa gue yang “ah sudahlah” ini, gue berhasil punya beberapa teman baru sesama backpacker. Ini hal yang paling gue suka dari sebuah perjalanan. Mengenal manusia – manusia baru.


Pagi hari kami nggak bisa ketemu sunrise. Ya, lagi – lagi hujan. Terpaksa harus menikmati sarapan dulu. Di lounge hostel kami sarapan bareng para BULE yang udah siap – siap diving. Ya, memang Semporna adalah tempat yang terkenal dengan Diving Spot nya. Hostel ini juga menawarkan Diving and Snorkling menuju beberapa pulau eksotis dengan harga yang nggak mahal. Kami sempattergoda, hanya saja nanti siang kami udah harus balik ke Tawau. Butuh minimal two days trip untuk bisa menikmati pulau – pulau itu. Akhirnya, lagi – lagi kami cuma bisa gigit jari.


Ini list harga paket diving yang sempat gue foto 

Kami memutuskan kembali ke Dive Inn Resort yang kami kunjungi semalam. Masih sepi. Cocok banget buat fotografi. Ternyata pemandangan siang juga nggak kalah bagus. Airnya lumayan jernih (meskipun lagi – lagi gue masih suka sama derawan).


Semporna Dive Inn pas siang hari, sepi kalau masih pagi


Ini resort di atas lautnya

Dan pukul setengah 10 kami check out dari hostel. Pemilik hostel bersedia memberikan kami tumpangan menuju terminal (yang sebenarnya nggak jauh sih dari hostelnya, tepatnya di tengah kota Semporna, dekat dengan sebuah patung Merelyn besar). Kecewanya, bas di sana menunggu penumpang penuh. Alhasil pukul sebelas kami baru berangkat dan sampai di Tawau pukul setengah satu.

Ada lagi kesialan yang menghampiri. Menurut instruksi salah satu teman, kapal terakhir berangkat pukul empat dan kami udah harus antri di pelabuhan pukul dua. Ternyata dia lupa bilang kalau yang dimaksud “antri” di sini adalah bukan di imigrasi tapi antri di agen tiket kapal untuk dicatat ulang.
Fiuh. Untungnya kami merasakan keganjilan sebelum mengantri panjang di imigrasi. Jadi, sebelum antri di imigrasi, tiket kita harus dicatat dulu di agen kapal (tergantung kita naik kapal yang apa, agennya semua berjajar di depan pelabuhan) barulah boleh mengantri di imigrasi, itupun kalau kapal yang akan kita naiki sudah tiba di pelabuhan. Lagi, rusuh! Dan ada prioritas untuk pemegang passport warna merah (pemegang passsport milik negara sebelah). Di sinilah rasa lelah gue bertumpuk. Selain antrian rusuh, kapal juga terlambat datang. Bayangan pemandangan dan resort yang keren di Semporna tadi menguap begitu saja. Kapal kami baru datang sekitar jam lima sore. Bayangkan aja gimana rasanya berdiri dengan badan capek di tengah kerumunan padat dan bau yang bercampur kayak gitu. Fail banget lah.

Kami pun naik kapal, untungnya kali ini dapet tempat duduk yang lumayan enak (walaupun masih kayak naek kereta api ekonomi dengan penumpang berjubel dan bau – bauan yang tercampur) dan tiba di nunukan sekitar pukul delapan malam. Ternyata, setelah diselidiki, harusnya kami bisa naik kapal sebelumnya (asal kapalnya berasal dari agen yang sama. Satu agen melayani lebih dari satu kapal) karena tiket kami itu tanpa tanggal dan tanpa jam.


Pulau Nunukan (sebagian kecil)

Well, sudah selesai perjalanan panjang kami. Kali ini nggak ada yang terlalu spesial. Tapi pemandangan di plabuhan Nunukan – Tawau banyak memberikan pelajaran. Ya, kehidupan di perbatasan memang keras dan miris.

Kami pun melanjutkan sisa malam dan keesokan paginya mengeksplore pulau Nunukan, sebelum kembali ke Kota Tarakan pukul 08.30. Negara sendiri lebih ramah dan lebih menyenangkan. Itulah kesimpulan gue.




Sampai jumpa di postingan berikutnya!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Backpacker Absurd ke Labuan Cermin, Teluk Sulaiman, dan Teluk Sumbang

Hallo!

Ini interval travelling yang cukup singkat, bulan lalu gue ke Singapore dan sekarang gue udah mau posting tentang destinasi lain. Bukan sesuatu yang aneh seandainya gue adalah seorang travel blogger, fotografi alam, atau emang cari duit melalui dunia travelling. Tapiiiii...pekerjaan gue jauh dari itu semua. Hehehe.

Lupakan. Yang jelas gue lagi - lagi mau share tentang perjalanan gue.

Blog ini tidak berbayar ataupun mengharapkan bayaran dari pihak - pihak yang tertarik untuk membayar (halah). Blog ini juga bukan catatan perjalanan atau curhatan, cuma sekedar ngasih tips buat para travelling yang sedang mencari hidden paradise sekaligus merasakan atmosfer masyarakatnya. So, happy reading!


Kamis, 4 Desember 2014

Lagi - lagi tanpa rencana matang, setelah segala proses tugas - tugas dinas gue beres, gue berpikir buat "hengkang" sejenak, mumpung lagi di "kota". Gue kebetulan lagi ada tugas dinas di Kota Tarakan. Karena gue udah pernah ke Derawan, gue coba cari destinasi laen. Sampailah gue (dan sohib gue, yang dulu gue ajakin ke Derawan) kepada satu pemikiran: Biduk - Biduk!


Gue tahu beberapa hal tentang Biduk - Biduk sepulang dari perjalanan Singapore, sebuah keputusan singkat memang kalau gue ternyata nekat travelling tanpa persiapan (lagi).

Biduk - Biduk adalah nama sebuah kecamtana di Kabupaten Berau, kalimantan Timur. Menurut beberapa blog yang gue baca sih, ada sebuah danau yang cukup fenomenal tapi masih jarang dikunjungi wisatawan di sana, namanya Labuan Cermin. Karena gue males cari destinasi lain sekaligus pengen travelling membelah hutan belantara, gue memutuskan untuk berangkat ke sana.

Pertama, kami naik speedboat menuju Bulungan (Pelabuhannya ada di Tanjung Selor) sekitar pukul 11.00 WITA. Sebenarnya bisa aja kami langsung menuju kabupaten Berau tanpa melewati Kabupaten Bulungan dan menempuh perjalanan darat yang amat sangat panjang, yaitu melalui jalan udara. Tapi tentunya, tiket kalstar tidak ramah pada dompet kami.


Kembali ke cerita. Tiket speedboat ikut naik seiring kenaikan BBM. Sekali perjalanan ke Tanjung Selor dihargai Rp 130.000 dengan waktu tempuh satu setengah jam (perjalanan pulang lebih cepat, hanya satu jam) karena cuaca sedang tidak bagus. Sesampainya di Tanjung Selor, kami mulai pasang tampang sok tahu. Ya, kami memang belum pernah singgah di kabupaten yang letaknya bersebelahan dengan kabupaten tempat kami kerja. Kami melangkah keluar pelabuhan dengan melewati banyak calo penyedia jasa travel. Gue butuh waktu buat mikir, jasa travel mana yang nggak mencekik. Ternyata ada bapak - bapak tukang ojek yang negur gue: "Mbak, mau kemana?"
Gue pun menjelaskan dengan suara lirih kalo kami mau ke Berau tapi buru - buru (sebenernya bukan asal ngomong sih, kami emang pengen cepet sampai di Berau, entah kenapa, hahahaha). Bapak itu lalu memanggil salah satu temannya, katanya dia nyediain jasa ke Berau dengan harga Rp 120.000 per orang. Karena menurut gue harga itu cukup wajar (gue sempat baca, di tahun 2010 harga travelnya Rp 90.000 per orang) maka gue meng-iya-kan si penyedia travel.

Pukul 13.00 WITA kami pun naik avanza menuju Berau. Jalanan Bulungan - Berau memang kurang ramah, gue sempat pusing, padahal seumur - umur gue nggak mabok kalo naik mobil. Dua jam berlalu dan akhirnya kami sampai di Tanjung Redeb. Sebelumnya si supir nanyain kami, apa udah punya travel menuju Biduk. Gue dengan jujur bilang kalo semua travel berangkat pagi dan kemungkinann kami bakal nginep di Berau kalau seandainya nggak ada travel di terminal. Si sopir rupanya pengertian. Kami diantar ke salah satu jalan, kalau nggak salah jalan haji Isa, ke terminal lama, katanya. Ternyata yang dimaksud "terminal" di sini adalah tempat parkir para sopir "taksi gelap". Oh iya, istilah taksi di sini adalah sebutan untuk mobil - mobil travel, jadi jangan dibayangin semacam Blue Bird atau Express gitu ya.

Kebetulan banget nih, si sopir punya kenalan teman yang melayani tavel ke Biduk (I talk about a luck, again and again on my post). Dan kebetulannya juga, temannya itu lagi standby di terminal lama. Kami pun segera nego harga pas kami ketemu temannya si supir. Deal dengan harga Rp 150.000 per orang, kami pun minta ijin untuk istirahat, sekedar sholat dan cuci muka. Kebetulan di sekitar situ ada masjid gede. Lumayan lah, buat duduk setelah perjalanan berkelok - kelok tadi.

Pukul 16.00 WITA, kami memulai perjalanan yang amat sangat panjang. Pak sopir ternyata mampir - mampir dulu, jemput penumpang. Jalanan Tanjung Redeb - BidukBiduk lebih ramah bila dibandingkan Tajung Selor - Tanjung Redeb tadi, namun jarak tempuhnya jauh banget! Bahkan kami sempat mampir di salah satu rumah makan, kata si sopir sih karena perjalanan masih panjang jadi selepas isya kami harus makan. Sepertinya pak sopir tahu kalau kami sudah mulai capek. Di warung ini kami cuma menghabiskan uang Rp 35.000 buat makan dan minum dengan porsi yang gede banget. Cukup murah untuk ukuran traveller kelaparan dengan dompet pas - pasan.

Tepat pukul 00:00 WITA kami benar - benar sampai di Biduk - Biduk. Si sopir memilihkan kami penginapan yang dekat tepian pantai. Penginapan MAYANG SARI namanya. Rate-nya Rp 185.000 per kamar AC per malam.



Kamar kami di bibir pantai. Bisa denger deburan ombak.....


Benar - benar perjalanan yang panjang. Diantara lelah, gue tiba - tiba merasa tenang. Aroma air laut, pantai, dan pedesaan mulai bisa gue hirup di tengah gelapnya malam. Tapi gue nggak mau kebanyakan berpikir, badan udah capek banget. Gue cuma bisa Say Hello ke mereka lewat senyuman sebelum masuk kamar penginapan.


Hit the Bed!

Jumat, 5 Desember 2014

Gue adalah pecinta sunrise dan sunset garis keras, pengejar matahari dan kedamaian di penjuru nusantara, dan penikmat surga tanpa ingin kehilangan nyawa. Hahaha. Itulah kenapa gue bela - belain bangun sebelum subuh meskipun badan dan mata masih kompak untuk terkapar. tujuan pertama hari ini: sunrise. Dan, gue ngerasa beruntung banget.


Wonderfull sunrise!


Nggak lama kemudian, temen gue bangun dan nyusulin ke pantai. Lagi - lagi, as usual, kami berdua diem - dieman di pantai. Speechless.

Karena kami udah niat banget ke sini, tentunya kami pengen cepet - cepet menuju Labuan Cermin. Pas masuk kamar, gue kaget, kok AC, TV dan segalanya mati. Apa barusan mati lampu? Ternyata setelah tanya tetangga sebelah, daerah sini memang hanya dialiri listrik saat malam hari. Untung aja semua gadget full charge.

Sambil sarapan nasi goreng di penginapan (FYI, sarapannya tiap hari adalah nasi goreng pake telor ceplok) kami ngobrol sama pemiliknya, gimana caranya menuju Labuan Cermin karena kemarin si sopir travel nawarin kami trip ke Labuan Cermin plus Teluk Sulaiman seharga Rp 1.600.000 (kalau dipotong perjalanan Tanjung Redeb - BidukBiduk PP untuk berdua sih Rp 1.000.000 tripnya doang). Ternyata di penginapan ini bisa sewa motor. Gue dan temen gue langsung bersemangat. Sewa motornya cuma Rp 50.000 seharian sampe puas Coy! Jauh banget kan beda harganya? Untung kami nggak meng-iya-kan si bapak travel.

Selepas sarapan, kami langsung bergerilya naek motor, menyusuri jalanan, pantai, dan menyapa sapi - sapi dan hewan ternak lainnya. Kenapa sapi? Karena sepanjang jalanan (sepanjang bibir pantai, tentunya) banyak bertebaran hewan ternak yang nggak dipeduliin pemiliknya. Artinya, elo harus hati - hati karena peringatan di sini bukan "HATI - HATI BANYAK ANAK KECIL" tapi "HATI - HATI HEWAN TERNAK". Tentunya, kotoran ternak juga bertebaran dimana - mana, hahahaha! Yang bikin gue heran, pohon kelapa di sini kok tingginya agak di luar normal ya?


Temen gue lagi naek motor, hehehe!



Akhirnya, kami sampai di Labuan Cermin. Boleh nggak gue menyebutnya dengan A little piece pof heaven?


WELCOME!

Di sini, kalo lo mau menuju Danau Labuan Cermin, lo harus sewa perahu, Rp 100.000 untuk satu perahu. Jadi kalau elo ke sininya rame - rame, tentunya jauh lebih hemat.


Ini potret A little piece of Heaven versi gue, selengkapnya visit my instagram @ndahcahya ya!



And this clear water speaks.......


Can you see something in the bottom of the lake?

Daaaan, kata pemilik perahu yang kami sewa, belom bisa disebut ke Labuan Cermin kalau nggak renang. Sewa ban atau pelampung cukup murah, Rp 15.000 per buah. Tapi untuk alat snorkling, saran gue sih bawa sendiri. Kurang nyaman kalo pinjem, walaupun mereka menyediakan. Dan nggak usah khawatir mata lo perih, airnya TAWAR!

Inilah keistimewaan Labuan Cermin, Air di sini rasanya tawar sampe kedalaman 3 meter. Tapi selepas 3 meter, lo bakal ngerasain asinnya air laut. Subhanallah sih ini, keren parah! GOKIL!


Best friend!


Setelah kami merasa cukup (walaupun sebenernya nggak akan pernah cukup di sini, apalagi kalo pas sepi, berasa punya kolam renang pribadi), kami melanjutkan perjalanan, pastinya dengan baju yang masih basah karena kami nggak bawa ganti (tadinya kami nggak berniat nyebur sih).

Selepas dari Labuan Cermin, kami menuju Teluk Sulaiman. Kata pemilik penginapan, kami bisa menikmati ari terjun di seberang, tepatnya di Teluk Sumbang. Dilihat dari fotonya sih keren dan kami pun tergoda.

Nggak usah khawatir tersesat di sini. Jalanannnya cuma lurus menyusuri pantai kok. Dan pastinya, di sekitar pasti bakal ada penduduk yang dengan ramah menyapa kita. Pasti ada tempat untuk bertanya. :)

Perjalanan dari Labuan Cermin ke Teluk Sulaiman cukup jauh. Setelah sampai, kami mulai mencari info bagaimana caranya untuk menyeberang. Untung ada bapak penjaga toko yang baik yang akhirnya mempertemukan  kami kepada salah seorang pemilik perahu kelotok. FYI, untuk menyeberang ke Teluk Sumbang, wisatawan bisa memilih pakai speedboat (yang hanya tersedia satu unit sepertinya) atau pakai perahu kelotok kayak gini:


Namanya Perahu Kelotok

Tarif yang dipatok adalah Rp 500.000 per kapal. Murah kan, kalau seandainya elu travellingnya bareng - bareng? Tapi jangan sensi juga kalau seandainya ada orang yang ikut nebeng dan ngarepin gratisan. Beberapa warga memang mencari - cari gratisan menuju dan dari Teluk Sulaiman - Teluk Sumbang. Kami pun menjadi salah satu sasarannya. Dan seperti inilah perjalanan kami menuju Teluk Sumbang.


This is my Indonesia!

Teluk Sumbang menawarkan keramahan warga, kesederhanaan masyarakat, sekaligus deburan ombak yang cukup besar. Dan juga air terjun yang menawan.


Air terjun Teluk Sumbang

Kami sempat mencicipi indomie di warung Bu RT, hehehe, kelaparan sembari menikmati keindahan. Murah meriah, cuma Rp 15.000 berdua.

Karena hari sudah sore, kami memutuskan buat balik. Sebelumnya kami singgah sebentar ke Pulau Kaniungan. Pulau baru yang juga barusan punya cottage. Gue yakin, 10 tahun ke depan, objek wisata ini bakalan sama kayak Derawan. Beruntungnya gue udah ke sini sekarang, sebelum terlalu dijamah traveller lain.

Pemilik perahu ngasih kami bonus! Dia belokin perahunya ke sebuah ledokan teluk yang dinamai Sigending. Semacam rawa tapi airnya BENIIIIIING! Beneran surga bawah laut! Gue langsung berdiri di perahu dan nggak bosen - bosen ngelihat ke bawah air. Ikan pari, penyu - penyu besar, dan terumbu karang yang masih asli! Bahkan kata pemilik perahu, ada seorang penyelam bule pernah bilang kalau terumbu karang di sepanjang Teluk Sulaiman - Teluk Sumbang - Kaniungan sebenarnya jauh lebih bagus daripada Derawan. Nah loh! Ngaku pecinta diving tapi belum pernah ke sini? Sayangnya, gue cuma punya videonya. (Asik ngevideo sampe lupa nggak ngambil foto, malah asik liatin ikan dan penyu di bawah, hehehe)

Kami akhirnya sampai di Teluk Sulaiman saat adzan magrib berkumandang. Untung saja kami sudah sempat sholat ashar tadi bersama warga Teluk Sumbang. Kami melanjutkan perjalanan kembali ke penginapan dengan diiringi serangga - serangga hutan yang mengganggu pandangan mata karena kami nggak pakai helm (sepertinya di sini helm memang tidak perlu dipakai, hehehe). Kami nggak langsung balik penginapan, karena masih harus memenuhi hasrat perut. Kami mencari warung makan ikan bakar yang tadi kami temui sewaktu berangkat. Menyusuri jalanan baru nan gelap tidaklah menyenangkan buat dua sosok perempuan muda seperti kami, rasa takut pasti ada. Tapi karena kami percaya keramahan warga di sini, rasa takut itu lama - kelamaan hilang dengan sendirinya. Bismillah aja. Akhirnya, begitu sampai di warung makan tujuan, kami memesan ikan bakar. Ekspektasi kami nggak tinggi tapi apa yang kami dapat ternyata sangat mengejutkan! Seekor ikan kakap putih, sepotong ikan laut dan semangkok gulai ikan adalah menu untuk satu orang. Lengkap dengan sambal dan es jeruk. Tanpa basa basi, kami melahap menu pesanan kami dengan lahap. Habis tak tersisa kurang dari setengah jam, hahaha! Dan kami lebih kaget lagi pas bayar ternyata menu untuk satu orang hanya dibandrol Rp 35.000 aja! Benar - benar lengkap liburan kami! Hahahaha!

Malam pun tiba dan kami memilih stay di penginapan aja. Itu pun nggak lama karena kami segera terlelap. Thanks God, meskipun gue nggak ketemu sunset karena mendung, segalanya tetap indah. Sangat indah.


Sabtu, 6 Desember 2014

Gue kembali berburu sunrise. Sayangnya, masih mendung. Matahari masih malu - malu banget. Gue dan temen gue memutuskan buat jalan - jalan saja, sambil menyapa warga sekitar yang memulai aktivitasnya. Kami melihat anak - anak yang berjalan kaki menuju sekolah. Kebetulan di sana ada SD dan SMP yang letaknya tidak jauh dari penginapan kami. Beberapa dari mereka bercanda, saling meledek, dan pastinya jalan kaki bersama - sama. Kesan "alami"nya kental banget. Jarang gue lihat ada siswa yang naik motor, kalaupun ada mereka diantar oleh orang tuanya. Menurut gue, begini seharusnya generasi muda itu. Sederhana. Nggak terlalu terjamah kejahatan kemajuan jaman. Dan dalam jalan - jalan pagi itu, kami nemuin ini:


Gloomy morning...


Biduk - biduk terlalu banyak menyuguhkan kedamaian dan keramahan. Sebuah trip yang lagi - lagi memberikan sense yang sensasional dan unforgetable. Kami pun balik dengan rute yang sama menuju Tarakan. Dengan travel yang sama juga.


Thanks, God!



Gue punya beberapa tips tambahan:

1. Kalau mau naik travel (maksud gue taksi, hehe) dari Tanjung Selor ke Tanjung Redeb / Berau, pilih taksi yang supirnya asli orang Berau, bukan orang Tanjung Selor. Kenapa? Menurut sopir gue sih, harga lebih murah dan nggak pake nunggu penumpang laen. Misal kayak kami kemaren, berdua pun langsung jalan. Ini nomer travel yang gue pake: 081347773115

2. Kalau mau naik travel dari Tanjung Redeb / Berau ke Biduk - Biduk, pilih ttavel milik orang asli Biduk - Biduk dan yang emang punya mobil pribadi (mobil travelnya itu emang punya dia, bukan punya bosnya). Kenapa? Karena kalo dia orang Biduk - Biduk asli, dia bakalan langsung pulang ke rumah, kita nggak pake bayarin hotelnya per malam (misalnya elo balik juga mau pake travel itu). Daaaan, kalo dia emang punya mobil sendiri, biasanya jauh lebih murah. Kayak gue itu, cuma Rp 150.000 aja. Hehehe. Ini nomer travel yang gue pake: 081354514004

3. Sebaiknya udah merencanakan pulang kapan dan pakai travel apa. Kemarin sih untungnya bapak travel gue agak baik, dia mau nganterin kami berdua balik Berau padahal ga ada penumpang lain. Konsekuensinya adalah kami bayar 2 kali lipat, Rp 300.000 seorang. Itu udah murah, masalahnya travel lain patoknya sejuta per mobil. Travel dari Biduk - Biduk ke Berau nggak setiap hari ada, tergantung penumpang (dan mood supirnya, hehehe) jadi sebaiknya mempersiapkan perjalanan pulang sebelum pulang, hehehe.




Oke, cuma itu yang bisa gue share.

See you on the next journey!  :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cerita dari Tana Tidung (3)

Hei!

Lama gue nggak ngeblog. Entah kenapa weekend ini gue mau nulis sekaligus merayakan annyversary lima bulan sudah gue menapakkan kaki di Kabupaten ini. LIMA BULAN. Baru lima bulan ya ternyata, hahaha! *garuk kepala*

Well, gue mau ngelanjutin beberapa kisah yang gue rangkum lagi, di blog gue. Atau lebih tepatnya gue sebut sebagai tweet over 140 characters.



Foto ini gue ambil dua bulan yang lalu, tepatnya pas gue lagi ada kerjaan kantor ke sana. Tepatnya di sebuah desa bernama Bebakung. Gue ambil foto ini dengan kamera hape (nggak pake Camera 360 tapi ya) jadi hasilnya nggak begitu bagus. Maklum, cuma 2Mpx. Gue ngambil foto ini tepat setelah ada ibu - ibu dan anaknya muncul dari belakang bangunan (rumah? bukan. Semacam saung? Mungkin. Entahlah) sambil memakai kain dan membawa gayung. Beliau menyapa gue dengan bahasa daerah, yang gue terjemahkan (gue udah beberapa kali ketemu masyarakat berbahasa yang sama, jadi gue agak familiar dengan istilah - istilah mereka): 
"Hey, what's up? I've been having bath here"
(pastinya gue sendiri yang translate ini pake bahasa bule)

Gue cuma mengangguk dan tersenyum. Gaya khas gue yang gue pake kalo lagi bingung mau ngomong apa. Tahukah kalian, di belakang saung itu ada sebuah sungai yang aliran airnya bisa menghanyutkan motor yang sedang diparkir? Yak, sungai itu entah apa namanya, tapi arusnya kenceng amit - amit. Gue diceritain kalo sungai itu pernah menenggelamkan rumah di satu desa dan menghanyutkan barang - barang mereka termasuk motor. FYI, satu desa di sini nggak lebih dari rumah - rumah kayu yang berjajar di jalanan tanah becek yang lurus (ada sih gang - gang kecil dari kayu gitu, entah itu bisa disebut jalan atau jembatan). Rumahnya ngumpul. Dan hampir semua masyarakat di sana "bersaudara". Artinya, si A adalah saudara dari si B, C, D, sampai Z, yang kesemuanya itu rumahnya ya di situ - situ aja.
Ingatan gue langsung flashback ke kampung gue di tahun 90-an. Dulu gue sering liat di kali kecil deket tanah kosong di kampung, ibu - ibu mandi pake gituan. Eh, ternyata di 2014-an ini ada juga. Dan banyak, Katanya sih, hal kayak gitu biasa di sini. Kamar mandi berjamaah juga biasa. jangan dibayangin sungainya itu jernih macam air di Derawan ya (postingan gue sebelomnya, hehe, promosi sekalian). Air sungai itu warnanya kopi susu. Agak sedikir beruntung karena orang - orang nggak pake air ini buat masak atau minum. Mereka menggunakan air hujan buat masak atau minum.

Nggak cuma desa itu yang kondisi infrastrukturnya kurang bagus. Beberapa yang lain juga sama. Bahkan ada yang belom tersentuh PLN, jadi mereka harus putar otak buat sekedar ngedapetin pasokan listrik. Diesel dan biogas lah andalan beberapa desa yang belom tersentuh listrik itu. Jadi, ya, bisa ngerasain gimana mereka hidup seadanya. Maksud gue, kalo ada solar ya alhamdulillah, kalo lagi susah solar ya sudahlah.

Beralih ke perjalanan jauh gue ke kabupaten sebelah. Gue ngelewatin hutan - hutan yang masih dalam bentuk hutan (menurut lo?!). Gue juga ngelewatin beberapa desa yang menurut gue belom layak dikategorikan sebagai desa. Ada yang cuma terdiri dari satu RT. Yak, satu RT. Bandingkan sama kabupaten di Jawa, mana ada yang cuma punya satu RT. Tapi ya sudahlah, mungkin suatu saat bakalan berkembang. Ya, suatu saat. Entah kapan. Gue cuma bisa memandang miris sama rumah - rumah kayu yang hampir tidak tampak karena pohon - pohon buah yang menutupinya. Kalo lagi panen buah, kayaknya tiap rumah disini pohonnya berbuah berjamaah. Ya, tentunya gue wajib mengenalkan buah yang menurut gue belom sempet gue temui di Jawa: Lai dan Matakucing. Buat yang pengen tau penampakannya, googling aja ya. Lai itu semacam durian tapi nggak lembek. Katanya sih kadar alkoholnya rendah banget dan nggak bikin kolesterol, katanya. Aromanya nggak beda jauh sih sama durian, agak nggak menyengat aja.  Kalo mata kucing itu semacam kelengkeng tapi ukurannya jauh lebih kecil dan biji hitamnya itu jauh lebih gede (mungkin ini sebabnya buah ini disebut "mata kucing"). Bisa dikatakan kalo daging buahnya nggak setebel kelengkeng walopun rasanya nggak beda jauh. Selaen buah - buahan itu, kabuapten ini juga melimpah rambutan, langsat, durian, dan cempedak. Oh, iya, ada durian yang dagingnya merah juga. Untuk masalah harga, asalkan mau ke kebun - kebun, durian sebiji bisa cuma dihargain 3000 perak. Dan kalo rambutan, bisa cukup dibayar dengan "ucapan terima kasih". Hehehe. kayaknya sih bulan kemaren adalah puncak panen buah. di sepanjang jalan, di kebun - kebun, di tanah kosong, bahkan di pekarangan rumah, buah bertebaran. Mulai yang dijual sampe dibagi - bagiin. Gue sendiri sampe mabok rambutan, sampe bosen. 

Oiya, selain buah - buahan, kabupaten ini juga menyimpan potensi perikanan yang menurut gue cukup bisa dikembangkan. Lima bulan di sini, gue lihat sih harga ikan di pasar emang tinggi. Tapi ada yang cerita kalo harga ikan yang dijual di desa - desa "pedalaman" sana jauh lebih rendah, bahkan bisa dibilang jauh dari harga pasar. Dan kerennya lagi, kabupaten ini punya beberapa spesies ikan yang nggak gue temui di pasar - pasar di Jawa. Gue sering banget makan ikan yang belom pernah gue makan sebelomnya. Bentuknya absurd, rasanya aneh. Gue kadang - kadang mikir juga sih, apa ikan - ikan ini udah melalui uji kelayakan konsumsi manusia sampe bisa bertengger di piring makan gue. Tapi yang namanya perut kan nggak bisa mikir, dengan modal bismillah masuklah ikan - ikan itu ke mulut. Hahaha.

Banyak potensi di tempat ini yang sepertinya kurang mendapat perhatian. SAyang banget, sih, menurut gue. Kemajuan pesat emang tampak di ibukota kabupaten, tapi di daerah pinggiran tampak masih kurang. Ibukota kabupaten emang udah full time listrik dan air PAM, tapi daerah sekelilingnya bahkan ada yang masih pake diessel dan air hujan. Ya, maklum, kabupaten baru.

Tapi yang paling gue prihatinkan adalah kehidupan bocah - bocah di ibukota kabupaten ini. Gila, gue geleng - geleng kepala. Anak - anak SD yang mestinya masih maen karet, udah pegang motor sendiri! Mana kalo pake motor ngebut, nggak seimbang, boncengan tiga, nggak pake helm, becandaan pula. Komplit, kan? Kalo tabrakan, yang salah yang nabrak. Bussseeeeeeeet!

Gue pernah emosi sama bocah - bocah yang sok dewasa itu. Suatu hari, gue lagi naek motor, buru - buru, urusan kantor. Eh ada bocah - bocah pake seragam SD, cewek, boncengan tiga, becandaan gitu, kenceng banget motornya dari arah yang berlawanan sama gue. Mereka kayaknya mau belok (tanpa lampu sein), potong jalan gue. Entah ada setan apa di otak gue, gue nggak berniat nge rem. Yang ada di pikiran gue cuma satu: gue tabrak kalian, kalian jera. Beres. Padahal efek yang bakal gue tanggung kalo itu beneran kejadian banyak banget. Satu, itu motor kantor. Dua, gue bisa luka - luka. Dan yang paling gila, gue bisa dipenjara gara - gara menghilangkan nyawa bocah - bocah yang orang tuanya mungkin punya otak lebih nggak waras dari gue waktu itu. Untung beribu untung, motor bocah - bocah itu berenti sebelom motor gue berhasil nyentuh motor mereka. Gue rasa, gas nya mati, tepat saat moncong motornya beberapa senti dan posisi gue yang lewat. Gue akhirnya cuma ngumpat aja ke arah mereka (dan akhirnya gue sadar kalo gue pake helm jadi mereka kayaknya nggak denger apa yang gue omongin, apalagi ngelihat muka gue).

Kecewa. Gue kecewa sama para orang tua di sini, khususnya yang tinggal di sekitaran tempat gue bermukim sekarang. Bocah - bocah kecil gitu dibiarin naek motor, boncengan pula. Nggak cuma satu, dua, tapi udah jadi trend! Oh my, gimana nasib penerus bangsa ini ntar, kalo di kabupaten baru sekecil ini generasi mudanya udah diajarin hal - hal kayak gitu? Sebenarnya apa yang dipikirkan orang tua mereka? Jarak yang jauh, eh? Atau duit yang berlebih? Gue miris, di saat bocah - bocah lain di pinggiran masih jalan kaki buat sekolah, atau sekedar bersepeda ontel, bocah - bocah sekitaran sini udah pamer motor, dengan bangganya bawa motor boncengan bertiga (bahkan pernah gue lihat berempat) ke sekolah. Hello??? Gue speechless. Gue pribadi, lebih sering jalan kaki daripada naek motor. Selaen karena gue nggak punya motor (sehari - hari gue bertugas pake motor kantor), gue juga nggak mau masa tua gue ntar penyakitan. Yak, gue sekalian ngelatih badan biar gerak.Duduk di kantor udah bikin badan gue manja, gue nggak suka. Gue sering ditegur bos, kenapa nggak naek motor aja. Alasan panas lah, jauh lah. Enggak. Selagi gue masih mampu, gue mending jalan kaki. Banyak mata memicing kalo ngeliat gue jalan kaki. Bodo amat! Ntar, gue masih bisa lari - larian, lu pada udah bebaring di rumah sakit kena stroke!!! *evil smlie* *jahat banget gue daritadi*

Indonesia.... Indonesia....

Inilah salah satu faktor kenapa gue nggak simpati sama bocah - bocah di sini, yang seharunya mendapat uluran tangan pemerintah biar makin keren prestasinya. Males gue ngelihatnya. Apalagi anak - anak ABG sok kota yang gayanya udah terpengaruh sama sinetron - sinetron bodoh yang sepertinya ditonton sama orang tuanya. Duh. Miris. Keadaan yang jauh banget sama pemandangan yang gue lihat di desa - desa lain yang ada di pinggiran. Entah gue harus bangga karena gue udah tinggal di ibukota kabupaten yang fasilitasnya udah tergolong enak (NOTED: rumah di kabupaten ini masih 90% berdinding dan beralas kayu juga beratap seng, jadi yang gue maksud fasilitas terbatas pada listrik, air PAM, dan pasar) atau gue harus kecewa karena dengan gue di sini, gue ngelihat kenyataan miris ini.

Ah sudahlah...

Sekian dulu postingan blog gue. Sinyal telk**sel beberapa hari ini agak kacau, takutnya postingan ini keburu nggak kebagian sinyal buat di publish. Hehe.



Sampai jumpa di perjalanan berikutnyaaa.... ^^



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Backpacker Absurd Ke Derawan

Ini adalah perjalanan biasa...dilakukan oleh dua orang biasa...tapi menuju tempat yang LUAR BIASA!


Perkenalkan, gue dan sohib gue adalah dua orang cewek absurd yang nggak sengaja nemuin keberuntungan beruntun sampai akhirnya ombak laut ngebawa kami ke pulau surga yang namanya DERAWAN.


*drum roll*


#DAY1

Ke-absurd-an ini berawal dari kami yang baru aja pulang dari tugas dinas di Samarinda hari Jumat, 6 Juni 2014. Kebetulan kami kerja di salah satu kabupaten di Kalimantan Utara, jadi kalo mau balik ke "kantor" harus singgah ke Kota Tarakan dulu.
Pesawat kami landing sekitar pukul 10.45 WITA. Tujuan kami setelah bandara pasti lah pelabuhan. Jarak dari Bandara Juwata ke Pelabuhan Tengkayu nggak jauh, sekitar setengah jam aja. Untuk pilihan transportasinya bisa naek mobil - mobil carteran atau naek ojek. Kami sih biasanya minta jemput temen. Hehehehe.

Pas di pelabuhan, kami berniat pesen tiket balik, tapi iseng - iseng nanya jadwal keberangkatan menuju Derawan sekaligus harganya. Eh si mbak - mbak penjual tiket malah nawarin kami: "Siang ini ada speedboat reguler perdana ke Derawan."
Kami berdua saling pandang, kemudian hening. Spontan kami senyum dan nanya berapa harganya. Cuma 250 ribu sekali jalan, jadi kalau PP cuma 500 ribu. Tanpa pikir panjang, kami batal beli tiket pulang dan beralih ke Derawan. Padahal kami cuma bawa beberapa lembar sisa baju yang masih belom kepake sisa pelatihan kemaren. yang ada di pikiran kami cuma satu: kesempatan nggak bakal datang dua kali! NEKAT!(Sebenernya sih mumpung kami masih dalam "surat ijin" jadi nggak dianggep bolos kerja. Hahahaha!)

Jadi, sekarang udah ada speedboat reguler rute Tarakan-Derawan PP dengan tarif Rp 250.000 sekali jalan. Tiket PP bisa langdung dipesan biar nggak kehabisan. Tapi rute ini hanya melayani keberangkatan di hari Jumat pukul 2 siang dan balik hari Minggu pukul 2 siang WITA (Kabarnya, jam ini bakal diganti jadi hari Minggu pukul 9 pagi untuk mengantisipasi penumpang yang ngejar pesawat siang/sore).

Dulunya ke Derawan melalui Tarakan hanya dilayani dengan speedboat pribadi yang di carter, bisa sampe 2 juta lebih per boat. Buat kalian yang mau wisata rombongan, nggak campur sama penumpang laen, bisa pakai cara ini. Atau buat kalian yang mau lewat rute lama: Berau (Tanjung Redep) - Derawan, bisa juga sih. Rutenya, dari bandara Berau (Tanjung Redep) langsung ke Tanjung Batu via mobil - mobil carteran, tarifnya antara 70 - 100 per orang lah dengan waktu tempuh 3 jam. Setelah dari Tanjung Batu bisa nyeberang dengan speedboat selama 30 menitan. Saran dari orang Derawan sih, hati - hati dikibulin tukang boat. Jangan mau carteran, tarifnya itung aja per kepala 50 ribu, gitu. Gue sendiri belum coba rute itu jadi rute Berau-Derawan ini gue cuma denger pengakuan orang - orang Derawan aja sih.

Balik ke cerita gue.

Karena gue backpacker absurd dadakan, gue langsung lari - lari menuju speedboat yang ternyata udah penuh orang. Kami harus duduk di bangku "cadangan" deh. Oh iya, buat kalian yang belom pernah naek speedboat, bangku "cadangan" adalah bangku - bangku plastik yang diletakkan di tengah boat. FYI, speedboat itu kan duduknya hadap - hadapan\ semacam angkot gitu.
Kebetulan kemaren itu kami barengan sama tiga rombongan keluarga. Yang pertama adalah penduduk asli Derawan, yang kedua adalah pengantin baru bersama keluarga "super besar"nya, nah yang ketiga kami waktu itu belum tau rombongan apa. Speedboat akhirnya melaju setelah kami datang. Nggak disangka, ombaknya jauh lebih gede ketimbang ombak sungai yang biasa kami lewati menuju kabupaten. Tapi karena kami mungkin sudah terbiasa, tetap aja kami bisa tidur pulas meskipun duduk di bangku cadangan dan ombak yang berhasil bikin beberapa orang mabok. Hahahahaha.

Dua jam berlalu, kami pun bangun. Nggak kerasa, kami udah ada di tengah laut. Tanpa kapal satupun yang nemenin. Hahaha. Nggak lama kemudian keliatan beberapa pulau. Penumpang yang merupakan penduduk asli Derawan tiba - tiba ngomong: "Itu pulaunya, udah keliatan dikit". Ternyata udah keliatan, tappi kecil banget. Barulah 45 menit kemudian pulau itu udah mulai tampak jelas. Spontan kami semua kegirangan kayak anak kecil: "De...Ra...Waaaaaaaan." (maklum, yang pernah tau Derawan ya cuma rombongan orang asli sana, yang laen ya baru pertama kali, hahaha)
Setelah desak - desakan di speedboat, akhirnya terbayar sudah jerih payah kami. Dari kejauhan pulau itu nggak beda dengan pulau - pulau eksotis Indonesia lainnya: menakjubkan. Tapi setelah mendarat dan menjelajahi, ternyata Derawan punya sisi - sisi eksotisme tersendiri menurut gue.

Setibanya di pelabuhan, kami berdua langsung heboh. Seumur - umur gue belom pernah ngeliat laut sebening itu di bawah telapak kaki gue. Emang gue nya aja kali ya yang nggak pernah ke tempat - tempat eksotis, haha! Tapi bener, tetibanya itu kami langsung ambil handphone dan foto - foto dengan kamera resolusi rendah (punya temen gue sih masih bagus 8 Megapixel, lah gue cuma 2 Megapixel, burem! haha!) soalnya emang kami nggak punya DSLR. Kami nggak ribet bawa barang karena emang kami cuma bawa tas punggung dengan isi seadanya tadi. Ini nih beberapa jepretan amatiran kami:


Penampakan kapal reguler yang mengangkut kami (dan banyak orang lainnya)


Our first sunset di dermaga Derawan, sekitar pukul 5 sore (WITA)

Setelah nyampek, suer, kami nggak tau mau kemana. Gue belom sempat blog-walking tentang Derawan, jadi gue juga nggak tau tempat - tempat yang recommended di sini. Hahaha! Untungnya kami ketemu rombongan (yang tadi gue nggak tau rombongan apa itu) dan ternyata mereka rombongan dari instansi sebelah yang juga baru pertama kali liburan di Derawan. Kenalan lah kami sama mereka, lima orang. Akhirnya, kami bertujuh memutuskan buat muterin pulau yang katanya cuma butuh waktu 30 menitan itu (emang bener, cuma 30 menit ternyata setelah kami buktiin). Di perjalanan, gue ketemu spot ini:


Setelah beberapa langkah, ketemu view beginian

Akhirnya kami menginap di penginapan yang berbeda soalnya mereka udah nggak sanggup jalan lebih jauh (maklum, ada yang udah bapak - bapak). Gue dan sohib gue di penginapan Pinades, sedangkan mereka berlima di penginapan Lestari 1. Derawan menawarkan banyak pilihan resort, penginapan, dan homestay. Kalo buat kalian yang berduit atau rombongan, bisa pilih resort agak mewah, rate nya paling rendah (jauh dari tepian pantai) 500ribu dan paling tinggi...entahlah..mungkin tiga juga keatas. Tapi emang eksklusif banget tempatnya. Kayak gini nih:

Resort mewah (ngarep ada yang ngajakin nginep di sini hahaha)

Tapi karena kami hemat budget, jadi kami pilih penginapan murah tapi masih di atas laut letaknya. Pinades namanya, bagian dari Sari Cottage. Semalem yang nonAC plus kamar mandi dalem harganya 200ribu, buat 2 orang tapi pake kasur lantai (tapi kasur lantai yang tebel loh). Kalo Penginapan Lestari 1 yang nonAC cuma 175ribu, kasurnya springbed juga buat dua orang. yang AC 250 ribu. Menurut kami sih Pinades cukup bersih dan nyaman, soalnya ada balkon belakangnya, beda sama Lestari 1. Jadi kalau mau merenung bisa duduk - duduk doang di balkon sambil pandangin tepian. Murah tapi menyenangkan deh. Begini penampakannya:

Penginapan Pinades


Nah ini kamar kami


Pemandangan yang keren dari balkon belakang


View balkon depan kamar

Sekedar saran sih, jangan ke Derawan pas musim liburan. Kata ibu - ibu penjaga penginapan sih, pas musim liburan, orang yang ke Derawan bisa sampai 650 orang. Gue ngebayangin aja, pulau sekecil ini didatengin 650 orang bareng - bareng. Bukan cuma penginapan katanya yang rame, tapi jalanan dan spot - spot keren foto juga. Katanya, penduduk aja sampe miring - miring kalo jalan saking sempitnya. Beruntung lagi gue ke sini pas nggak musim liburan, padahal gue nggak sempet mikir serame itu. Lagipula kalau penginapan dan resort pada penuh, satu - satunya pilihan ya homestay, yaitu rumah penduduk yang dibikin semacam kamar khusus tamu (itu pun katanya juga sering kehabisan). Lebih murah sih, ada yang sampe 100ribu tapi kalo buat liburan kayaknya kurang aja gitu, masa liburan nginepnya di rumah orang. Lagipula kalo homestay umumnya kamar mandinya di luar, kadang campur sama pemilik rumahnya. Kalo buat cewek sih nggak recommended yaaaa kecuali kalo para backpacker bener - bener pengen liburan super hemat. Tapi ada juga homestay yang emang disewain satu rumah gitu jadi bisa buat bareng - bareng, entah berapa harganya gue nggak sempet nanya.

Nyampe di penginapan, kami cuma mikir satu hal: makan. Akhirnya setelah beres - beres, kami mulai menerobos malam buat cari makan. Derawan menawarkan beberapa cafe, kayak gini nih:


Sslah satu cafe yang rame pas malem hari

Tapi karena kami pengen hemat, kami menuju ke warung sederhana aja dan makan nasi goreng. Lumayan kok rasanya. Berdua total cuma 40ribuan.


Warung Bulek Siti, jual macem - macem kok

Abis makan, kenyang, kami balik ke penginapan. Gue menghabiskan malam dengan merenung. Tiba - tiba rombongan berlima ngehubungi kami, katanya besok mau snorkling tapi bayar patungan. Sebenernya kami nggak kepikiran buat snorkling, soalnya pasti nggak bakal mampu nyewa speedboat cuma dua orang aja, Alhasil kami langsung nge-iya-in tawaran itu. Lagi - lagi kami beruntung. Berakhir sudah hari pertama di Derawan.


#DAY2
Kami kesiangan! Padahal mau ngejar sunrise. Cuaca juga lagi mendung. Tapi kami masih ngotot cari sunrise yang menurut perkiraan kami ada di dermaga resort - resort mahal yang kami lewatin kemarin. Emang bener ternyata, sunrisenya masih ada dikit - dikit. Sebenernya di dermaga resort itu ada tulisanya "dilarang masuk selain tamu" sih, tapi karena masih pagi dan lagi sepi banget, kami masuk - masuk aja tuh. Hahaha! Mungkin ceeritanya bakal beda kalo pas musim liburan kali ya..


Jepretan "Late Sunrise"

Karena kami janjian snorkling jam 8 pagi, kami tunda dulu muterin pantainya, balik ke penginapan dan siap - siap. Akhirnya kami ketemu rombongan dan siap naek kapal. Paket snorkling yang kami pakai ini milik Penginapan Lestari, katanya sih 1.750.000 harganya, exclude sewa alat snorkling dan makan siang. Tapi ujung - ujungnya kami total cuma abis 380 ribu include makan malam "super gede" dan sarapan pagi. Gue sendiri nggak tau itungannya gimana, yang jelas ini murah banget, menurut kami.


Penampakan speedboat yang ngebawa kami bertujuh ke pulau - pulau

Ombak yang tenang di pagi hari bikin suasana makin menakjubkan. Laut yang bening dan tenang bikin kami semua speechless. Norak banget, hahaha! Dan kira - kira satu jam lebih akhirnya kami sampai di Pulau Kakaban.

Spot yang difoto sejuta umat kalo pas ke Kakaban

Awalnya kami pikir itu cuma pantai, tapi di dalam hutannya ternyata ada danau yang isinya ubur - ubur nggak menyengat. 

Jalanan menuju danau yang kayaknya licin banget kalo pas lagi hujan

Tibalah kami di danau ubur - ubur dan siap snorkling, Jujur, ini pengalaman gue snorkling pertama kali tapi untungnya gue langsung bisa.


Ini dia danaunya! Gue nggak bisa foto dalam air soalnya nggak punya kamera underwater

Kereeeeen! Tapi geli. Ubur - uburnya dilarang dicium atau dideketin ke kulit muka soalnya bisa bikin agak gatel. Tapi kalo sekedar lewat sih nggak masalah. Cuma ya itu, geli banget apalagi yang gede. Makin ke tengah makin banyak yang gede - gede, hehehe.
Puas maen sama ubur - ubur, kami diajak snorkling. Nggak jauh dari pantai sih, tapi karena masih pagi jadi masih banyak banget ikan warna - warni ngambang. Sayangnya ya itu, gue nggak punya kamera underwater jadi nggak ada dokumentasi. Setelah itu kami balik lagi ke tepian pantai buat foto - foto sambil makan siang.Meskipun makanannya seadanya tapi kalo rame - rame di pinggir pantai pasir super putih dan laut with crystal water gitu rasanya laen! Suer!

Setelah ngisi perut kami lanjut ke pulau Maratua buat ketemu Black Manta, ikan pari yang terkenal itu. Dalam perjalanan, kami ditemenin sama sekawanan lumba - lumba. Yap, bener, kami beruntung lagi. Speedboat kami dikelilingi sekawanan lumba - lumba yang tiba - tiba muncul tiba - tiba ilang sambil atraksi lompat - lompat. Sayang juga nggak ada yang sempat ngambil fotonya, kecepetan dan tiba - tiba sih. Tapi kereeeen!

Kali ini gelombang laut kurang bersahabat, lagi tinggi. Kami udah sampai di spot snorkling Pulau Maratua tapi nggak ada yang berani nyebur. Maklum, belum ada perenang profesional dan kami nggak bawa tour guide. Akhirnya dengan berat hati kami ninggalin sang Black Manta tanpa sempet ketemu.

Perjalanan dilanjutkan ke pulau terakhir yaitu Sangalaki. Lagi - lagi dalam perjalanan kami digiring sekawanan lumba - lumba. Gemes rasanya pengen jepret foto tapi tetep aja nggak kena. Sekitar 15 menit, pulau Sangalaki menyambut kami. Kami langsung menuju ke tempat penangkaran penyu.


Bayi - bayi penyu yang diperkosa tangan - tangan manusia

Gue secara pribadi nyesel sih harus lliat penyu - penyu itu diajak foto sama tangan - tangan manusia sampe ada yang lemes banget penyunya. Gue nggak mau berlama - lama di sana, nggak tega. Lalu gue dan sohib gue jalan - jalan terpisah dari rombongan. Daaaan, kami sampai di "Private Beach"! Kenapa gue sebut gitu? Karena cuma kami berdua yang ada di sana, di sepanjang mata memandang!


Pantai Kosong


Pantai Kosong Lagi


Nah yang ini ada pohon tumbangnya


Yaudah akhirnya gue ngelamun aja

Gue bener - bener nggak mau hengkang rasanya dari pantai ini. tapi sayangnya hari udah sore dan kami semua harus balik ke penginapan sebelum ombak makin tinggi. Tapi mungkin nggak bakal sesepi ini kalo musim liburan ya. Good bye, Sangalaki! :')

Sebelum balik, kami diantar dulu buat snorkling di deket Sangalaki. Tapi ombaknya gede banget. Kami emang nyebur sih tapi pemandangan bawah lautnya nggak seheboh tadi pagi. Kami pun hengkang dan sebelum nginjek pulau Derawan lagi, kami mampir ke pulau pasir, semacam yang di Bangka Belitung itu loh. Gundukan pasir tengah laut. Kayak gini nih:


Berasa diapit dua lautan, haha!

Akhirnya kami balik ke penginapan. Tapi gue yang menggilai sunset masih berniat buat ke dermaga kedatangan yang katanya sunsetnya bagus banget. Setelah lari - larian, ini hasilnya:


Dermaga Kosong


Not a great one but good :)


Dan gue pun ketemu serombongan mahasiswa yang minta difotoin


Dan perjalanan pun berakhir. Capek sih tapi seneng banget! Dan setelah bersih - bersih badan, kami pun menuju rombongan berlima di Penginapan Lestari dan makan bareng dengan porsi jumbo! Lanjut ngobrol - ngobrol santai di depan penginapan mereka sampe malem. Akhirnya kami tidur dengan amat sangat nyenyak. :')

#DAY3

Kali ini kami nggak ketinggalan sunrise lagi! Badan udah fit, kami menuju ke pantai. Keren abis!


Kayaknya kali ini kami justru kepagian soalnya nggak ada orang di pantai kecuali tukang bersih - bersih sampah pantai di pinggiran. Yang gue sayangkan, pengunjung agaknya kurang bijak di pantai. Masih ada sampah - sampah yang bisa ngerusak alam Derawan. Sayang banget. Mental manusia lah yang bikin pantai - pantai eksotis semacam Derawan ini binasa. Apa sih susahnya ngumpulin sampah?

Perjalanan kami berlanjut menyusuri pantai. Burung - burung bangau tebang rendah, hinggap, terbang lagi. Sepi. Nyaman.


 Apalagi yang lo cari kalo udah nemu pemandangan kayak gini?

Kami terus jalan kaki berdua sepanjang pantai. Yaaaa sesekali duduk juga di pinggir sambil ngelamun, terus lanjut jalan lagi. Sebenernya kami ketemu sama rombongan lima orang yang bareng kami snorkling itu, tapi mereka nyewa sepeda sedangkan kami jalan kaki jadi mereka cabut duluan. Sewa sepeda di sana cuma 20 ribu dua jam (bisa lebih sih sebenernya). Kami sih memilih jalan kaki aja biar lebih seru. Dan akhirnya kami singgah di sebuah dermaga kosong. Kami nggak tau fungsinya apa, nggak berniat nanya juga ke penduduk, jalan aja lurus. Eh ternyata itu adalah pelabuhan tempat penyu - penyu nyender. Kami nggak sengaja nemuin lima penyu yang renang - renang santai di sana. Amazing! Berapa keberuntungan yang udah kami dapet? Hahaha!


Lagi - lagi kurang jelas tanpa DSLR

Kami pun jalan lagi, sampe ujung dermaga. Niatnya cuma duduk santai, eh ternyata ada yang aneh sama air di bawah kami. Ternyata sekumpulan ikan kecil lagi ngebentuk barisan dan nggak lama kemudian lompat - lompat indah gitu, semacam atraksi ikan berjamaah. Ohmy...bener - bener kami belom pernah ngeliat itu sebelumnya! (Kami emang norak, hahaha!) Dan kami bengong liat ikan - ikan itu sampe kira - kira satu jam lamanya! Gue ngehubungi rombongan lima orang bersepeda itu soalnya gue berani jamin mereka belom ke dermaga yang ini. Nah pas mereka nyampe ternyata penyunya udah pada ilang. Belum seberuntung kami. Yes! :))

Karena udah siang, kami memutuskan buat sarapan dan keliling toko souvenir buat belanja - belanja pernak - pernik laut sekedar buat oleh - oleh.


Potret jalanan di Derawan

Tepat pukul setengah satu, dengan berat hati kami check out. Berat rasanya buat balik. Tapi gue masih cukup waras untuk kembali semangat ngumpulin duit biar bisa ke sini lagi lain kali.


Last shoot before leaving :')

Good bye Derawan...I'll be back soon :')

SEKIAN


*Thanks banget buat Fufu atas persahabatan dan perjalanannya. Thanks juga buat rombongan Bu Keke dan DSLR-nya*

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS