Hi!
Gue menyempatkan diri menulis review perjalanan sangat singkat gue ke Bontang, salah satu kota di Kalimantan Timur.
Sebenernya gue berekspektasi bisa punya banyak cerita di tempat ini tapi mungkin Tuhan berkehendak lain, hahaha!
(Ini adalah tulisan dengan waktu mengendap terlama sebagai sebuah draft. Gue terlalu sibuk mengurus proyek baru.)
Yak, langsung aja gue review perjalanan singkat gue. Check this out!
Gue kembali menyempatkan liburan selepas tugas dinas. Ya, curi - curi waktu. Kali ini sengaja tanpa persiapan apa - apa. Pagi hari, gue baru cari - cari nomor travel yang bisa ngebawa gue dan temen - temen gue dari Samarinda menuju Bontang. Nggak gampang, karena kami cari yang harganya sesuai kantong. Setelah tanya sana sini, kami dapat mobil dengan harga seratus ribu per kepala. Karena waktu terbatas, gue sepakat pakai jasa mobil ini. Soalnya bapak travel ini juga menyediakan jasa travel buat kami balik dari Bontang ke Balikpapan nantinya dengan harga yang murah pake banget. (Lagi - lagi, travelling hemat adalah prioritas.)
Untungnya, recommended travel agent banget si bapak ini. On time! Tepat pukul satu kami meluncur ke Bontang, tanpa tau mau menuju kemana, hahaha! Tapi yang bikin kami terkejut, buset, kenceng banget!!! Perjalanan kami tempuh cuma dua jam (yang normalnya tiga - empat jam!). Gue terus terang nggak seberapa ngerti gimana cara dia mengemudi karena dalam perjalanan gue tidur pules banget (malam harinya gue begadang nonton sampai pagi, hehe.)
Setibanya di pintu masuk Kota Bontang, pak sopir baru tanya: Kita mau diantar kemana kah?
Gue cuma ketawa miris dan menjawab: Hotel pak, dekat beras basah. Dan si sopir kaget. Dia nggak percaya kalau gue langsung menuju tempat yang dinamakan beras basah. Ternyata si sopir bilang kalau jam siang - siang begini sudah tidak ada kapal ke beras basah. Karena gue berpikir Pulau Beras Basah (yang katanya little Maldieves) itu sejenis Kakaban, Maratua atau Sangalaki (Derawan) ya gue langsung berpikiran singgah di hotel lain yang ada di kota Bontang, yang paling dekat dengan pelabuhan. Sayangnya, pak supir tidak tahu menahu tentang hotel. Gue menyerah, akhirnya gue pun browsing dan menemukan satu hotel bernama Hotel Marina, letaknya di sebelah pasar Rawa Indah.
Sedikit review untuk hotel ini, sekelas hotel melati pada umumnya sih. Tarif yang ditawarkan juga murah. Tapi yaa, you know lah hotel melati itu kayak gimana.
(Pic)
Kami cuma meletakkan barang - barang dan bergegas cari makan. Sebenarnya ada beberapa hotel murah di dekat pusat kota Bontang (Hotel Garuda salah satunya) tapi karena halaman google pertama yng gue lihat adalah adalah hotel ini, ya sudahlah. Plus-nya di sini adalah hotel ini dekat dengan pasar Rawa Indah (gue bakal menjelaskan makna "plus" di sini ntar). Akhirnya setelah agak lama, kami mendapatkan angkot menuju sebuah tempat mirip cafe (atau sebut saja tempat makan yang tidak termasuk dalam kategori "warung"). Kami ngemil di sana sambil googling tempat apa lagi yang bisa kami eksplore sebelum menuju Beras Basah besok. Kebetulan si pelayan menyebutkan kalau Cafe Singapore (sebuah cafe yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Bontang) tidak jauh dari tempat kami. Kami pun memutuskan ke sana. Sayangnya, menemukan angkot di Bontang sore hari amatlah menyebalkan. Hampir dua jam kami berdiri, tidak ada satupun angkot yang lewat. Untungnya, penantian kami terbayar dengan datangnya sebuah angkot dengan seorang supir yang super ramah. Kata temen gue sih, tampang preman tapi hatinya dermawan (cuma gara - gara si supir akrab banget sama anak - anak SMP yang kebetulan mengisi penuh angkotnya).
Ternyata yang dimaksud dengan Cafe SIngapore adalah sebuah cafe yang dibangun di tepian laut dan di sana berdiri sebuah "MERLION". Yap, persis dengan patung kebanggaan Negara Singapura.
(Pic)
Kami pun kembali ngemil di sana karena menu makanan yang ditawarkan belum menggoda iman kami untuk makan. Kelihatannya sih, orang yang datang ke sini tujuan utamanya adalah foto di patung itu. Tapi sungguh disayangkan. Kenapa justru membangun sebuah icon seperti negara tetangga? Kenapa mereka tidak membangun patung Gajahmada, Garuda, atau bahkan patung Neptunus sekalian, biar nggak dituduh "menjilak"? (abaikan, ini pertanyaan bodoh.)
Oke. Kami pun melanjutkan perjalanan, kali ini dengan angkot yang sama. FYI, kami "mengontrak" angkot tadi untuk mengantar dan menjemput kami karena lokasi Cafe Singapura yang jauh dari jalan raya. Kami tidak mau mengambil resiko bahaya mengingat kami semua perempuan dan jam sudah menunjukan pukul tujuh malam. Kami pun kembali ke hotel dengan niat mencari makan di sekitar hotel saja.
Memang dalam perjalanan kami yang tanpa rencana dan persiapan, selalu ada keberuntungan (Alhamdulillah). Ternyata hotel kami tidak jauh dari sebuah area PKL yang menjual makanan khas bontang: IKAN SAMBAL GAMI. Ya, kami merasa sangat beruntung. Area PKL ini ramai sekali. Ternyata penjual di sini hanya berdagang di malam hari. Betapa senangnya kami karena besok malamnya kami sudah tidak menginap di hotel ini lagi.
Kami pun kalap. Seporsi besar ikan ludes dalam sekejab. Ikan di sini dijual per-kg. Jadi, kita bebas memilih ikan mana yang akan dimakan, ditimbang dulu, lalu deal harganya berapa. Benar - benar hemat kalau kita makan rame - rame.
Selepas makan, kami langsung ke hotel. Jarak area PKL ini tidak jauh dari hotel jadi kami cukup jalan kaki saja.
Keesokan harinya, kami menuju pelabuhan. Karena masih ada teman kami yang belum sampai di Bontang, terpaksa kami harus menunggu. Terus terang, gue kaget banget melihat pelabuhannya. Mungkin karena sebelum - sebelumnya gue travelling ke beberapa tempat yang cukup "wah", gue langsung speechless pas lihat pelabuhan di sini. Biarlah gambar yang berbicara.
(Pic)
Setlah rombongan siap, kami pun menyewa kapal. FYI, kapal di sini sudah ada rate harganya, khusus hari sabtu - minggu. Semacam ada koperasi yang mengelolanya gitu deh. Tapi untuk weekday (kabarnya) bisa langsung nego dengan para pemilik kapal sehingga lebih murah. Kami diberi harga lima ratus ribu PP. Karena tidak punya pilihan lain, kami pun berangkat.
(Pic)
Satu jam lebih kami ngambang di laut dan akhirnya menemukan pemandangan ini.
(Pic)
Dan...ya...sekali lagi gue speechless....ini (lagi - lagi) bukan seperti ekspektasi gue...
(Pic)
Sekali lagi, tulisan ini murni dari pendapat gue, no offense, ya! Gue mikirnya Pantai Beras Basah yang dijuluki Little Maldieves itu bakalan mengalahkan Derawan (yang sampai saat ini masih memegang urutan teratas selama gue travelling). Ternyata kenyataan memang terkadang harus jauh dari khayalan, Jendral! Hahaha. Tapi nggak masalah. Kali ini gue travelling dengan banyak teman (ini kali pertama gue travelling rame - rame) jadi gue masih bisa have fun ketawa - ketiwi bareng mereka.
Keadaan pantai di sini cukup ramai. Ada fasilitas Banana Boat dan Snorkling. Tapi kami ngak mencobanya karena kami datang pas matahari ada di atas kepala. Kami malas nyebur haha! Airnya memang tidak seperti Derawan but it was also crystal water, indeed. Well, tempat ini masih cukup menarik kok untuk liburan. :)
(Pic)
Kami tidak berlama - lama di sini, selain karena kami nggak nyebur dan cuma berkeliling pulau yang memakan waktu kurang dari setengah jam, kami juga malas kalau harus membayar mahal untuk sekedar buang air kecil. Ya, di sini kami harus membeli air tawar dengan harga yang cukup mahal: lima ribu rupiah untuk satu dirigen kecil.
Karena masih banyak waktu luang, kami mencari objek wisata lain. Dan salah satu teman kami (yang kebetulan baru saja penempatan kerja di Bontang) bilang kalau ada satu tempat lagi yang disebut Lembah Hijau. Karena capek berekspektasi dan nggak punya tujuan lain, akhirnya kami serombongan sepakat menuju ke tempat itu, entah bagaimana wujud tempatnya, yang penting ada tujuan lain. Hahaha!
Dengan menyewa angkot (dua ratus ribu PP dan pak sopir mau nungguin) kami menuju ke sana. Jauh juga ternyata. Dan pemandangan selama menuju ke Lembah Hijau benar - benar menyedihkan. Pembakaran lahan sedang banyak terjadi sepanjang jalan. Entah ini mmenag musim berladang atau musim membinasakan hutan (agak ngeri gue nulisnya) tapi manusia harusnya nggak perlu melakukan ini, se-kaya-apapun hutan Indonesia. Gue bukan sok suci, gue pun belum sepenuhnya menghargai alam tapi di bumi Kalimantan ini manusia - manusianya udah kelewatan banget mengekploitasi alam. Yang batu akik lah, yang batu bara lah, yang hutan lah, apa - apaan sih mereka?!
Oke, gue nggak marah - marah lagi.
Kita lanjut ke Lembah Hijau. Memang beneran lembah dan beneran hijau. Tapi di sini kami melihat hamparan taman bermain yang sepiiiiiiiiiiiiii bangeeeeeeeeet. (Buset, gue lebay banget nulisnya) Saking sepinya, gue sampe nanya ke mbak - mbak penjaga tiket di pintu masuk: Mbak, ini masih buka atau sudah tutup ya, kok sepi?
Dan si mbak itu cuma senyum sambil ngomong: Tadi ada tiga ratus orang yang ke sini, sekarang sudah sepi, kan sudah sore. (Dan gue melirik jam tangan masih pukul dua siang).
Gue nggak mau mempermasalahkan ini sepi atau ramai, yang jelas miris banget melihat objek wisata satu ini. Banyak wahana yang tutup di weekend pukul dua siang hari. Di sini sebenarnya cukup lengkap wahananya. Ada sepeda air, saung pemancingan (yang sebenarnya bisa dipakai piknik juga), ada waterboom dan beberapa kolam renang (yang pintu masuknya terkunci) dan arena bermain seperti Taman Teletubbies dan Arena Kurcaci (yang astaga....gue bingung harus menyebutnya kebun yang terbengkalai atau tempat syuting film horror).
Kami menyusuri area Lembah Hijau. Gue membayangkan kalau tempat ini dikelola dengan baik, pasti akan menarik banyak pengunjung. Hanya saja, tidak hanya areanya yang tidak terawat tapi hewan - hewan yang "dipenjara" di sana. Gue kasihan melihat mereka, entah kenapa.
Semoga saja, pemandangan yang gue lihat ini semata - mata karena ini sudah sore dan sudah mau tutup (gue masih berharap mbak penjaga tiket masuk nggak berbohong. Suer!)
Kami hanya foto - foto narsis aja di sini dan kemudian pergi. Bukan kembali ke hotel melainkan ke tempat salah satu teman kami. Ya, malam harinya kami langsung menuju Balikpapan jadi kami tidak booking kamar hotel lagi. Selanjutnya kami pun bingung mau kemana, hahaha!
Ada usulan, kami makan malam di sebuah area PKL lain yang lebih ramai, namanya Koperasi Pupuk Kaltim. Dan wow, this is the most interesting place while I'm here! Makanannya lengkap, murah dan rame! Haha! Kami kalap. Sembilan orang makan dengan berbagai menu. Ikan bakar, sate, gudeg, batagor, siomay, sampe takoyaki pun ludes tanpa sisa dalam waktu singkat!
Pukul setengah sebelas malam, mobil yang kami sewa untuk berangkat sudah siap mengantar kami kembali. Bukan ke Samarinda tapi langsung ke Balikpapan. Bukan sebuah perjalanan malam yang singkat, tentu. Kami tiba di Balikpapan keesokan harinya, pukul enam pagi jadi kami tidur dalam perjalanan. Tentu saja si sopir berhenti beberapa kali di warung - warung pinggir jalan sekedar untuk minum kopi agar tidak mengantuk.
Sebuah cerita dari perjalanan singkat, melelahkan, tapi tetap ada makna dan cerita di dalamnya.
Sekian kisah gue. And I'm getting excited about my next journey. Guess where it is! :))
Backpacker Absurd to Pantai Beras Basah, Bontang
BACKPACKER ABSURD TO PULAU NUNUKAN (INDONESIA) - TAWAU (MALAYSIA)
Hi!
Dua jam perjalanan nggak menyiksa karena bas yang kami tumpangi cukup nyaman dan sopirnya pun tahu kalau kami tourist sehingga mengantarkan kami langsung menuju area penginapan. Karena hari sudah malam, kami memutukan untuk segera mencari tempat untuk tidur. Beruntung, pak sopir mendaratkan kami di Borneo Backpacker, hostel yang menyediakan dormintory murah buat para backapcker macam kami.
Backpacker Absurd ke Labuan Cermin, Teluk Sulaiman, dan Teluk Sumbang
Hallo!
Ini interval travelling yang cukup singkat, bulan lalu gue ke Singapore dan sekarang gue udah mau posting tentang destinasi lain. Bukan sesuatu yang aneh seandainya gue adalah seorang travel blogger, fotografi alam, atau emang cari duit melalui dunia travelling. Tapiiiii...pekerjaan gue jauh dari itu semua. Hehehe.
Lupakan. Yang jelas gue lagi - lagi mau share tentang perjalanan gue.
Blog ini tidak berbayar ataupun mengharapkan bayaran dari pihak - pihak yang tertarik untuk membayar (halah). Blog ini juga bukan catatan perjalanan atau curhatan, cuma sekedar ngasih tips buat para travelling yang sedang mencari hidden paradise sekaligus merasakan atmosfer masyarakatnya. So, happy reading!
Kamis, 4 Desember 2014
Lagi - lagi tanpa rencana matang, setelah segala proses tugas - tugas dinas gue beres, gue berpikir buat "hengkang" sejenak, mumpung lagi di "kota". Gue kebetulan lagi ada tugas dinas di Kota Tarakan. Karena gue udah pernah ke Derawan, gue coba cari destinasi laen. Sampailah gue (dan sohib gue, yang dulu gue ajakin ke Derawan) kepada satu pemikiran: Biduk - Biduk!
Gue tahu beberapa hal tentang Biduk - Biduk sepulang dari perjalanan Singapore, sebuah keputusan singkat memang kalau gue ternyata nekat travelling tanpa persiapan (lagi).
Biduk - Biduk adalah nama sebuah kecamtana di Kabupaten Berau, kalimantan Timur. Menurut beberapa blog yang gue baca sih, ada sebuah danau yang cukup fenomenal tapi masih jarang dikunjungi wisatawan di sana, namanya Labuan Cermin. Karena gue males cari destinasi lain sekaligus pengen travelling membelah hutan belantara, gue memutuskan untuk berangkat ke sana.
Pertama, kami naik speedboat menuju Bulungan (Pelabuhannya ada di Tanjung Selor) sekitar pukul 11.00 WITA. Sebenarnya bisa aja kami langsung menuju kabupaten Berau tanpa melewati Kabupaten Bulungan dan menempuh perjalanan darat yang amat sangat panjang, yaitu melalui jalan udara. Tapi tentunya, tiket kalstar tidak ramah pada dompet kami.
Kembali ke cerita. Tiket speedboat ikut naik seiring kenaikan BBM. Sekali perjalanan ke Tanjung Selor dihargai Rp 130.000 dengan waktu tempuh satu setengah jam (perjalanan pulang lebih cepat, hanya satu jam) karena cuaca sedang tidak bagus. Sesampainya di Tanjung Selor, kami mulai pasang tampang sok tahu. Ya, kami memang belum pernah singgah di kabupaten yang letaknya bersebelahan dengan kabupaten tempat kami kerja. Kami melangkah keluar pelabuhan dengan melewati banyak calo penyedia jasa travel. Gue butuh waktu buat mikir, jasa travel mana yang nggak mencekik. Ternyata ada bapak - bapak tukang ojek yang negur gue: "Mbak, mau kemana?"
Gue pun menjelaskan dengan suara lirih kalo kami mau ke Berau tapi buru - buru (sebenernya bukan asal ngomong sih, kami emang pengen cepet sampai di Berau, entah kenapa, hahahaha). Bapak itu lalu memanggil salah satu temannya, katanya dia nyediain jasa ke Berau dengan harga Rp 120.000 per orang. Karena menurut gue harga itu cukup wajar (gue sempat baca, di tahun 2010 harga travelnya Rp 90.000 per orang) maka gue meng-iya-kan si penyedia travel.
Pukul 13.00 WITA kami pun naik avanza menuju Berau. Jalanan Bulungan - Berau memang kurang ramah, gue sempat pusing, padahal seumur - umur gue nggak mabok kalo naik mobil. Dua jam berlalu dan akhirnya kami sampai di Tanjung Redeb. Sebelumnya si supir nanyain kami, apa udah punya travel menuju Biduk. Gue dengan jujur bilang kalo semua travel berangkat pagi dan kemungkinann kami bakal nginep di Berau kalau seandainya nggak ada travel di terminal. Si sopir rupanya pengertian. Kami diantar ke salah satu jalan, kalau nggak salah jalan haji Isa, ke terminal lama, katanya. Ternyata yang dimaksud "terminal" di sini adalah tempat parkir para sopir "taksi gelap". Oh iya, istilah taksi di sini adalah sebutan untuk mobil - mobil travel, jadi jangan dibayangin semacam Blue Bird atau Express gitu ya.
Kebetulan banget nih, si sopir punya kenalan teman yang melayani tavel ke Biduk (I talk about a luck, again and again on my post). Dan kebetulannya juga, temannya itu lagi standby di terminal lama. Kami pun segera nego harga pas kami ketemu temannya si supir. Deal dengan harga Rp 150.000 per orang, kami pun minta ijin untuk istirahat, sekedar sholat dan cuci muka. Kebetulan di sekitar situ ada masjid gede. Lumayan lah, buat duduk setelah perjalanan berkelok - kelok tadi.
Pukul 16.00 WITA, kami memulai perjalanan yang amat sangat panjang. Pak sopir ternyata mampir - mampir dulu, jemput penumpang. Jalanan Tanjung Redeb - BidukBiduk lebih ramah bila dibandingkan Tajung Selor - Tanjung Redeb tadi, namun jarak tempuhnya jauh banget! Bahkan kami sempat mampir di salah satu rumah makan, kata si sopir sih karena perjalanan masih panjang jadi selepas isya kami harus makan. Sepertinya pak sopir tahu kalau kami sudah mulai capek. Di warung ini kami cuma menghabiskan uang Rp 35.000 buat makan dan minum dengan porsi yang gede banget. Cukup murah untuk ukuran traveller kelaparan dengan dompet pas - pasan.
Tepat pukul 00:00 WITA kami benar - benar sampai di Biduk - Biduk. Si sopir memilihkan kami penginapan yang dekat tepian pantai. Penginapan MAYANG SARI namanya. Rate-nya Rp 185.000 per kamar AC per malam.
Benar - benar perjalanan yang panjang. Diantara lelah, gue tiba - tiba merasa tenang. Aroma air laut, pantai, dan pedesaan mulai bisa gue hirup di tengah gelapnya malam. Tapi gue nggak mau kebanyakan berpikir, badan udah capek banget. Gue cuma bisa Say Hello ke mereka lewat senyuman sebelum masuk kamar penginapan.
Jumat, 5 Desember 2014
Gue adalah pecinta sunrise dan sunset garis keras, pengejar matahari dan kedamaian di penjuru nusantara, dan penikmat surga tanpa ingin kehilangan nyawa. Hahaha. Itulah kenapa gue bela - belain bangun sebelum subuh meskipun badan dan mata masih kompak untuk terkapar. tujuan pertama hari ini: sunrise. Dan, gue ngerasa beruntung banget.
Nggak lama kemudian, temen gue bangun dan nyusulin ke pantai. Lagi - lagi, as usual, kami berdua diem - dieman di pantai. Speechless.
Karena kami udah niat banget ke sini, tentunya kami pengen cepet - cepet menuju Labuan Cermin. Pas masuk kamar, gue kaget, kok AC, TV dan segalanya mati. Apa barusan mati lampu? Ternyata setelah tanya tetangga sebelah, daerah sini memang hanya dialiri listrik saat malam hari. Untung aja semua gadget full charge.
Sambil sarapan nasi goreng di penginapan (FYI, sarapannya tiap hari adalah nasi goreng pake telor ceplok) kami ngobrol sama pemiliknya, gimana caranya menuju Labuan Cermin karena kemarin si sopir travel nawarin kami trip ke Labuan Cermin plus Teluk Sulaiman seharga Rp 1.600.000 (kalau dipotong perjalanan Tanjung Redeb - BidukBiduk PP untuk berdua sih Rp 1.000.000 tripnya doang). Ternyata di penginapan ini bisa sewa motor. Gue dan temen gue langsung bersemangat. Sewa motornya cuma Rp 50.000 seharian sampe puas Coy! Jauh banget kan beda harganya? Untung kami nggak meng-iya-kan si bapak travel.
Selepas sarapan, kami langsung bergerilya naek motor, menyusuri jalanan, pantai, dan menyapa sapi - sapi dan hewan ternak lainnya. Kenapa sapi? Karena sepanjang jalanan (sepanjang bibir pantai, tentunya) banyak bertebaran hewan ternak yang nggak dipeduliin pemiliknya. Artinya, elo harus hati - hati karena peringatan di sini bukan "HATI - HATI BANYAK ANAK KECIL" tapi "HATI - HATI HEWAN TERNAK". Tentunya, kotoran ternak juga bertebaran dimana - mana, hahahaha! Yang bikin gue heran, pohon kelapa di sini kok tingginya agak di luar normal ya?
Akhirnya, kami sampai di Labuan Cermin. Boleh nggak gue menyebutnya dengan A little piece pof heaven?
Di sini, kalo lo mau menuju Danau Labuan Cermin, lo harus sewa perahu, Rp 100.000 untuk satu perahu. Jadi kalau elo ke sininya rame - rame, tentunya jauh lebih hemat.
Ini potret A little piece of Heaven versi gue, selengkapnya visit my instagram @ndahcahya ya!
Daaaan, kata pemilik perahu yang kami sewa, belom bisa disebut ke Labuan Cermin kalau nggak renang. Sewa ban atau pelampung cukup murah, Rp 15.000 per buah. Tapi untuk alat snorkling, saran gue sih bawa sendiri. Kurang nyaman kalo pinjem, walaupun mereka menyediakan. Dan nggak usah khawatir mata lo perih, airnya TAWAR!
Inilah keistimewaan Labuan Cermin, Air di sini rasanya tawar sampe kedalaman 3 meter. Tapi selepas 3 meter, lo bakal ngerasain asinnya air laut. Subhanallah sih ini, keren parah! GOKIL!
Setelah kami merasa cukup (walaupun sebenernya nggak akan pernah cukup di sini, apalagi kalo pas sepi, berasa punya kolam renang pribadi), kami melanjutkan perjalanan, pastinya dengan baju yang masih basah karena kami nggak bawa ganti (tadinya kami nggak berniat nyebur sih).
Selepas dari Labuan Cermin, kami menuju Teluk Sulaiman. Kata pemilik penginapan, kami bisa menikmati ari terjun di seberang, tepatnya di Teluk Sumbang. Dilihat dari fotonya sih keren dan kami pun tergoda.
Nggak usah khawatir tersesat di sini. Jalanannnya cuma lurus menyusuri pantai kok. Dan pastinya, di sekitar pasti bakal ada penduduk yang dengan ramah menyapa kita. Pasti ada tempat untuk bertanya. :)
Perjalanan dari Labuan Cermin ke Teluk Sulaiman cukup jauh. Setelah sampai, kami mulai mencari info bagaimana caranya untuk menyeberang. Untung ada bapak penjaga toko yang baik yang akhirnya mempertemukan kami kepada salah seorang pemilik perahu kelotok. FYI, untuk menyeberang ke Teluk Sumbang, wisatawan bisa memilih pakai speedboat (yang hanya tersedia satu unit sepertinya) atau pakai perahu kelotok kayak gini:
Tarif yang dipatok adalah Rp 500.000 per kapal. Murah kan, kalau seandainya elu travellingnya bareng - bareng? Tapi jangan sensi juga kalau seandainya ada orang yang ikut nebeng dan ngarepin gratisan. Beberapa warga memang mencari - cari gratisan menuju dan dari Teluk Sulaiman - Teluk Sumbang. Kami pun menjadi salah satu sasarannya. Dan seperti inilah perjalanan kami menuju Teluk Sumbang.
Teluk Sumbang menawarkan keramahan warga, kesederhanaan masyarakat, sekaligus deburan ombak yang cukup besar. Dan juga air terjun yang menawan.
Kami sempat mencicipi indomie di warung Bu RT, hehehe, kelaparan sembari menikmati keindahan. Murah meriah, cuma Rp 15.000 berdua.
Karena hari sudah sore, kami memutuskan buat balik. Sebelumnya kami singgah sebentar ke Pulau Kaniungan. Pulau baru yang juga barusan punya cottage. Gue yakin, 10 tahun ke depan, objek wisata ini bakalan sama kayak Derawan. Beruntungnya gue udah ke sini sekarang, sebelum terlalu dijamah traveller lain.
Pemilik perahu ngasih kami bonus! Dia belokin perahunya ke sebuah ledokan teluk yang dinamai Sigending. Semacam rawa tapi airnya BENIIIIIING! Beneran surga bawah laut! Gue langsung berdiri di perahu dan nggak bosen - bosen ngelihat ke bawah air. Ikan pari, penyu - penyu besar, dan terumbu karang yang masih asli! Bahkan kata pemilik perahu, ada seorang penyelam bule pernah bilang kalau terumbu karang di sepanjang Teluk Sulaiman - Teluk Sumbang - Kaniungan sebenarnya jauh lebih bagus daripada Derawan. Nah loh! Ngaku pecinta diving tapi belum pernah ke sini? Sayangnya, gue cuma punya videonya. (Asik ngevideo sampe lupa nggak ngambil foto, malah asik liatin ikan dan penyu di bawah, hehehe)
Kami akhirnya sampai di Teluk Sulaiman saat adzan magrib berkumandang. Untung saja kami sudah sempat sholat ashar tadi bersama warga Teluk Sumbang. Kami melanjutkan perjalanan kembali ke penginapan dengan diiringi serangga - serangga hutan yang mengganggu pandangan mata karena kami nggak pakai helm (sepertinya di sini helm memang tidak perlu dipakai, hehehe). Kami nggak langsung balik penginapan, karena masih harus memenuhi hasrat perut. Kami mencari warung makan ikan bakar yang tadi kami temui sewaktu berangkat. Menyusuri jalanan baru nan gelap tidaklah menyenangkan buat dua sosok perempuan muda seperti kami, rasa takut pasti ada. Tapi karena kami percaya keramahan warga di sini, rasa takut itu lama - kelamaan hilang dengan sendirinya. Bismillah aja. Akhirnya, begitu sampai di warung makan tujuan, kami memesan ikan bakar. Ekspektasi kami nggak tinggi tapi apa yang kami dapat ternyata sangat mengejutkan! Seekor ikan kakap putih, sepotong ikan laut dan semangkok gulai ikan adalah menu untuk satu orang. Lengkap dengan sambal dan es jeruk. Tanpa basa basi, kami melahap menu pesanan kami dengan lahap. Habis tak tersisa kurang dari setengah jam, hahaha! Dan kami lebih kaget lagi pas bayar ternyata menu untuk satu orang hanya dibandrol Rp 35.000 aja! Benar - benar lengkap liburan kami! Hahahaha!
Malam pun tiba dan kami memilih stay di penginapan aja. Itu pun nggak lama karena kami segera terlelap. Thanks God, meskipun gue nggak ketemu sunset karena mendung, segalanya tetap indah. Sangat indah.
Sabtu, 6 Desember 2014
Gue kembali berburu sunrise. Sayangnya, masih mendung. Matahari masih malu - malu banget. Gue dan temen gue memutuskan buat jalan - jalan saja, sambil menyapa warga sekitar yang memulai aktivitasnya. Kami melihat anak - anak yang berjalan kaki menuju sekolah. Kebetulan di sana ada SD dan SMP yang letaknya tidak jauh dari penginapan kami. Beberapa dari mereka bercanda, saling meledek, dan pastinya jalan kaki bersama - sama. Kesan "alami"nya kental banget. Jarang gue lihat ada siswa yang naik motor, kalaupun ada mereka diantar oleh orang tuanya. Menurut gue, begini seharusnya generasi muda itu. Sederhana. Nggak terlalu terjamah kejahatan kemajuan jaman. Dan dalam jalan - jalan pagi itu, kami nemuin ini:
Biduk - biduk terlalu banyak menyuguhkan kedamaian dan keramahan. Sebuah trip yang lagi - lagi memberikan sense yang sensasional dan unforgetable. Kami pun balik dengan rute yang sama menuju Tarakan. Dengan travel yang sama juga.
Thanks, God!
Gue punya beberapa tips tambahan:
1. Kalau mau naik travel (maksud gue taksi, hehe) dari Tanjung Selor ke Tanjung Redeb / Berau, pilih taksi yang supirnya asli orang Berau, bukan orang Tanjung Selor. Kenapa? Menurut sopir gue sih, harga lebih murah dan nggak pake nunggu penumpang laen. Misal kayak kami kemaren, berdua pun langsung jalan. Ini nomer travel yang gue pake: 081347773115
2. Kalau mau naik travel dari Tanjung Redeb / Berau ke Biduk - Biduk, pilih ttavel milik orang asli Biduk - Biduk dan yang emang punya mobil pribadi (mobil travelnya itu emang punya dia, bukan punya bosnya). Kenapa? Karena kalo dia orang Biduk - Biduk asli, dia bakalan langsung pulang ke rumah, kita nggak pake bayarin hotelnya per malam (misalnya elo balik juga mau pake travel itu). Daaaan, kalo dia emang punya mobil sendiri, biasanya jauh lebih murah. Kayak gue itu, cuma Rp 150.000 aja. Hehehe. Ini nomer travel yang gue pake: 081354514004
3. Sebaiknya udah merencanakan pulang kapan dan pakai travel apa. Kemarin sih untungnya bapak travel gue agak baik, dia mau nganterin kami berdua balik Berau padahal ga ada penumpang lain. Konsekuensinya adalah kami bayar 2 kali lipat, Rp 300.000 seorang. Itu udah murah, masalahnya travel lain patoknya sejuta per mobil. Travel dari Biduk - Biduk ke Berau nggak setiap hari ada, tergantung penumpang (dan mood supirnya, hehehe) jadi sebaiknya mempersiapkan perjalanan pulang sebelum pulang, hehehe.
Oke, cuma itu yang bisa gue share.
See you on the next journey! :)
Cerita dari Tana Tidung (3)
Hei!
Lama gue nggak ngeblog. Entah kenapa weekend ini gue mau nulis sekaligus merayakan annyversary lima bulan sudah gue menapakkan kaki di Kabupaten ini. LIMA BULAN. Baru lima bulan ya ternyata, hahaha! *garuk kepala*
Well, gue mau ngelanjutin beberapa kisah yang gue rangkum lagi, di blog gue. Atau lebih tepatnya gue sebut sebagai tweet over 140 characters.
Backpacker Absurd Ke Derawan
Ini adalah perjalanan biasa...dilakukan oleh dua orang biasa...tapi menuju tempat yang LUAR BIASA!
Perkenalkan, gue dan sohib gue adalah dua orang cewek absurd yang nggak sengaja nemuin keberuntungan beruntun sampai akhirnya ombak laut ngebawa kami ke pulau surga yang namanya DERAWAN.
*drum roll*
#DAY1
Ke-absurd-an ini berawal dari kami yang baru aja pulang dari tugas dinas di Samarinda hari Jumat, 6 Juni 2014. Kebetulan kami kerja di salah satu kabupaten di Kalimantan Utara, jadi kalo mau balik ke "kantor" harus singgah ke Kota Tarakan dulu.
Pesawat kami landing sekitar pukul 10.45 WITA. Tujuan kami setelah bandara pasti lah pelabuhan. Jarak dari Bandara Juwata ke Pelabuhan Tengkayu nggak jauh, sekitar setengah jam aja. Untuk pilihan transportasinya bisa naek mobil - mobil carteran atau naek ojek. Kami sih biasanya minta jemput temen. Hehehehe.
Pas di pelabuhan, kami berniat pesen tiket balik, tapi iseng - iseng nanya jadwal keberangkatan menuju Derawan sekaligus harganya. Eh si mbak - mbak penjual tiket malah nawarin kami: "Siang ini ada speedboat reguler perdana ke Derawan."
Kami berdua saling pandang, kemudian hening. Spontan kami senyum dan nanya berapa harganya. Cuma 250 ribu sekali jalan, jadi kalau PP cuma 500 ribu. Tanpa pikir panjang, kami batal beli tiket pulang dan beralih ke Derawan. Padahal kami cuma bawa beberapa lembar sisa baju yang masih belom kepake sisa pelatihan kemaren. yang ada di pikiran kami cuma satu: kesempatan nggak bakal datang dua kali! NEKAT!(Sebenernya sih mumpung kami masih dalam "surat ijin" jadi nggak dianggep bolos kerja. Hahahaha!)
Jadi, sekarang udah ada speedboat reguler rute Tarakan-Derawan PP dengan tarif Rp 250.000 sekali jalan. Tiket PP bisa langdung dipesan biar nggak kehabisan. Tapi rute ini hanya melayani keberangkatan di hari Jumat pukul 2 siang dan balik hari Minggu pukul 2 siang WITA (Kabarnya, jam ini bakal diganti jadi hari Minggu pukul 9 pagi untuk mengantisipasi penumpang yang ngejar pesawat siang/sore).
Dulunya ke Derawan melalui Tarakan hanya dilayani dengan speedboat pribadi yang di carter, bisa sampe 2 juta lebih per boat. Buat kalian yang mau wisata rombongan, nggak campur sama penumpang laen, bisa pakai cara ini. Atau buat kalian yang mau lewat rute lama: Berau (Tanjung Redep) - Derawan, bisa juga sih. Rutenya, dari bandara Berau (Tanjung Redep) langsung ke Tanjung Batu via mobil - mobil carteran, tarifnya antara 70 - 100 per orang lah dengan waktu tempuh 3 jam. Setelah dari Tanjung Batu bisa nyeberang dengan speedboat selama 30 menitan. Saran dari orang Derawan sih, hati - hati dikibulin tukang boat. Jangan mau carteran, tarifnya itung aja per kepala 50 ribu, gitu. Gue sendiri belum coba rute itu jadi rute Berau-Derawan ini gue cuma denger pengakuan orang - orang Derawan aja sih.
Balik ke cerita gue.
Karena gue backpacker absurd dadakan, gue langsung lari - lari menuju speedboat yang ternyata udah penuh orang. Kami harus duduk di bangku "cadangan" deh. Oh iya, buat kalian yang belom pernah naek speedboat, bangku "cadangan" adalah bangku - bangku plastik yang diletakkan di tengah boat. FYI, speedboat itu kan duduknya hadap - hadapan\ semacam angkot gitu.
Kebetulan kemaren itu kami barengan sama tiga rombongan keluarga. Yang pertama adalah penduduk asli Derawan, yang kedua adalah pengantin baru bersama keluarga "super besar"nya, nah yang ketiga kami waktu itu belum tau rombongan apa. Speedboat akhirnya melaju setelah kami datang. Nggak disangka, ombaknya jauh lebih gede ketimbang ombak sungai yang biasa kami lewati menuju kabupaten. Tapi karena kami mungkin sudah terbiasa, tetap aja kami bisa tidur pulas meskipun duduk di bangku cadangan dan ombak yang berhasil bikin beberapa orang mabok. Hahahahaha.
Dua jam berlalu, kami pun bangun. Nggak kerasa, kami udah ada di tengah laut. Tanpa kapal satupun yang nemenin. Hahaha. Nggak lama kemudian keliatan beberapa pulau. Penumpang yang merupakan penduduk asli Derawan tiba - tiba ngomong: "Itu pulaunya, udah keliatan dikit". Ternyata udah keliatan, tappi kecil banget. Barulah 45 menit kemudian pulau itu udah mulai tampak jelas. Spontan kami semua kegirangan kayak anak kecil: "De...Ra...Waaaaaaaan." (maklum, yang pernah tau Derawan ya cuma rombongan orang asli sana, yang laen ya baru pertama kali, hahaha)
Setelah desak - desakan di speedboat, akhirnya terbayar sudah jerih payah kami. Dari kejauhan pulau itu nggak beda dengan pulau - pulau eksotis Indonesia lainnya: menakjubkan. Tapi setelah mendarat dan menjelajahi, ternyata Derawan punya sisi - sisi eksotisme tersendiri menurut gue.
Setibanya di pelabuhan, kami berdua langsung heboh. Seumur - umur gue belom pernah ngeliat laut sebening itu di bawah telapak kaki gue. Emang gue nya aja kali ya yang nggak pernah ke tempat - tempat eksotis, haha! Tapi bener, tetibanya itu kami langsung ambil handphone dan foto - foto dengan kamera resolusi rendah (punya temen gue sih masih bagus 8 Megapixel, lah gue cuma 2 Megapixel, burem! haha!) soalnya emang kami nggak punya DSLR. Kami nggak ribet bawa barang karena emang kami cuma bawa tas punggung dengan isi seadanya tadi. Ini nih beberapa jepretan amatiran kami:
Sebelum balik, kami diantar dulu buat snorkling di deket Sangalaki. Tapi ombaknya gede banget. Kami emang nyebur sih tapi pemandangan bawah lautnya nggak seheboh tadi pagi. Kami pun hengkang dan sebelum nginjek pulau Derawan lagi, kami mampir ke pulau pasir, semacam yang di Bangka Belitung itu loh. Gundukan pasir tengah laut. Kayak gini nih:
Kami terus jalan kaki berdua sepanjang pantai. Yaaaa sesekali duduk juga di pinggir sambil ngelamun, terus lanjut jalan lagi. Sebenernya kami ketemu sama rombongan lima orang yang bareng kami snorkling itu, tapi mereka nyewa sepeda sedangkan kami jalan kaki jadi mereka cabut duluan. Sewa sepeda di sana cuma 20 ribu dua jam (bisa lebih sih sebenernya). Kami sih memilih jalan kaki aja biar lebih seru. Dan akhirnya kami singgah di sebuah dermaga kosong. Kami nggak tau fungsinya apa, nggak berniat nanya juga ke penduduk, jalan aja lurus. Eh ternyata itu adalah pelabuhan tempat penyu - penyu nyender. Kami nggak sengaja nemuin lima penyu yang renang - renang santai di sana. Amazing! Berapa keberuntungan yang udah kami dapet? Hahaha!























































