Oleh : INDAH "chy". Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

BACKPACKER ABSURD TO MAKASSAR

(For translate in English, just send me your email address)



Baru kali ini, gue sekali nge-trip tapi posting dua kali. Hehe. Gue mau lanjut mengisahkan ke-absurd-an di hari ketiga trip gue. Kali ini, tentang Kota Makassar dan perjuangan kami menaklukannya.

Kami tiba di Makassar pukul dua belas siang dalam keadaan sama sekali tidak siap. Bagaimana tidak, sejak awal kami terpaku pada kegiatan bersama mobil sewaan. Dan ternyata kami harus merelakan mobil itu pergi setelah kami tiba di kota Makassar, tepatnya setelah kami menyewa penginapan.

Tanpa petunjuk, tanpa kenalan, dan tanpa persiapan sama sekali, kami nekat menerapkan ilmu “penduduk adalah peta paling akurat”. Itu sih mau nggak mau kami lakukan karena mau browsing pun nggak cukup dalam waktu semalam karena handphone yang bisa dipakai internetan cuma sebuah (punya gue rusak kena air laut dan punya temen gue yang satunya nggak bisa di-charge) meskipun koneksi internet di Bira kenceng banget. Ya, kami cuma sanggup mencari sebatas penginapan murah.
Sesampainya di Makassar, kami langung menuju penginapan karena nggak mungkin bawa backpack kemana – mana. Kami menginap di wisma Bawangkaraeng dengan tarif amat sangat murah yaitu 150ribu rupiah per malam. Lokasinya cukup strategis, dilewati angkot (yang disebut pete – pete) dan ramai. Jadi pulang malam – malam pun menurut kami masih aman. Hanya saja, ya, fasilitasnya ya sekelas backpacker lah. Jangan berharap lebih. Bahkan kami sempat dihebohkan dengan adegan pintu rusak. Haha. Sayangnya gue nggak sempat ambil foto wisma ini. Kelupaan. Cuma dapat foto dari jendela kamar aja.


Pemandangan dari atap Wisma

Setelah istirahat 15 menit, kami melanjutkan perjalanan yang hampir berantakan. Sisa tenaga kami hanya cukup ke dua destinasi: Rotterdam dan Losari. Bonusnya, kami mau nge-mall di Panakkukang yang katanya mall terbesar di Makassar (karena hidup kami di belantara hutan, mall adalah destinasi yang wajib dikunjungi meskipun nggak beli apa – apa). Cuaca hari itu mendung, sesekali gerimis. Dan di sinilah kami berjuang untuk survive bersama para sopir angkot.

Jujur, kami agak kesulitan menerjemahkan bahasa lokal penduduk. Itulah yang menjadikan kami berkali – kali harus memastikan angkot yang kami naiki benar. Untuk menuju Mall Panakkukang (masyarakat biasa menyebutnya dengan “MP”), dari Wisma Bawangkaraeng harus dua kali naik angkot dengan waktu tempuh sekitar satu jam. Setelah sampai di Panakkukang (ceritanya ini gue menyempatkan diri servis handphone), kami menuju Rotterdam. Rutenya jauh banget. Dari samping Mall Panakkukang kami harus jalan cari angkot, kalau nggak salah kodenya. Lalu kami oper menuju kawasan yang disebut dengan “Cendrawasih” (entah itu nama kampung atau nama jalan). Kira – kira butuh waktu satu jam lebih, kami baru sampai di Rotterdam.



Benteng Rotterdam dan spot yang difoto sejuta umat


Dalamnya benteng Rotterdam


Suasana Rotterdam sedang ramai. Tapi kami agak menyesal karena museum – museum sudah ditutup gara – gara kami terlalu sore (sekitar pukul empat kami baru sampai di sana). Benteng ini masih cukup alami tapi sayangnya ada tangan – tangan manusia yang sengaja merusaknya.



Tangan siapa hayo yang ngerusak ini?

Dari  Rotterdam kami menuju pusat oleh – oleh yang nggak jauh dari sana. Ada kawasan yang dinamai Sambo Opu, cukup jalan kaki saja dari Rotterdam. Dengan mengucap bismillah, kami memilih salah satu toko yang bernama Toko Ujung sebagai tempat membeli oleh – oleh. Ternyata pilihan kami cukup tepat. Harganya bersaing dan packaging nya bagus. Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Losari, juga dengan jalan kaki.

Gue dulu sempat mendengar “kabar angin” kalau Pantai Losari itu jelek. Tentunya, pas gue ke sana, pemikiran itu masih ada. Dan ternyata benar. Pantai Losari memang nggak seberapa bagus. Tapiii….. SUNSETNYA KEREN! GOKIL! PARAH! (Losari’s sunset is one of the great sunset I ever seen. IMO.)

Kami cuma duduk – duduk di pinggiran jalan yang dipadati dengan tukang jual pisang epe dan jagung bakar selama sunset tapi mata gue nggak sedikitpun berpaling dari maahari yang makin lama makin merah. Subhanallah, gue berasa benar – benar nggak pengen berkedip! Karena gue #sunsethunter garis keras, pemandangan ini adalah best scene sepanjang perjalanan gue yang penuh liku – liku di trip kali ini!




Sunset


Sunset lagi


Lagi - lagi sunset lagi


Sunset dan tongkrongan tepian


Teman gue sempat beli jagung bakar. Dan kami kaget, ternyata jagung bakar di sini udah diiris jadi nggak perlu digigit sama bonggolnya kayak yang biasa gue lihat. Hehe. Sunset di Losari memang menakjubkan. Gue benar – benar speechless, nggak bisa mengungkapkan lewat tulisan. (Lebay, sih, hehe.)

Tujuan terakhir kami adalah balik lagi ke Mall Panakkukang. Dari Losari kami harus naik angkot menuju kawasan “Central” lalu lanjut naik angkot tujuan MP. Perjalanan malam kami ditemani gerhana bulan yang jelas banget bisa kami lihat di langit (sayangnya kamera gue nggak menjangkau penampakannya). Tapi malam itu perjalanan terasa panjang banget, malam minggu kan ramai kendaraan jadi kami hampir menyerah di angkot. Hehe.

Setelah puas makan di MP, kami pun balik ke penginapan. Ternyata angkot sudah tidak ada yang menuju Bawangkaraeng jam segitu, Untung saja, ada rombongan mbak – mbak yang minta antar abang angkot ke suatu tempat dan kami akhirnya barengan sama mereka. Hehe. Syukurlah kami bisa sampai penginapan dengan cepat dan selamat tanpa oper – oper lagi. Tuhan selalu bersama para backpacker yang beriman. Hahaha.

Perjalanan kami di Makassar pun berakhir. Keesokan paginya, kami check-out pukul delapan. Karena katanya menuju bandara bisa naik DAMRI, kami mencoba berjuang menuju halte DAMRI terdekat yang menurut info berada di sekitar RRI. Nah, pas kami naik angkot, abang angkotnya bilang kalau di sekitar RRI nggak ada halte DAMRI. Habis sudah semangat kami dan bodohnya, kami mengiyakan tawaran supir angkot untuk mengantar kami ke tempat terdekat dari bandara yang bisa dijangkau Bus Penjemput Penumpang. Kami pun percaya saja, berhubung nggak sempat browsing lagi dan kondisi badan udah capek. Tapi, lagi – lagi kami dikecewakan angkot. Kami harus oper ke angkot lain entah karena alasan apa dari sang supir. Untungnya, angkot yang terakhir agak sedikit pengertian. Dengan membayar agak lebih banyak dari tarif normal, kami diantar sampai pintu bandara.

Tapi setelah gue pikir – pikir, nggak jauh dari lokasi oper angkot yang terakhir, sebenarnya kami langsung bisa ketemu sama Bus Penjemput Penumpang yang sepertinya gratis itu. Ya sudah, kalau duit harus keluar, mau gimana lagi. Sebanyak 50ribu kami keluarkan untuk ongkos angkot dari Balangkaraegn sampai ke bandara. Kalau dipikir – pikir sih, sebaiknya dari awal kami naik taksi aja. Soalnya, pas kami hitung – hitung, waktu perjalanan kami ternyata lebih dari dua setengah jam. ABSURD! Hahaha! Rasanya pas gue keluar dari angkot (dengan banyak pasang mata melihat ke arah kami) gue pengen teriak: KAMI ADALAH BACKPACKER ABSURD YANG MENYEDIHKAN TAPI TETAP BISA MENIKMATI HIDUP! Ya-Ha!

Begitulah perjalanan kami yang mahal, berliku – liku dan melelahkan. Tapi yang namanya perjalanan, nggak mungkin lancar – lancar aja, kan? Trip sebelumnya pun diwarnai kisah – kisah absurd yang mungkin berguna buat para traveller yang berniat menuju tempat – tempat yang sudah gue kunjungi. Tips selanjutnya dari gue adalah:
1.      Persiapkan selalu rencana cadangan saat travelling.
2.      Kalau memang berniat backpacking beneran, paling tidak kuasai sedikit dari bahasa daerah.
3.      Pelajari rute angkutan.

Sekian perjalanan absurd tapi keren dari gue. Oh iya, satu lagi, pas kami melintasi lautan Sulawesi menuju Kalimantan, gue kembali terpesona sama pemandangan laut di bawah pesawat. KEREN!
Mungkin sekian dulu pestingan gue, semoga berguna buat para pembaca.


Thanks for reading and see ya on the next trip!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BACKPACKER ABSURD TO TANJUNG BIRA

(For translate in English, just send me your email address)


Haloooo! Ketemu lagi sama gue, backpacker absurd.



Ini untuk pertama kalinya gue “sengaja” buat travelling. Maksudnya, gue backpackeran di high season plus ngeluarin ongkos yang mahal. Kalo lo tanya kenapa gue kali ini antimainstream, jawabannya adalah gue nggak tahu. Pokoknya gue tiba – tiba pengen merasakan sensasi travelling di “musim liburan”. Dan, tujuan gue adalah pulau sebelah: Sulawesi. Makassar adalah destinasi yang entah kenapa gue pilih secara random.

Dan kali ini juga, gue dengan sengaja menentang “asas backpacker” yang biasa gue lakukan. Hasilnya? Gue sempat kena masalah. Haha. Gue sengaja booking mobil dan hotel sebelum berangkat. Pertimbangan gue, ntar bakalan kehabisan hotel dan tarif mobil bakalan mahal kalau semua dilakukan di hari-H. Ya, begitulah, gue mengantisipasi segalanya, soalnya gue juga bawa dua orang teman, nggak kayak biasanya.

So, trip absurd kali ini lain dari yang sebelum – sebelumnya. Enak kah? Lancar kah? Kecewa kah? Buat gue, travelling itu semuanya enak. Karena menikmati bumi Tuhan itu nggak ada yang nggak enak. Hehe. Dan inilah perjalanan absurd gue di destinasi pertama.

Diawali ketika si singa mendarat dengan delay seperti biasa, Makassar hujan deras. Untungnya, driver gue udah standby walaupun kami sempat saling mencari di bandara yang sibukya amit – amit. Untuk yang pertama ini, prediksi gue bener. Gue nggak tahu gimana kalau gue masih harus cari mobil di suasana semacam itu dan di cuaca yang nggak mendukung. Perjalanan gue untuk pertama kalinya di pulau ini pun dimulai. Kami langsung menuju Tanjung Bira. Untungnya (lagi) kami udah booking penginapan, soalnya kami sampai di sana hampir tengah malam. Ya, gara – gara delay itu tadi. Tapi nggak masalah. Ternyata penginapannya di luar ekspektasi gue. Kami menginap di Nusa Bira Indah dengan harga 250ribu per malamnya. Gue pikir, lokasi yang agak jauh dari pantai bakal bikin kesan “pantai” di penginapan ini hilang. Ternyata enggak. Bentuk penginapannya mirip cottage gitu, ini pertama kalinya gue merasakan menginap seperti di satu rumah sendiri. Bentuknya rumah panggung, luas, bersih, jauh lebih enak lah dari semua penginapan yang pernah gue singgahi, hehe. Selain itu, di kamar ternyata nggak ada televisi. Itu menyenangkan. Kenapa? Karena liburan itu nggak perlu tontonan.


Penginapan kami. Kayak rumah, hehe.




Ini jalanannya...


Kamar yang masih belum beratakan



Pintu ke kamar mandi, ada jemuran buat baju juga di dalam

Pagi harinya, seperti biasa gue berburu sunrise. Gue jalan – jalan di sekitar penginapan. Ternyata, penginapan di sini banyak banget. Biasanya, di perjalanan sebelumnya, gue berusaha memberi info penginapan – penginapan. Tapi kali ini gue kebingungan, kalo gue fotoin semua, bisa – bisa blog gue ini kayak iklan berjalan. Haha! Cukup beberapa aja ya.
           


Penginapan kami nih.


Penginapan kami (lagi)



Jalanan di depan penginapan


Bira VIew In, penginapan tepat di inggir pantai



Jalanan menuju Amatoa Resort yang terkenal

Dan si sunrise pagi itu masih malu – malu, ditambah gerimis sisa hujan semalam yang masih turun, menghasilkan gambar yang sendu, kayak gini.



Sunrise yang sederhana nan manis



Late sunrise

Lalu, gue dan temen – temen memutuskan buat main air. Pantai masih sepi banget pagi itu. Gue mulai berpikir, apa iya ini high season? Kok gue merasa keramaiannya nggak tampak. Dan meskipun gue mikir begitu, gue tetap menikmati pantai yang pasirnya HALUS BANGET! Gue benar – benar takjub, kok bisa pasir pantai sehalus dan seputih itu. Pantai – pantai sebelumnya juga berpasir menakjubkan, tapi terus terang, Pantai Tanjung Bira juaranya. Haluuuuuuuus! Selain itu, dari tepi pantai juga bisa dilihat gradasi air laut tiga warna. Biasanya gue harus “berlayar” dulu buat ketemu pemandangan kayak gitu. Tapi di sini enggak. Beneran keliatan gradasinya dari tepi pantai.


Gradasi Air Laut





Pantai di pagi yang tenang

Puas di pantai, kami mau snorkling. Awalnya ada bapak – bapak yang menawarkan sewa speedboat harga 600ribu lengkap dengan peralatan snorkling. Tapi kami menolak dengan alasan bapak itu ngikutin kami terus sejak awal kami sampai di pantai. A little bit annoying aja sih. Eh, tapi ujung – ujungnya kami juga menyewa dengan harga yang nggak jauh beda. Sebuah kelotok dihargai 550ribu lengkap dengan alat snorkling. Awalnya, gue sempat menyesal karena salah kalkulasi. Tapi setelah dihibur sama dua temen gue, jadinya malah seneng. Kalau speedboat itu kenceng jalannya, sementara kelotok pelan – pelan, lebih luas pula. Kami memang cuma bertiga, tapi kalau menyewa kelotok yang notabene gede banget, jadinya berasa semacam orang kaya. Soalnya kebanyakan kan yang nyewa speedboat ramai – ramai. Hahaha! Pembenaran aja sih, sebenarnya juga sama aja. Mau kelotok atau speedboat, sama – sama menyenangkan.




Ini nih, kelotok.

Tujuan pertama kami ke Pulau Liukang. Di sini jarak antar pulau nggak sejauh di Derawan waktu itu jadi baru sebentar kami naik kelotok, eh udah sampai. Sebelum ke Liukang, kami snorkling dulu. Terumbu karang di sini nggak kalah sama Derawan. Tapi ikan – ikan di sini lebih beragam dan lebih mau “mendekati” manusia. Ombaknya juga ramah. Cuaca mendukung banget lah buat snorkling.



Makasih buat dua rekan seperjalanan yang rela jadi model, hehe.


Dan pas sampai kami baru diberitahu salah satu pemilik warung makan kalau sebaiknya tadi lebih dulu ke Pantai Bara, baru jalurnya ke Liukang dan lanjut ke Pulau Kambing. Tapi ya sudah, toh pantai Bara bisa ditempuh pakai mobil. Lagipula, bangku – bangku panjang di bawah pohon di tepi pantai yang sepi berhasil membuat kami kegirangan.


FOTO BANGKU DI PANTAI


View from my bench....


Nasi goreng super pedas

Dan kami menghabiskan berjam – jam di sini, cuma foto – foto, ngobrol, makan, dan bengong. Menikmati hidup banget! Kebetulan pas lagi sepi, jadi kami bisa puas di sana, hehe. Makanan di sini juga nggak mahal. Kami memilih nasi goreng seharga 25ribu yang menurut gue sih lumayan enak, banyak pula porsinya. Gue benar – benar nggak pengen waktu cepat berakhir deh pas di Liukang kemarin. J




Liukang yang kosong

Karena kami harus melanjutkan perjalanan, dengan berat hati gue mengucapkan salam perpisahan sama bangku favorit gue di sana. Haha. Kami lanjut ke penangkaran penyu. Ada penyu yang ramah, bisa diajak foto. Buat masuk ke sini, kita perlu bayar 10ribu per orang.



Penyunya gede banget



Bayar 10ribu buat ke sini, hehe.


Destinasi selanjutnya adalah Pulau Kambing yang tak berpenghuni tapi berhasil bikin gue merinding. Bukan, ini bukan tentang mistis atau sesuatu yang menakjubkan. Pulau Kambing itu berupa bukit – bukit batu, karang, dan semacamnya yang dikelilingi laut. Gue merinding karena selama ini selalu pengen lihat batu – batu besar gitu (yang gue asumsikan semacam di Belitung, walaupun beda). Dan bahkan gue pun bisa berenang di celah - celah batu – batu gede itu! Astaga! Keren!


 Pulau Kambing


Celah karang yang bikin merinding.....




Setelah puas, kami memutuskan untuk balik ke Bira. Sepanjang perjalanan, gue benar – benar kagum sama si langit, cakrawala dan gradasi laut. Jujur, view siang yang cerah  waktu itu benar – benar instagram-able. Sayangnya, handphone gue kena air laut (yang akhirnya harus diservis) jadi kamera pocket-lah yang akhirnya jadi saksinya. Sebagai #sunsethunter dan #skylover macam gue, sesi pemotretan “mereka” adalah best view di Tanjung Bira.





Langit


Langit (lagi)



Tepat pukul dua tiga puluh, kami sampai lagi di Bira. Dan lagi – lagi, pantainya kosong. Mungkin karena matahari sedang tinggi jadi orang – orang malas ke pantai, atau justru orang – orang sedang menikmati keindahan di spot lain. Yang jelas, itu menguntungkan kami. Air di siang hari yang sepi benar – benar menakjubkan! Jernih sejernih jernihnya! Pasirnya, yang pastinya halus banget, bikin kami betah.





Crystal water...



Cuma kami pemilik pantai ini, hahahahaha.

Setelah main air di pantai, kami segera membersihkan diri di penginapan dan bersiap menuju pantai Bara yang tadi terlewat. Dengan mobil (yang masih) kami sewa, kami menuju Pantai Bara. Yang bikin gue kagum adalah jalanan menuju ke sana, masih banyak pohon – pohon di kiri – kanan jalan. Seandainya kami punya waktu lebih, mungkin kami bisa tracking di sana.





Jalanan yang teduh

Pantai Bara lebih sepi daripada Bira. Tapi bagi gue, semakin sepi, semakin nyaman buat bersantai. Tapi jangan sekali – kali berharap dapat view sunset di sini ya. Hehe. Di Bara ini, gue melihat beberapa backpacker sejati mendirikan camp – camp. Dan gue beroikir: enak kali ya beneran camping di sini. Haha! Sayangnya, pemikiran gue runtuh seketika pas teman gue tanya: mandi sama BABnya dimana? Hahahaha!





Pantai Bara, hampir sunset

Selepas dari Bara, kami kembali ke Bira dan kaget. Ternyata udah ramai banget. Ini mungkin yang disebut dengan “liburan di high season”. Hehe. Tapi meskipun begitu, kami masih punya spot yang sepi, yaitu jalanan menuju Amatoa Resort yang terkenal itu. Spot sunset di sana juga cukup bagus, dan pastinya nggak ramai.




Sunset dari jalanan Amatoa Resort


Pantai Tanjung Bira yang ramai kala sunset


Malam hari, setelah seharian mood gue super bagus, tibalah waktu dimana mental backpacker gue teruji. Pertama, kami lapar dan lima restoran yang kami datangi pelayanannya mengecewakan: LAMA BANGET. Ternyata, sebaiknya kami pesan terlebih dahulu, terus ditinggal jalan – jalan, dan balik beberapa saat (mungkin beberapa jam) setelahnya. Untungnya, sebuah warung Jawa Timur menyelamatkan kami. Nah, kejadian kedua, gue kena masalah. Nggak perlu gue sebutkan karena menyangkut beberapa pihak, tapi cukup gue jadikan pelajaran buat trip gue selanjutnya. Akibat dari masalah yang kedua ini, akhirnya kami memutuskan untuk pagi – pagi balik ke Makassar (dengan berat hati) dan merelakan Tebing Aparalang dan tempat pembuatan perahu Pinisi yang nggak sempat kami kunjungi. Sedih sih, tapi perjalanan setelah ini jauh lebih absurd dan super menyenangkan buat para #sunsetlover macam gue. Sebelum gue lanjut ke tulisan gue tentang seharian di Makassar, ada titipan iklan nih, buat yang mau berencana trip ke Tanjung Bira, bisa menghubungi Daeng di 081340501506.
(Terima kasih buat semua pembaca yang akhirnya membuat blog ini diminati, makasih banget!)

Oh iya, gue mau bagi – bagi beberapa tips penting buat kalian:

  • Kalau berencana pergi backpacker pakai jasa sewa mobil atau travel, pastikan elo punya bukti fisik tentang perjanjian / kesepakatan dengan pihak mereka tentang harga, destinasi, dan sebagainya. Kalau bisa sih buktinya di print DAN disimpan baik – baik.
  • Jangan takut backpackeran di high season. Para wisatawan sepertinya masih pilih – pilih waktu khusus dari 24 waktu yang mereka punya. Pintar – pintar aja cari waktu yang kira – kira bikin destinasi kalian agak sepi. Misalnya, tengah hari bolong di pantai. Hehe.
  • Jangan lupa tanyakan rute – rute perjalanan kalau ada lebih dari satu destinasi. Gue misalnya, sempat salah rute pulau (walaupun akhirnya bisa dikunjungi semua).
  • Persaingan para pedagang, pemilik perahu, pemilik hotel, dan pemilik travl / sewa mobil di tempat wisata yang sudah ramai seperti Tanjung Bira cukup ketat. So, siapkan mental yang kuat dan pandai – pandailah bernegosiasi dengan mereka.
  • Kabarnya, ada pantai di sekitar Bira yang masih perawan, namanya Pantai Timur. Jangan lupa dikunjungi dan tulis di blog juga tentang keadaan di sana, oke! J




Sekian dulu postingan tentang Tanjung Bira. Sampai bertemu di keabsurdan gue di Makassar on the next post. See ya!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Backpacker Absurd ke Labuan Cermin, Teluk Sulaiman, dan Teluk Sumbang

Hallo!

Ini interval travelling yang cukup singkat, bulan lalu gue ke Singapore dan sekarang gue udah mau posting tentang destinasi lain. Bukan sesuatu yang aneh seandainya gue adalah seorang travel blogger, fotografi alam, atau emang cari duit melalui dunia travelling. Tapiiiii...pekerjaan gue jauh dari itu semua. Hehehe.

Lupakan. Yang jelas gue lagi - lagi mau share tentang perjalanan gue.

Blog ini tidak berbayar ataupun mengharapkan bayaran dari pihak - pihak yang tertarik untuk membayar (halah). Blog ini juga bukan catatan perjalanan atau curhatan, cuma sekedar ngasih tips buat para travelling yang sedang mencari hidden paradise sekaligus merasakan atmosfer masyarakatnya. So, happy reading!


Kamis, 4 Desember 2014

Lagi - lagi tanpa rencana matang, setelah segala proses tugas - tugas dinas gue beres, gue berpikir buat "hengkang" sejenak, mumpung lagi di "kota". Gue kebetulan lagi ada tugas dinas di Kota Tarakan. Karena gue udah pernah ke Derawan, gue coba cari destinasi laen. Sampailah gue (dan sohib gue, yang dulu gue ajakin ke Derawan) kepada satu pemikiran: Biduk - Biduk!


Gue tahu beberapa hal tentang Biduk - Biduk sepulang dari perjalanan Singapore, sebuah keputusan singkat memang kalau gue ternyata nekat travelling tanpa persiapan (lagi).

Biduk - Biduk adalah nama sebuah kecamtana di Kabupaten Berau, kalimantan Timur. Menurut beberapa blog yang gue baca sih, ada sebuah danau yang cukup fenomenal tapi masih jarang dikunjungi wisatawan di sana, namanya Labuan Cermin. Karena gue males cari destinasi lain sekaligus pengen travelling membelah hutan belantara, gue memutuskan untuk berangkat ke sana.

Pertama, kami naik speedboat menuju Bulungan (Pelabuhannya ada di Tanjung Selor) sekitar pukul 11.00 WITA. Sebenarnya bisa aja kami langsung menuju kabupaten Berau tanpa melewati Kabupaten Bulungan dan menempuh perjalanan darat yang amat sangat panjang, yaitu melalui jalan udara. Tapi tentunya, tiket kalstar tidak ramah pada dompet kami.


Kembali ke cerita. Tiket speedboat ikut naik seiring kenaikan BBM. Sekali perjalanan ke Tanjung Selor dihargai Rp 130.000 dengan waktu tempuh satu setengah jam (perjalanan pulang lebih cepat, hanya satu jam) karena cuaca sedang tidak bagus. Sesampainya di Tanjung Selor, kami mulai pasang tampang sok tahu. Ya, kami memang belum pernah singgah di kabupaten yang letaknya bersebelahan dengan kabupaten tempat kami kerja. Kami melangkah keluar pelabuhan dengan melewati banyak calo penyedia jasa travel. Gue butuh waktu buat mikir, jasa travel mana yang nggak mencekik. Ternyata ada bapak - bapak tukang ojek yang negur gue: "Mbak, mau kemana?"
Gue pun menjelaskan dengan suara lirih kalo kami mau ke Berau tapi buru - buru (sebenernya bukan asal ngomong sih, kami emang pengen cepet sampai di Berau, entah kenapa, hahahaha). Bapak itu lalu memanggil salah satu temannya, katanya dia nyediain jasa ke Berau dengan harga Rp 120.000 per orang. Karena menurut gue harga itu cukup wajar (gue sempat baca, di tahun 2010 harga travelnya Rp 90.000 per orang) maka gue meng-iya-kan si penyedia travel.

Pukul 13.00 WITA kami pun naik avanza menuju Berau. Jalanan Bulungan - Berau memang kurang ramah, gue sempat pusing, padahal seumur - umur gue nggak mabok kalo naik mobil. Dua jam berlalu dan akhirnya kami sampai di Tanjung Redeb. Sebelumnya si supir nanyain kami, apa udah punya travel menuju Biduk. Gue dengan jujur bilang kalo semua travel berangkat pagi dan kemungkinann kami bakal nginep di Berau kalau seandainya nggak ada travel di terminal. Si sopir rupanya pengertian. Kami diantar ke salah satu jalan, kalau nggak salah jalan haji Isa, ke terminal lama, katanya. Ternyata yang dimaksud "terminal" di sini adalah tempat parkir para sopir "taksi gelap". Oh iya, istilah taksi di sini adalah sebutan untuk mobil - mobil travel, jadi jangan dibayangin semacam Blue Bird atau Express gitu ya.

Kebetulan banget nih, si sopir punya kenalan teman yang melayani tavel ke Biduk (I talk about a luck, again and again on my post). Dan kebetulannya juga, temannya itu lagi standby di terminal lama. Kami pun segera nego harga pas kami ketemu temannya si supir. Deal dengan harga Rp 150.000 per orang, kami pun minta ijin untuk istirahat, sekedar sholat dan cuci muka. Kebetulan di sekitar situ ada masjid gede. Lumayan lah, buat duduk setelah perjalanan berkelok - kelok tadi.

Pukul 16.00 WITA, kami memulai perjalanan yang amat sangat panjang. Pak sopir ternyata mampir - mampir dulu, jemput penumpang. Jalanan Tanjung Redeb - BidukBiduk lebih ramah bila dibandingkan Tajung Selor - Tanjung Redeb tadi, namun jarak tempuhnya jauh banget! Bahkan kami sempat mampir di salah satu rumah makan, kata si sopir sih karena perjalanan masih panjang jadi selepas isya kami harus makan. Sepertinya pak sopir tahu kalau kami sudah mulai capek. Di warung ini kami cuma menghabiskan uang Rp 35.000 buat makan dan minum dengan porsi yang gede banget. Cukup murah untuk ukuran traveller kelaparan dengan dompet pas - pasan.

Tepat pukul 00:00 WITA kami benar - benar sampai di Biduk - Biduk. Si sopir memilihkan kami penginapan yang dekat tepian pantai. Penginapan MAYANG SARI namanya. Rate-nya Rp 185.000 per kamar AC per malam.



Kamar kami di bibir pantai. Bisa denger deburan ombak.....


Benar - benar perjalanan yang panjang. Diantara lelah, gue tiba - tiba merasa tenang. Aroma air laut, pantai, dan pedesaan mulai bisa gue hirup di tengah gelapnya malam. Tapi gue nggak mau kebanyakan berpikir, badan udah capek banget. Gue cuma bisa Say Hello ke mereka lewat senyuman sebelum masuk kamar penginapan.


Hit the Bed!

Jumat, 5 Desember 2014

Gue adalah pecinta sunrise dan sunset garis keras, pengejar matahari dan kedamaian di penjuru nusantara, dan penikmat surga tanpa ingin kehilangan nyawa. Hahaha. Itulah kenapa gue bela - belain bangun sebelum subuh meskipun badan dan mata masih kompak untuk terkapar. tujuan pertama hari ini: sunrise. Dan, gue ngerasa beruntung banget.


Wonderfull sunrise!


Nggak lama kemudian, temen gue bangun dan nyusulin ke pantai. Lagi - lagi, as usual, kami berdua diem - dieman di pantai. Speechless.

Karena kami udah niat banget ke sini, tentunya kami pengen cepet - cepet menuju Labuan Cermin. Pas masuk kamar, gue kaget, kok AC, TV dan segalanya mati. Apa barusan mati lampu? Ternyata setelah tanya tetangga sebelah, daerah sini memang hanya dialiri listrik saat malam hari. Untung aja semua gadget full charge.

Sambil sarapan nasi goreng di penginapan (FYI, sarapannya tiap hari adalah nasi goreng pake telor ceplok) kami ngobrol sama pemiliknya, gimana caranya menuju Labuan Cermin karena kemarin si sopir travel nawarin kami trip ke Labuan Cermin plus Teluk Sulaiman seharga Rp 1.600.000 (kalau dipotong perjalanan Tanjung Redeb - BidukBiduk PP untuk berdua sih Rp 1.000.000 tripnya doang). Ternyata di penginapan ini bisa sewa motor. Gue dan temen gue langsung bersemangat. Sewa motornya cuma Rp 50.000 seharian sampe puas Coy! Jauh banget kan beda harganya? Untung kami nggak meng-iya-kan si bapak travel.

Selepas sarapan, kami langsung bergerilya naek motor, menyusuri jalanan, pantai, dan menyapa sapi - sapi dan hewan ternak lainnya. Kenapa sapi? Karena sepanjang jalanan (sepanjang bibir pantai, tentunya) banyak bertebaran hewan ternak yang nggak dipeduliin pemiliknya. Artinya, elo harus hati - hati karena peringatan di sini bukan "HATI - HATI BANYAK ANAK KECIL" tapi "HATI - HATI HEWAN TERNAK". Tentunya, kotoran ternak juga bertebaran dimana - mana, hahahaha! Yang bikin gue heran, pohon kelapa di sini kok tingginya agak di luar normal ya?


Temen gue lagi naek motor, hehehe!



Akhirnya, kami sampai di Labuan Cermin. Boleh nggak gue menyebutnya dengan A little piece pof heaven?


WELCOME!

Di sini, kalo lo mau menuju Danau Labuan Cermin, lo harus sewa perahu, Rp 100.000 untuk satu perahu. Jadi kalau elo ke sininya rame - rame, tentunya jauh lebih hemat.


Ini potret A little piece of Heaven versi gue, selengkapnya visit my instagram @ndahcahya ya!



And this clear water speaks.......


Can you see something in the bottom of the lake?

Daaaan, kata pemilik perahu yang kami sewa, belom bisa disebut ke Labuan Cermin kalau nggak renang. Sewa ban atau pelampung cukup murah, Rp 15.000 per buah. Tapi untuk alat snorkling, saran gue sih bawa sendiri. Kurang nyaman kalo pinjem, walaupun mereka menyediakan. Dan nggak usah khawatir mata lo perih, airnya TAWAR!

Inilah keistimewaan Labuan Cermin, Air di sini rasanya tawar sampe kedalaman 3 meter. Tapi selepas 3 meter, lo bakal ngerasain asinnya air laut. Subhanallah sih ini, keren parah! GOKIL!


Best friend!


Setelah kami merasa cukup (walaupun sebenernya nggak akan pernah cukup di sini, apalagi kalo pas sepi, berasa punya kolam renang pribadi), kami melanjutkan perjalanan, pastinya dengan baju yang masih basah karena kami nggak bawa ganti (tadinya kami nggak berniat nyebur sih).

Selepas dari Labuan Cermin, kami menuju Teluk Sulaiman. Kata pemilik penginapan, kami bisa menikmati ari terjun di seberang, tepatnya di Teluk Sumbang. Dilihat dari fotonya sih keren dan kami pun tergoda.

Nggak usah khawatir tersesat di sini. Jalanannnya cuma lurus menyusuri pantai kok. Dan pastinya, di sekitar pasti bakal ada penduduk yang dengan ramah menyapa kita. Pasti ada tempat untuk bertanya. :)

Perjalanan dari Labuan Cermin ke Teluk Sulaiman cukup jauh. Setelah sampai, kami mulai mencari info bagaimana caranya untuk menyeberang. Untung ada bapak penjaga toko yang baik yang akhirnya mempertemukan  kami kepada salah seorang pemilik perahu kelotok. FYI, untuk menyeberang ke Teluk Sumbang, wisatawan bisa memilih pakai speedboat (yang hanya tersedia satu unit sepertinya) atau pakai perahu kelotok kayak gini:


Namanya Perahu Kelotok

Tarif yang dipatok adalah Rp 500.000 per kapal. Murah kan, kalau seandainya elu travellingnya bareng - bareng? Tapi jangan sensi juga kalau seandainya ada orang yang ikut nebeng dan ngarepin gratisan. Beberapa warga memang mencari - cari gratisan menuju dan dari Teluk Sulaiman - Teluk Sumbang. Kami pun menjadi salah satu sasarannya. Dan seperti inilah perjalanan kami menuju Teluk Sumbang.


This is my Indonesia!

Teluk Sumbang menawarkan keramahan warga, kesederhanaan masyarakat, sekaligus deburan ombak yang cukup besar. Dan juga air terjun yang menawan.


Air terjun Teluk Sumbang

Kami sempat mencicipi indomie di warung Bu RT, hehehe, kelaparan sembari menikmati keindahan. Murah meriah, cuma Rp 15.000 berdua.

Karena hari sudah sore, kami memutuskan buat balik. Sebelumnya kami singgah sebentar ke Pulau Kaniungan. Pulau baru yang juga barusan punya cottage. Gue yakin, 10 tahun ke depan, objek wisata ini bakalan sama kayak Derawan. Beruntungnya gue udah ke sini sekarang, sebelum terlalu dijamah traveller lain.

Pemilik perahu ngasih kami bonus! Dia belokin perahunya ke sebuah ledokan teluk yang dinamai Sigending. Semacam rawa tapi airnya BENIIIIIING! Beneran surga bawah laut! Gue langsung berdiri di perahu dan nggak bosen - bosen ngelihat ke bawah air. Ikan pari, penyu - penyu besar, dan terumbu karang yang masih asli! Bahkan kata pemilik perahu, ada seorang penyelam bule pernah bilang kalau terumbu karang di sepanjang Teluk Sulaiman - Teluk Sumbang - Kaniungan sebenarnya jauh lebih bagus daripada Derawan. Nah loh! Ngaku pecinta diving tapi belum pernah ke sini? Sayangnya, gue cuma punya videonya. (Asik ngevideo sampe lupa nggak ngambil foto, malah asik liatin ikan dan penyu di bawah, hehehe)

Kami akhirnya sampai di Teluk Sulaiman saat adzan magrib berkumandang. Untung saja kami sudah sempat sholat ashar tadi bersama warga Teluk Sumbang. Kami melanjutkan perjalanan kembali ke penginapan dengan diiringi serangga - serangga hutan yang mengganggu pandangan mata karena kami nggak pakai helm (sepertinya di sini helm memang tidak perlu dipakai, hehehe). Kami nggak langsung balik penginapan, karena masih harus memenuhi hasrat perut. Kami mencari warung makan ikan bakar yang tadi kami temui sewaktu berangkat. Menyusuri jalanan baru nan gelap tidaklah menyenangkan buat dua sosok perempuan muda seperti kami, rasa takut pasti ada. Tapi karena kami percaya keramahan warga di sini, rasa takut itu lama - kelamaan hilang dengan sendirinya. Bismillah aja. Akhirnya, begitu sampai di warung makan tujuan, kami memesan ikan bakar. Ekspektasi kami nggak tinggi tapi apa yang kami dapat ternyata sangat mengejutkan! Seekor ikan kakap putih, sepotong ikan laut dan semangkok gulai ikan adalah menu untuk satu orang. Lengkap dengan sambal dan es jeruk. Tanpa basa basi, kami melahap menu pesanan kami dengan lahap. Habis tak tersisa kurang dari setengah jam, hahaha! Dan kami lebih kaget lagi pas bayar ternyata menu untuk satu orang hanya dibandrol Rp 35.000 aja! Benar - benar lengkap liburan kami! Hahahaha!

Malam pun tiba dan kami memilih stay di penginapan aja. Itu pun nggak lama karena kami segera terlelap. Thanks God, meskipun gue nggak ketemu sunset karena mendung, segalanya tetap indah. Sangat indah.


Sabtu, 6 Desember 2014

Gue kembali berburu sunrise. Sayangnya, masih mendung. Matahari masih malu - malu banget. Gue dan temen gue memutuskan buat jalan - jalan saja, sambil menyapa warga sekitar yang memulai aktivitasnya. Kami melihat anak - anak yang berjalan kaki menuju sekolah. Kebetulan di sana ada SD dan SMP yang letaknya tidak jauh dari penginapan kami. Beberapa dari mereka bercanda, saling meledek, dan pastinya jalan kaki bersama - sama. Kesan "alami"nya kental banget. Jarang gue lihat ada siswa yang naik motor, kalaupun ada mereka diantar oleh orang tuanya. Menurut gue, begini seharusnya generasi muda itu. Sederhana. Nggak terlalu terjamah kejahatan kemajuan jaman. Dan dalam jalan - jalan pagi itu, kami nemuin ini:


Gloomy morning...


Biduk - biduk terlalu banyak menyuguhkan kedamaian dan keramahan. Sebuah trip yang lagi - lagi memberikan sense yang sensasional dan unforgetable. Kami pun balik dengan rute yang sama menuju Tarakan. Dengan travel yang sama juga.


Thanks, God!



Gue punya beberapa tips tambahan:

1. Kalau mau naik travel (maksud gue taksi, hehe) dari Tanjung Selor ke Tanjung Redeb / Berau, pilih taksi yang supirnya asli orang Berau, bukan orang Tanjung Selor. Kenapa? Menurut sopir gue sih, harga lebih murah dan nggak pake nunggu penumpang laen. Misal kayak kami kemaren, berdua pun langsung jalan. Ini nomer travel yang gue pake: 081347773115

2. Kalau mau naik travel dari Tanjung Redeb / Berau ke Biduk - Biduk, pilih ttavel milik orang asli Biduk - Biduk dan yang emang punya mobil pribadi (mobil travelnya itu emang punya dia, bukan punya bosnya). Kenapa? Karena kalo dia orang Biduk - Biduk asli, dia bakalan langsung pulang ke rumah, kita nggak pake bayarin hotelnya per malam (misalnya elo balik juga mau pake travel itu). Daaaan, kalo dia emang punya mobil sendiri, biasanya jauh lebih murah. Kayak gue itu, cuma Rp 150.000 aja. Hehehe. Ini nomer travel yang gue pake: 081354514004

3. Sebaiknya udah merencanakan pulang kapan dan pakai travel apa. Kemarin sih untungnya bapak travel gue agak baik, dia mau nganterin kami berdua balik Berau padahal ga ada penumpang lain. Konsekuensinya adalah kami bayar 2 kali lipat, Rp 300.000 seorang. Itu udah murah, masalahnya travel lain patoknya sejuta per mobil. Travel dari Biduk - Biduk ke Berau nggak setiap hari ada, tergantung penumpang (dan mood supirnya, hehehe) jadi sebaiknya mempersiapkan perjalanan pulang sebelum pulang, hehehe.




Oke, cuma itu yang bisa gue share.

See you on the next journey!  :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS