Oleh : INDAH "chy". Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

REVIEW BUKU: KAMERA PENGHISAP JIWA

Hallo!

Kali ini gue nggak jelasin tentang guide perjalanan atau semacamnya, yang biasa gue tulis di blog. Ada semacam proyek kecil yang akhirnya menuntun langkah gue menuju review buku.

Sebenernya bukan hal asing buat gue, book is my soulmate and book store is my home *tsaaah*. Gue bisa ngehabisin sekian juta menit di toko buku, sekedar baca doang. (Sorry ya mas - mas sama mbak - mbak penjaga toko buku langganan gue dulu. Haha!)

Lupakan kisah gue, sekarang gue mulai review satu buku yang genre-nya nggak asing buat gue: HOROR. Dari segala jenis genre, horor adalah genre yang paling jarang gue beli. Kenapa? Karena gue sering parno kalo bawa buku horor pulang, semacam kebayang - bayang mulu. Haha! Jarang dibeli bukan berarti jarang dibaca, loh! Kali ini,buku baru dari Bukune ini jadi sasaran gue pertama kali bikin review di blog.

Check it out!




Judul: KAMERA PENGHISAP JIWA

Penulis: Ruwi Meita

Penerbit: Bukune

Tahun terbit: Agustus 2014

Jumlah Halaman: 132

ISBN: 602-220-135-7


CEKREEEK!

"Terlambat. Kamera tua itu sudah memotret kamu dan keluargamu. Tidak ada satupun yang bisa selamat." Anak perempuan itu berbicara dengan tatapan kosong. Dia pergi dengan cepat, Anabel tidak bisa menemukannya.
Anabel tidak ingin percaya. Namun, keanehan demi keanehan terus menghampiri. Keluarganya melakukan kegiatan yang sama terus - menerus. Papa berkebun, Mama memasak, dan adiknya bermain trampolin; tanpa makan, mandi, atau tidur! Dan, ah... apa sebenarnya makhluk mengerikan yang dilihatnya itu? Dia menjerat leher keluarga Anabel dan mengambil jiwa mereka....


Cerita singkat:
Anabel dan keluarganya mendapat hadiah dari bos sang papa, Pak Harta Wijaya, yakni berupa liburan di sebuah villa. Awalnya Anabel merasa senang karena ternyata villa itu mempunyai fasilitas lengkap, sesuai apa yang dia dan keluarganya selalu impikan. Namun keganjilan mulai tampak sejak Anabel dan keluarga diminta untuk berfoto bersama di sebuah ruangan yang dindingnya terdapat banyak sekali foto keluarga seperti keluarganya. Mereka difoto dengan menggunakan sebuah kamera Commodor antik. Saat sesi pengambilan foto, Anabel melihat sosok anak perempuan seusianya seperti sedang berbicara padanya. Saat ditanyakan pada sang penjaga villa, ternyata tidak ada orang lain yang tinggal di villa itu. Di saat Anabel larut dalam kegemarannya membuat kerajinan tangan, tiba - tiba saja sosok anak gadis yang dilihatnya di hari pertama muncul lagi. Ternyata namanya adalah Arumi Sheena. Dia memperingatkan Anabel untuk menyudahi kesenangannya dan membawa keluarganya pergi.

Anabel mulai merasa aneh saat dia melihat mama dan papanya asik dengan kegiatan masing - masing. Sang mama terus menerus di dapur karena memang gemar sekali memasak, sedangkan papanya terus - terusan berada di kebun hidroponik. Adiknya, Sigi, juga sangat betah di ruang bermain. Dan Anabel pun melihat ada tali yang seolah - olah mengikat leher mama, papa, dan adiknya. Sebuah tali yang dikendalikan sosok hitam bertubuh tinggi besar.

Singkat cerita, ternyata Arumi sudah meninggal. Dan penyebab dia dan keluarganya meninggal adalah iblis yang ada dalam kamera Commodor di villa itu, iblis yang selama ini juga mengendalikan papa, mama dan adiknya. Ternyata iblis dan Pak Harta wijaya telah mengadakan perjanjian, bahwa harus ada korban yang selalu dipersembahkan kepada sang iblis agar bisnis Pak Harta Wijaya tetap sukses. Anabel dengan susah payah menyelamatkan keluarganya, menghancurkan kamera Commodor itu dan membakar villa. Usaha Anabel berhasil namun di akhir cerita, Anabel menyaksikan sendiri bahwa ternyata di lehernya sedang terikat sebuah tali.



First impression?
Tipis. Banget. Gue adalah penggemar buku - buku tebel. Buku yang cuma setebal 132 halaman ini tentunya bisa gue abisin dalam waktu satu jam. Tapi untuk ukuran keseramannya, jumlah halaman yang tipis ternyata nggak bikin si penulis mempersingkat alur cerita: tetep bikin deg-degan.

How's the book cover?
SEREM. Itu yang gue tangkep. Keempat buku #SeriTakut ini covernya emang dibikin semacam ilustrasi serem - serem gimana gitu. Khusus KAMERA PENGHISAP JIWA, ada gambar kamera Commodor lengkap dengan kain hitam penutupnya. Kesan serem itu makin WOW pas gue udah buka halaman dalamnya. Kertas yang dipakai ditambah ilustrasi "jadul" sehingga kesan horor makin kental.

Karakter?
Gue suka cara penulis menggambarkan karakter - karakter lewat kegiatan yang digemari tokoh, mulai dari Anabel yang suka fotografi, Sigi yang suka trampolin, dan lainnya.

Ending?
Nggak nyangka kalau endingnya begitu. Tadinya udah mikir kalo Anabel dan keluarganya bakal bebas dari iblis, eh ternyata.... (makanya beli bukunya biar nggak penasaran! Hehe)

Kekurangan?
Menurut gue cuma satu yang kurang, yakni adanya setting villa yang justru bisa mengaburkan pembaca. Kalo kurang konsentrasi baca, kesannya justru fokusnya di villa, bukan kamera. Hehe.

Kelebihan?
Bukunya tipis tapi ceritanya nggak diperpendek. Konsep ceritanya sengaja dibikin singkat, jadi pembaca nggak kecewa. Good job, Mbak Ruwi Meita! Kalo menurut gue sih, buku ini juga punya mengangkat urban legend dalam packaging modern. Keren!
Buat yang suka horor, sensasi menegangkannya masih terasa. Dan buat yang nggak suka horor, kesan "hantu" di buku ini dipaparkan nggak seseram di buku - buku lain (yang identik dengan suasana malam, wajah seram, darah, dan rambut panjang) jadi masih "halal" untuk dibaca. Hehehe!

Jadi?
Keseluruhan cerita ini emang fiktif, tapi menurut gue ini ada di kehidupan nyata. Walaupun nggak dalam bentuk "hantu kamera" tapi ajang pencarian "tumbal" sepertinya nggak asing di masyarakat indonesia, bukan?

Buat kalian yang hobi selfie atau fotografi, gue sarankan baca buku ini deh. Biar dapet "sensasi" beda pas foto - foto. Haha!

Sekian review singkat dari gue. Bonusnya, gue cantumin beberapa quote dari buku ini deh:


"Anabel, waktumu tidak banyak. Hati - hati dengan kesukaanmu."


"Jangan terlalu mencintai karena itu hanya akan membunuhmu."


"Semua yang kelihatan, tidak seperti yang sebenarnya."












Saya tantang Fahri - http://handsompret.com untuk membuat foto lebih menakutkan dari ini:

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cerita dari Tana Tidung (3)

Hei!

Lama gue nggak ngeblog. Entah kenapa weekend ini gue mau nulis sekaligus merayakan annyversary lima bulan sudah gue menapakkan kaki di Kabupaten ini. LIMA BULAN. Baru lima bulan ya ternyata, hahaha! *garuk kepala*

Well, gue mau ngelanjutin beberapa kisah yang gue rangkum lagi, di blog gue. Atau lebih tepatnya gue sebut sebagai tweet over 140 characters.



Foto ini gue ambil dua bulan yang lalu, tepatnya pas gue lagi ada kerjaan kantor ke sana. Tepatnya di sebuah desa bernama Bebakung. Gue ambil foto ini dengan kamera hape (nggak pake Camera 360 tapi ya) jadi hasilnya nggak begitu bagus. Maklum, cuma 2Mpx. Gue ngambil foto ini tepat setelah ada ibu - ibu dan anaknya muncul dari belakang bangunan (rumah? bukan. Semacam saung? Mungkin. Entahlah) sambil memakai kain dan membawa gayung. Beliau menyapa gue dengan bahasa daerah, yang gue terjemahkan (gue udah beberapa kali ketemu masyarakat berbahasa yang sama, jadi gue agak familiar dengan istilah - istilah mereka): 
"Hey, what's up? I've been having bath here"
(pastinya gue sendiri yang translate ini pake bahasa bule)

Gue cuma mengangguk dan tersenyum. Gaya khas gue yang gue pake kalo lagi bingung mau ngomong apa. Tahukah kalian, di belakang saung itu ada sebuah sungai yang aliran airnya bisa menghanyutkan motor yang sedang diparkir? Yak, sungai itu entah apa namanya, tapi arusnya kenceng amit - amit. Gue diceritain kalo sungai itu pernah menenggelamkan rumah di satu desa dan menghanyutkan barang - barang mereka termasuk motor. FYI, satu desa di sini nggak lebih dari rumah - rumah kayu yang berjajar di jalanan tanah becek yang lurus (ada sih gang - gang kecil dari kayu gitu, entah itu bisa disebut jalan atau jembatan). Rumahnya ngumpul. Dan hampir semua masyarakat di sana "bersaudara". Artinya, si A adalah saudara dari si B, C, D, sampai Z, yang kesemuanya itu rumahnya ya di situ - situ aja.
Ingatan gue langsung flashback ke kampung gue di tahun 90-an. Dulu gue sering liat di kali kecil deket tanah kosong di kampung, ibu - ibu mandi pake gituan. Eh, ternyata di 2014-an ini ada juga. Dan banyak, Katanya sih, hal kayak gitu biasa di sini. Kamar mandi berjamaah juga biasa. jangan dibayangin sungainya itu jernih macam air di Derawan ya (postingan gue sebelomnya, hehe, promosi sekalian). Air sungai itu warnanya kopi susu. Agak sedikir beruntung karena orang - orang nggak pake air ini buat masak atau minum. Mereka menggunakan air hujan buat masak atau minum.

Nggak cuma desa itu yang kondisi infrastrukturnya kurang bagus. Beberapa yang lain juga sama. Bahkan ada yang belom tersentuh PLN, jadi mereka harus putar otak buat sekedar ngedapetin pasokan listrik. Diesel dan biogas lah andalan beberapa desa yang belom tersentuh listrik itu. Jadi, ya, bisa ngerasain gimana mereka hidup seadanya. Maksud gue, kalo ada solar ya alhamdulillah, kalo lagi susah solar ya sudahlah.

Beralih ke perjalanan jauh gue ke kabupaten sebelah. Gue ngelewatin hutan - hutan yang masih dalam bentuk hutan (menurut lo?!). Gue juga ngelewatin beberapa desa yang menurut gue belom layak dikategorikan sebagai desa. Ada yang cuma terdiri dari satu RT. Yak, satu RT. Bandingkan sama kabupaten di Jawa, mana ada yang cuma punya satu RT. Tapi ya sudahlah, mungkin suatu saat bakalan berkembang. Ya, suatu saat. Entah kapan. Gue cuma bisa memandang miris sama rumah - rumah kayu yang hampir tidak tampak karena pohon - pohon buah yang menutupinya. Kalo lagi panen buah, kayaknya tiap rumah disini pohonnya berbuah berjamaah. Ya, tentunya gue wajib mengenalkan buah yang menurut gue belom sempet gue temui di Jawa: Lai dan Matakucing. Buat yang pengen tau penampakannya, googling aja ya. Lai itu semacam durian tapi nggak lembek. Katanya sih kadar alkoholnya rendah banget dan nggak bikin kolesterol, katanya. Aromanya nggak beda jauh sih sama durian, agak nggak menyengat aja.  Kalo mata kucing itu semacam kelengkeng tapi ukurannya jauh lebih kecil dan biji hitamnya itu jauh lebih gede (mungkin ini sebabnya buah ini disebut "mata kucing"). Bisa dikatakan kalo daging buahnya nggak setebel kelengkeng walopun rasanya nggak beda jauh. Selaen buah - buahan itu, kabuapten ini juga melimpah rambutan, langsat, durian, dan cempedak. Oh, iya, ada durian yang dagingnya merah juga. Untuk masalah harga, asalkan mau ke kebun - kebun, durian sebiji bisa cuma dihargain 3000 perak. Dan kalo rambutan, bisa cukup dibayar dengan "ucapan terima kasih". Hehehe. kayaknya sih bulan kemaren adalah puncak panen buah. di sepanjang jalan, di kebun - kebun, di tanah kosong, bahkan di pekarangan rumah, buah bertebaran. Mulai yang dijual sampe dibagi - bagiin. Gue sendiri sampe mabok rambutan, sampe bosen. 

Oiya, selain buah - buahan, kabupaten ini juga menyimpan potensi perikanan yang menurut gue cukup bisa dikembangkan. Lima bulan di sini, gue lihat sih harga ikan di pasar emang tinggi. Tapi ada yang cerita kalo harga ikan yang dijual di desa - desa "pedalaman" sana jauh lebih rendah, bahkan bisa dibilang jauh dari harga pasar. Dan kerennya lagi, kabupaten ini punya beberapa spesies ikan yang nggak gue temui di pasar - pasar di Jawa. Gue sering banget makan ikan yang belom pernah gue makan sebelomnya. Bentuknya absurd, rasanya aneh. Gue kadang - kadang mikir juga sih, apa ikan - ikan ini udah melalui uji kelayakan konsumsi manusia sampe bisa bertengger di piring makan gue. Tapi yang namanya perut kan nggak bisa mikir, dengan modal bismillah masuklah ikan - ikan itu ke mulut. Hahaha.

Banyak potensi di tempat ini yang sepertinya kurang mendapat perhatian. SAyang banget, sih, menurut gue. Kemajuan pesat emang tampak di ibukota kabupaten, tapi di daerah pinggiran tampak masih kurang. Ibukota kabupaten emang udah full time listrik dan air PAM, tapi daerah sekelilingnya bahkan ada yang masih pake diessel dan air hujan. Ya, maklum, kabupaten baru.

Tapi yang paling gue prihatinkan adalah kehidupan bocah - bocah di ibukota kabupaten ini. Gila, gue geleng - geleng kepala. Anak - anak SD yang mestinya masih maen karet, udah pegang motor sendiri! Mana kalo pake motor ngebut, nggak seimbang, boncengan tiga, nggak pake helm, becandaan pula. Komplit, kan? Kalo tabrakan, yang salah yang nabrak. Bussseeeeeeeet!

Gue pernah emosi sama bocah - bocah yang sok dewasa itu. Suatu hari, gue lagi naek motor, buru - buru, urusan kantor. Eh ada bocah - bocah pake seragam SD, cewek, boncengan tiga, becandaan gitu, kenceng banget motornya dari arah yang berlawanan sama gue. Mereka kayaknya mau belok (tanpa lampu sein), potong jalan gue. Entah ada setan apa di otak gue, gue nggak berniat nge rem. Yang ada di pikiran gue cuma satu: gue tabrak kalian, kalian jera. Beres. Padahal efek yang bakal gue tanggung kalo itu beneran kejadian banyak banget. Satu, itu motor kantor. Dua, gue bisa luka - luka. Dan yang paling gila, gue bisa dipenjara gara - gara menghilangkan nyawa bocah - bocah yang orang tuanya mungkin punya otak lebih nggak waras dari gue waktu itu. Untung beribu untung, motor bocah - bocah itu berenti sebelom motor gue berhasil nyentuh motor mereka. Gue rasa, gas nya mati, tepat saat moncong motornya beberapa senti dan posisi gue yang lewat. Gue akhirnya cuma ngumpat aja ke arah mereka (dan akhirnya gue sadar kalo gue pake helm jadi mereka kayaknya nggak denger apa yang gue omongin, apalagi ngelihat muka gue).

Kecewa. Gue kecewa sama para orang tua di sini, khususnya yang tinggal di sekitaran tempat gue bermukim sekarang. Bocah - bocah kecil gitu dibiarin naek motor, boncengan pula. Nggak cuma satu, dua, tapi udah jadi trend! Oh my, gimana nasib penerus bangsa ini ntar, kalo di kabupaten baru sekecil ini generasi mudanya udah diajarin hal - hal kayak gitu? Sebenarnya apa yang dipikirkan orang tua mereka? Jarak yang jauh, eh? Atau duit yang berlebih? Gue miris, di saat bocah - bocah lain di pinggiran masih jalan kaki buat sekolah, atau sekedar bersepeda ontel, bocah - bocah sekitaran sini udah pamer motor, dengan bangganya bawa motor boncengan bertiga (bahkan pernah gue lihat berempat) ke sekolah. Hello??? Gue speechless. Gue pribadi, lebih sering jalan kaki daripada naek motor. Selaen karena gue nggak punya motor (sehari - hari gue bertugas pake motor kantor), gue juga nggak mau masa tua gue ntar penyakitan. Yak, gue sekalian ngelatih badan biar gerak.Duduk di kantor udah bikin badan gue manja, gue nggak suka. Gue sering ditegur bos, kenapa nggak naek motor aja. Alasan panas lah, jauh lah. Enggak. Selagi gue masih mampu, gue mending jalan kaki. Banyak mata memicing kalo ngeliat gue jalan kaki. Bodo amat! Ntar, gue masih bisa lari - larian, lu pada udah bebaring di rumah sakit kena stroke!!! *evil smlie* *jahat banget gue daritadi*

Indonesia.... Indonesia....

Inilah salah satu faktor kenapa gue nggak simpati sama bocah - bocah di sini, yang seharunya mendapat uluran tangan pemerintah biar makin keren prestasinya. Males gue ngelihatnya. Apalagi anak - anak ABG sok kota yang gayanya udah terpengaruh sama sinetron - sinetron bodoh yang sepertinya ditonton sama orang tuanya. Duh. Miris. Keadaan yang jauh banget sama pemandangan yang gue lihat di desa - desa lain yang ada di pinggiran. Entah gue harus bangga karena gue udah tinggal di ibukota kabupaten yang fasilitasnya udah tergolong enak (NOTED: rumah di kabupaten ini masih 90% berdinding dan beralas kayu juga beratap seng, jadi yang gue maksud fasilitas terbatas pada listrik, air PAM, dan pasar) atau gue harus kecewa karena dengan gue di sini, gue ngelihat kenyataan miris ini.

Ah sudahlah...

Sekian dulu postingan blog gue. Sinyal telk**sel beberapa hari ini agak kacau, takutnya postingan ini keburu nggak kebagian sinyal buat di publish. Hehe.



Sampai jumpa di perjalanan berikutnyaaa.... ^^



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Backpacker Absurd Ke Derawan

Ini adalah perjalanan biasa...dilakukan oleh dua orang biasa...tapi menuju tempat yang LUAR BIASA!


Perkenalkan, gue dan sohib gue adalah dua orang cewek absurd yang nggak sengaja nemuin keberuntungan beruntun sampai akhirnya ombak laut ngebawa kami ke pulau surga yang namanya DERAWAN.


*drum roll*


#DAY1

Ke-absurd-an ini berawal dari kami yang baru aja pulang dari tugas dinas di Samarinda hari Jumat, 6 Juni 2014. Kebetulan kami kerja di salah satu kabupaten di Kalimantan Utara, jadi kalo mau balik ke "kantor" harus singgah ke Kota Tarakan dulu.
Pesawat kami landing sekitar pukul 10.45 WITA. Tujuan kami setelah bandara pasti lah pelabuhan. Jarak dari Bandara Juwata ke Pelabuhan Tengkayu nggak jauh, sekitar setengah jam aja. Untuk pilihan transportasinya bisa naek mobil - mobil carteran atau naek ojek. Kami sih biasanya minta jemput temen. Hehehehe.

Pas di pelabuhan, kami berniat pesen tiket balik, tapi iseng - iseng nanya jadwal keberangkatan menuju Derawan sekaligus harganya. Eh si mbak - mbak penjual tiket malah nawarin kami: "Siang ini ada speedboat reguler perdana ke Derawan."
Kami berdua saling pandang, kemudian hening. Spontan kami senyum dan nanya berapa harganya. Cuma 250 ribu sekali jalan, jadi kalau PP cuma 500 ribu. Tanpa pikir panjang, kami batal beli tiket pulang dan beralih ke Derawan. Padahal kami cuma bawa beberapa lembar sisa baju yang masih belom kepake sisa pelatihan kemaren. yang ada di pikiran kami cuma satu: kesempatan nggak bakal datang dua kali! NEKAT!(Sebenernya sih mumpung kami masih dalam "surat ijin" jadi nggak dianggep bolos kerja. Hahahaha!)

Jadi, sekarang udah ada speedboat reguler rute Tarakan-Derawan PP dengan tarif Rp 250.000 sekali jalan. Tiket PP bisa langdung dipesan biar nggak kehabisan. Tapi rute ini hanya melayani keberangkatan di hari Jumat pukul 2 siang dan balik hari Minggu pukul 2 siang WITA (Kabarnya, jam ini bakal diganti jadi hari Minggu pukul 9 pagi untuk mengantisipasi penumpang yang ngejar pesawat siang/sore).

Dulunya ke Derawan melalui Tarakan hanya dilayani dengan speedboat pribadi yang di carter, bisa sampe 2 juta lebih per boat. Buat kalian yang mau wisata rombongan, nggak campur sama penumpang laen, bisa pakai cara ini. Atau buat kalian yang mau lewat rute lama: Berau (Tanjung Redep) - Derawan, bisa juga sih. Rutenya, dari bandara Berau (Tanjung Redep) langsung ke Tanjung Batu via mobil - mobil carteran, tarifnya antara 70 - 100 per orang lah dengan waktu tempuh 3 jam. Setelah dari Tanjung Batu bisa nyeberang dengan speedboat selama 30 menitan. Saran dari orang Derawan sih, hati - hati dikibulin tukang boat. Jangan mau carteran, tarifnya itung aja per kepala 50 ribu, gitu. Gue sendiri belum coba rute itu jadi rute Berau-Derawan ini gue cuma denger pengakuan orang - orang Derawan aja sih.

Balik ke cerita gue.

Karena gue backpacker absurd dadakan, gue langsung lari - lari menuju speedboat yang ternyata udah penuh orang. Kami harus duduk di bangku "cadangan" deh. Oh iya, buat kalian yang belom pernah naek speedboat, bangku "cadangan" adalah bangku - bangku plastik yang diletakkan di tengah boat. FYI, speedboat itu kan duduknya hadap - hadapan\ semacam angkot gitu.
Kebetulan kemaren itu kami barengan sama tiga rombongan keluarga. Yang pertama adalah penduduk asli Derawan, yang kedua adalah pengantin baru bersama keluarga "super besar"nya, nah yang ketiga kami waktu itu belum tau rombongan apa. Speedboat akhirnya melaju setelah kami datang. Nggak disangka, ombaknya jauh lebih gede ketimbang ombak sungai yang biasa kami lewati menuju kabupaten. Tapi karena kami mungkin sudah terbiasa, tetap aja kami bisa tidur pulas meskipun duduk di bangku cadangan dan ombak yang berhasil bikin beberapa orang mabok. Hahahahaha.

Dua jam berlalu, kami pun bangun. Nggak kerasa, kami udah ada di tengah laut. Tanpa kapal satupun yang nemenin. Hahaha. Nggak lama kemudian keliatan beberapa pulau. Penumpang yang merupakan penduduk asli Derawan tiba - tiba ngomong: "Itu pulaunya, udah keliatan dikit". Ternyata udah keliatan, tappi kecil banget. Barulah 45 menit kemudian pulau itu udah mulai tampak jelas. Spontan kami semua kegirangan kayak anak kecil: "De...Ra...Waaaaaaaan." (maklum, yang pernah tau Derawan ya cuma rombongan orang asli sana, yang laen ya baru pertama kali, hahaha)
Setelah desak - desakan di speedboat, akhirnya terbayar sudah jerih payah kami. Dari kejauhan pulau itu nggak beda dengan pulau - pulau eksotis Indonesia lainnya: menakjubkan. Tapi setelah mendarat dan menjelajahi, ternyata Derawan punya sisi - sisi eksotisme tersendiri menurut gue.

Setibanya di pelabuhan, kami berdua langsung heboh. Seumur - umur gue belom pernah ngeliat laut sebening itu di bawah telapak kaki gue. Emang gue nya aja kali ya yang nggak pernah ke tempat - tempat eksotis, haha! Tapi bener, tetibanya itu kami langsung ambil handphone dan foto - foto dengan kamera resolusi rendah (punya temen gue sih masih bagus 8 Megapixel, lah gue cuma 2 Megapixel, burem! haha!) soalnya emang kami nggak punya DSLR. Kami nggak ribet bawa barang karena emang kami cuma bawa tas punggung dengan isi seadanya tadi. Ini nih beberapa jepretan amatiran kami:


Penampakan kapal reguler yang mengangkut kami (dan banyak orang lainnya)


Our first sunset di dermaga Derawan, sekitar pukul 5 sore (WITA)

Setelah nyampek, suer, kami nggak tau mau kemana. Gue belom sempat blog-walking tentang Derawan, jadi gue juga nggak tau tempat - tempat yang recommended di sini. Hahaha! Untungnya kami ketemu rombongan (yang tadi gue nggak tau rombongan apa itu) dan ternyata mereka rombongan dari instansi sebelah yang juga baru pertama kali liburan di Derawan. Kenalan lah kami sama mereka, lima orang. Akhirnya, kami bertujuh memutuskan buat muterin pulau yang katanya cuma butuh waktu 30 menitan itu (emang bener, cuma 30 menit ternyata setelah kami buktiin). Di perjalanan, gue ketemu spot ini:


Setelah beberapa langkah, ketemu view beginian

Akhirnya kami menginap di penginapan yang berbeda soalnya mereka udah nggak sanggup jalan lebih jauh (maklum, ada yang udah bapak - bapak). Gue dan sohib gue di penginapan Pinades, sedangkan mereka berlima di penginapan Lestari 1. Derawan menawarkan banyak pilihan resort, penginapan, dan homestay. Kalo buat kalian yang berduit atau rombongan, bisa pilih resort agak mewah, rate nya paling rendah (jauh dari tepian pantai) 500ribu dan paling tinggi...entahlah..mungkin tiga juga keatas. Tapi emang eksklusif banget tempatnya. Kayak gini nih:

Resort mewah (ngarep ada yang ngajakin nginep di sini hahaha)

Tapi karena kami hemat budget, jadi kami pilih penginapan murah tapi masih di atas laut letaknya. Pinades namanya, bagian dari Sari Cottage. Semalem yang nonAC plus kamar mandi dalem harganya 200ribu, buat 2 orang tapi pake kasur lantai (tapi kasur lantai yang tebel loh). Kalo Penginapan Lestari 1 yang nonAC cuma 175ribu, kasurnya springbed juga buat dua orang. yang AC 250 ribu. Menurut kami sih Pinades cukup bersih dan nyaman, soalnya ada balkon belakangnya, beda sama Lestari 1. Jadi kalau mau merenung bisa duduk - duduk doang di balkon sambil pandangin tepian. Murah tapi menyenangkan deh. Begini penampakannya:

Penginapan Pinades


Nah ini kamar kami


Pemandangan yang keren dari balkon belakang


View balkon depan kamar

Sekedar saran sih, jangan ke Derawan pas musim liburan. Kata ibu - ibu penjaga penginapan sih, pas musim liburan, orang yang ke Derawan bisa sampai 650 orang. Gue ngebayangin aja, pulau sekecil ini didatengin 650 orang bareng - bareng. Bukan cuma penginapan katanya yang rame, tapi jalanan dan spot - spot keren foto juga. Katanya, penduduk aja sampe miring - miring kalo jalan saking sempitnya. Beruntung lagi gue ke sini pas nggak musim liburan, padahal gue nggak sempet mikir serame itu. Lagipula kalau penginapan dan resort pada penuh, satu - satunya pilihan ya homestay, yaitu rumah penduduk yang dibikin semacam kamar khusus tamu (itu pun katanya juga sering kehabisan). Lebih murah sih, ada yang sampe 100ribu tapi kalo buat liburan kayaknya kurang aja gitu, masa liburan nginepnya di rumah orang. Lagipula kalo homestay umumnya kamar mandinya di luar, kadang campur sama pemilik rumahnya. Kalo buat cewek sih nggak recommended yaaaa kecuali kalo para backpacker bener - bener pengen liburan super hemat. Tapi ada juga homestay yang emang disewain satu rumah gitu jadi bisa buat bareng - bareng, entah berapa harganya gue nggak sempet nanya.

Nyampe di penginapan, kami cuma mikir satu hal: makan. Akhirnya setelah beres - beres, kami mulai menerobos malam buat cari makan. Derawan menawarkan beberapa cafe, kayak gini nih:


Sslah satu cafe yang rame pas malem hari

Tapi karena kami pengen hemat, kami menuju ke warung sederhana aja dan makan nasi goreng. Lumayan kok rasanya. Berdua total cuma 40ribuan.


Warung Bulek Siti, jual macem - macem kok

Abis makan, kenyang, kami balik ke penginapan. Gue menghabiskan malam dengan merenung. Tiba - tiba rombongan berlima ngehubungi kami, katanya besok mau snorkling tapi bayar patungan. Sebenernya kami nggak kepikiran buat snorkling, soalnya pasti nggak bakal mampu nyewa speedboat cuma dua orang aja, Alhasil kami langsung nge-iya-in tawaran itu. Lagi - lagi kami beruntung. Berakhir sudah hari pertama di Derawan.


#DAY2
Kami kesiangan! Padahal mau ngejar sunrise. Cuaca juga lagi mendung. Tapi kami masih ngotot cari sunrise yang menurut perkiraan kami ada di dermaga resort - resort mahal yang kami lewatin kemarin. Emang bener ternyata, sunrisenya masih ada dikit - dikit. Sebenernya di dermaga resort itu ada tulisanya "dilarang masuk selain tamu" sih, tapi karena masih pagi dan lagi sepi banget, kami masuk - masuk aja tuh. Hahaha! Mungkin ceeritanya bakal beda kalo pas musim liburan kali ya..


Jepretan "Late Sunrise"

Karena kami janjian snorkling jam 8 pagi, kami tunda dulu muterin pantainya, balik ke penginapan dan siap - siap. Akhirnya kami ketemu rombongan dan siap naek kapal. Paket snorkling yang kami pakai ini milik Penginapan Lestari, katanya sih 1.750.000 harganya, exclude sewa alat snorkling dan makan siang. Tapi ujung - ujungnya kami total cuma abis 380 ribu include makan malam "super gede" dan sarapan pagi. Gue sendiri nggak tau itungannya gimana, yang jelas ini murah banget, menurut kami.


Penampakan speedboat yang ngebawa kami bertujuh ke pulau - pulau

Ombak yang tenang di pagi hari bikin suasana makin menakjubkan. Laut yang bening dan tenang bikin kami semua speechless. Norak banget, hahaha! Dan kira - kira satu jam lebih akhirnya kami sampai di Pulau Kakaban.

Spot yang difoto sejuta umat kalo pas ke Kakaban

Awalnya kami pikir itu cuma pantai, tapi di dalam hutannya ternyata ada danau yang isinya ubur - ubur nggak menyengat. 

Jalanan menuju danau yang kayaknya licin banget kalo pas lagi hujan

Tibalah kami di danau ubur - ubur dan siap snorkling, Jujur, ini pengalaman gue snorkling pertama kali tapi untungnya gue langsung bisa.


Ini dia danaunya! Gue nggak bisa foto dalam air soalnya nggak punya kamera underwater

Kereeeeen! Tapi geli. Ubur - uburnya dilarang dicium atau dideketin ke kulit muka soalnya bisa bikin agak gatel. Tapi kalo sekedar lewat sih nggak masalah. Cuma ya itu, geli banget apalagi yang gede. Makin ke tengah makin banyak yang gede - gede, hehehe.
Puas maen sama ubur - ubur, kami diajak snorkling. Nggak jauh dari pantai sih, tapi karena masih pagi jadi masih banyak banget ikan warna - warni ngambang. Sayangnya ya itu, gue nggak punya kamera underwater jadi nggak ada dokumentasi. Setelah itu kami balik lagi ke tepian pantai buat foto - foto sambil makan siang.Meskipun makanannya seadanya tapi kalo rame - rame di pinggir pantai pasir super putih dan laut with crystal water gitu rasanya laen! Suer!

Setelah ngisi perut kami lanjut ke pulau Maratua buat ketemu Black Manta, ikan pari yang terkenal itu. Dalam perjalanan, kami ditemenin sama sekawanan lumba - lumba. Yap, bener, kami beruntung lagi. Speedboat kami dikelilingi sekawanan lumba - lumba yang tiba - tiba muncul tiba - tiba ilang sambil atraksi lompat - lompat. Sayang juga nggak ada yang sempat ngambil fotonya, kecepetan dan tiba - tiba sih. Tapi kereeeen!

Kali ini gelombang laut kurang bersahabat, lagi tinggi. Kami udah sampai di spot snorkling Pulau Maratua tapi nggak ada yang berani nyebur. Maklum, belum ada perenang profesional dan kami nggak bawa tour guide. Akhirnya dengan berat hati kami ninggalin sang Black Manta tanpa sempet ketemu.

Perjalanan dilanjutkan ke pulau terakhir yaitu Sangalaki. Lagi - lagi dalam perjalanan kami digiring sekawanan lumba - lumba. Gemes rasanya pengen jepret foto tapi tetep aja nggak kena. Sekitar 15 menit, pulau Sangalaki menyambut kami. Kami langsung menuju ke tempat penangkaran penyu.


Bayi - bayi penyu yang diperkosa tangan - tangan manusia

Gue secara pribadi nyesel sih harus lliat penyu - penyu itu diajak foto sama tangan - tangan manusia sampe ada yang lemes banget penyunya. Gue nggak mau berlama - lama di sana, nggak tega. Lalu gue dan sohib gue jalan - jalan terpisah dari rombongan. Daaaan, kami sampai di "Private Beach"! Kenapa gue sebut gitu? Karena cuma kami berdua yang ada di sana, di sepanjang mata memandang!


Pantai Kosong


Pantai Kosong Lagi


Nah yang ini ada pohon tumbangnya


Yaudah akhirnya gue ngelamun aja

Gue bener - bener nggak mau hengkang rasanya dari pantai ini. tapi sayangnya hari udah sore dan kami semua harus balik ke penginapan sebelum ombak makin tinggi. Tapi mungkin nggak bakal sesepi ini kalo musim liburan ya. Good bye, Sangalaki! :')

Sebelum balik, kami diantar dulu buat snorkling di deket Sangalaki. Tapi ombaknya gede banget. Kami emang nyebur sih tapi pemandangan bawah lautnya nggak seheboh tadi pagi. Kami pun hengkang dan sebelum nginjek pulau Derawan lagi, kami mampir ke pulau pasir, semacam yang di Bangka Belitung itu loh. Gundukan pasir tengah laut. Kayak gini nih:


Berasa diapit dua lautan, haha!

Akhirnya kami balik ke penginapan. Tapi gue yang menggilai sunset masih berniat buat ke dermaga kedatangan yang katanya sunsetnya bagus banget. Setelah lari - larian, ini hasilnya:


Dermaga Kosong


Not a great one but good :)


Dan gue pun ketemu serombongan mahasiswa yang minta difotoin


Dan perjalanan pun berakhir. Capek sih tapi seneng banget! Dan setelah bersih - bersih badan, kami pun menuju rombongan berlima di Penginapan Lestari dan makan bareng dengan porsi jumbo! Lanjut ngobrol - ngobrol santai di depan penginapan mereka sampe malem. Akhirnya kami tidur dengan amat sangat nyenyak. :')

#DAY3

Kali ini kami nggak ketinggalan sunrise lagi! Badan udah fit, kami menuju ke pantai. Keren abis!


Kayaknya kali ini kami justru kepagian soalnya nggak ada orang di pantai kecuali tukang bersih - bersih sampah pantai di pinggiran. Yang gue sayangkan, pengunjung agaknya kurang bijak di pantai. Masih ada sampah - sampah yang bisa ngerusak alam Derawan. Sayang banget. Mental manusia lah yang bikin pantai - pantai eksotis semacam Derawan ini binasa. Apa sih susahnya ngumpulin sampah?

Perjalanan kami berlanjut menyusuri pantai. Burung - burung bangau tebang rendah, hinggap, terbang lagi. Sepi. Nyaman.


 Apalagi yang lo cari kalo udah nemu pemandangan kayak gini?

Kami terus jalan kaki berdua sepanjang pantai. Yaaaa sesekali duduk juga di pinggir sambil ngelamun, terus lanjut jalan lagi. Sebenernya kami ketemu sama rombongan lima orang yang bareng kami snorkling itu, tapi mereka nyewa sepeda sedangkan kami jalan kaki jadi mereka cabut duluan. Sewa sepeda di sana cuma 20 ribu dua jam (bisa lebih sih sebenernya). Kami sih memilih jalan kaki aja biar lebih seru. Dan akhirnya kami singgah di sebuah dermaga kosong. Kami nggak tau fungsinya apa, nggak berniat nanya juga ke penduduk, jalan aja lurus. Eh ternyata itu adalah pelabuhan tempat penyu - penyu nyender. Kami nggak sengaja nemuin lima penyu yang renang - renang santai di sana. Amazing! Berapa keberuntungan yang udah kami dapet? Hahaha!


Lagi - lagi kurang jelas tanpa DSLR

Kami pun jalan lagi, sampe ujung dermaga. Niatnya cuma duduk santai, eh ternyata ada yang aneh sama air di bawah kami. Ternyata sekumpulan ikan kecil lagi ngebentuk barisan dan nggak lama kemudian lompat - lompat indah gitu, semacam atraksi ikan berjamaah. Ohmy...bener - bener kami belom pernah ngeliat itu sebelumnya! (Kami emang norak, hahaha!) Dan kami bengong liat ikan - ikan itu sampe kira - kira satu jam lamanya! Gue ngehubungi rombongan lima orang bersepeda itu soalnya gue berani jamin mereka belom ke dermaga yang ini. Nah pas mereka nyampe ternyata penyunya udah pada ilang. Belum seberuntung kami. Yes! :))

Karena udah siang, kami memutuskan buat sarapan dan keliling toko souvenir buat belanja - belanja pernak - pernik laut sekedar buat oleh - oleh.


Potret jalanan di Derawan

Tepat pukul setengah satu, dengan berat hati kami check out. Berat rasanya buat balik. Tapi gue masih cukup waras untuk kembali semangat ngumpulin duit biar bisa ke sini lagi lain kali.


Last shoot before leaving :')

Good bye Derawan...I'll be back soon :')

SEKIAN


*Thanks banget buat Fufu atas persahabatan dan perjalanannya. Thanks juga buat rombongan Bu Keke dan DSLR-nya*

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cerita dari Tana Tidung (2)

Hai.
Ketemu lagi di blog gue. Masih dengan judul yang sama.
Tepat sebulan gue menginjakkan kaki di bumi Borneo ini. Sebuah ukuran waktu yang cukup singkat untuk mendeskripsikan segala hal di sini, tapi lagi - lagi (yang selalu gue lakukan setiap kali gue nulis)  I just wanna make it immortal. Cuma itu tujuannya. Karena memori manusia terlalu percuma jika dipenuhi hal - hal yang bisa diingat oleh blog, google, instagram, tumblr atau sebagainya. :)

Kali ini, gue udah mulai mengenal beberapa daerah di KTT (Kabupaten Tana Tidung, begitu orang sini menyebutnya). Gue udah mulai menjelajahi kecamatan Sesayap. FYI, Tana Tidung sekarang terdiri dari 5 kecamatan dan "ibukota kabupaten"nya ya kecamatan Sesayap ini. Dan kebetulan, kantor plus kos-kosan gue ada di daerah ini. *beruntungnya*

Kecamatan Sesayap masih tergolong ramai, meskipun kalau sudah masuk ke desa - desa pelosok, mulai sepi juga. Kecamatan ini meskipun kecil tapi sudah mencukupi sarana dan prasarana umumnya. Ada rumah sakit (yang dulunya puskesmas) di jalanan atas bukit, ada sekolah - sekolah, ada pasar (yang lebih seringnya sepi dan harga barang - barangnya cukup tinggi), ada juga bank (BRI sama BNI doang sejauh ini), pertokoan dan warung - warung.
Efek dari penjelajahan tiap dinas luar atau tiap pulang kerja, gue jadi mengenal beberapa warga di lingkungan sekitar gue, mulai dari ibu - ibu muda jutek pemilik toko kelontong yang menjual barang - barang yang tergolong lengkap, sampai ibu - ibu tua penjual sanggar yang ramaaaaaaaaaah banget (soalnya ternyata ibu itu asal daerahnya nggak jauh dari kampung gue, jadi gue juga sering dikasih bonus).
Oiya, taukah kalian apa itu sanggar?
Bukan sanggar tari atau semacam tempat kursus. Kata orang sini, sanggar itu pisang goreng yang...emm..apa ya, dimakan dengan sebuah bumbu yang absurd rasanya. Kalau buat lidah gue, bumbu itu semacam bumbu siomay yang kacangnya nggak kebanyakan. *halah* Gue pribadi baru makan makanan ini ya di sini. :)
Bergaul dengan masyarakat sekitar membuat gue merasa "mendingan". Nggak ada hiburan yang bisa diharapkan dari kabupaten ini, makanya sebisa mungkin gue "cari" hiburan. Salah satu tempat yang rame di malam minggu di kota ini adalah (mungkin satu - satunya) tempat bilyard di jalan Jendral Sudirman (jalanan utama, dekat pelabuhan). Eits, tapi gue nggak ke tempat itu dong, gue cuma lewat, menuju ke tempat - tempat penjual makanan di sepanjang jalan.
Sejauh ini gue udah mengenal beberapa penjual makanan: mas - mas penjual es kelapa muda, ibu - ibu penjual sanggar dan gorengan lainnya, abang bakso dan mie ayam, dan ibu - ibu penjual es oyen. Heran ya, gimana es oyen bisa nyampe ke sini? Itulah hebatnya kaum migran. Para penjual makanan ini ngebantu gue banget kalo pas gue lagi suntuk. Gue cukup dateng ke mereka, beli, sambil memancing mereka buat cerita. Simpel, gue kenyang, nggak haus, dan gue dapet cerita tentang daerah ini. Tapi lebih seringnya, mereka yang keburu curhat. Entah tentang harga yang makin naek, tentang warung yang sepi, ataupun tentang kerinduan mereka akan keluarga di pulau seberang. Mendengar penuturan mereka, gue jadi ngerasa nyaman. Setidaknya, gue nggak sendirian. Dan jangan salah, orang sini umumnya ramah kok sama orang baru (asalkan si oran barunya nggak songong dan sombong yaaa).
Harga - harga yang selangit sebenarnya bisa diatasi, salah satunya dengan memasak di dapur masing - masing. Gue belajar itu dari orang - orang yang sekos sama gue di sini. Jadi, untuk mengantisipasi harga makanan di warung yang tinggi, mending masak lauk dan nasi sendiri di rumah soalnya harga beras di sini masih tidak jauh dari kota - kota di Jawa. Tapi ya, namanya juga gue, masak sendiri pun tetep aja jajan di jalanan dengan alasan menambah keakraban. Haha!

Selain bergaul di masyarakat, gue mulai coba jalan - jalan di perbukitan sekitar Sesayap. Kalau cuaca mendukung (soalnya seringnya di sini panasnya banget banget banget, jadi bikin mager di dalam rumah atau kantor), gue biasa jalan - jalan pake motor. Oksigen di sini bener - bener gratis dan diobral! Sepanjang jalan yang naek turun, lo bakal melintasi bukit - bukit yang masih hijau tapi sebagian udah agak gundul karena penebangan. lu nggak perlu takut masuk jurang karena umunya jalan di sini kayak punya dinding alami dari bukit, jadi kalaupun elu nggak terbiasa naek motor di daerah gunung, daerah sini masih tergolong aman. Lagipula, nggak banyak kendaraan yang melintas di jalanan bukit - bukit ini. Jalanannya pun sebagian sudah aspal. Tapi jangan coba - coba melintas di sini malam hari sendirian. Fasilitas lampu jalan masih belum ada. Agak serem, kan? :)
Selain itu, kalo gue lagi males bawa motor, gue prefer jalan kaki ke pelabuhan. Jaraknya emang deket banget sama kos gue. Biasanya gue jalan kalo pas pulang kerja, pas sore dan pas sunset. Nggak bagus - bagus amat sih, tapi not bad lah ya. Ini nih gambarnya, diambil pas lagi mendung. Hehe.



Kenyamanan dan kebahagiaan itu bisa diciptakan, kok.
Enjoy your life and see you on the next post. :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sebuah cerita dari Tana Tidung (1)

Sampai sudah keinginan gue buat nulis di blog kesayangan setelah hampir seminggu menyiapkan mental untuk sekedar nulis.
Adakah dari kalian yang mencari artikel atau sekedar tulisan ringan tentang salah satu kabupaten di Kalimantan Utara ini?
Gue harap, kalau benar kalian mencari, kalian bisa menemukan hal yang lebih dari yang pernah gue temukan. Hahaha.
Tidak banyak yang memberikan pubilkasi tentang wilayah ini. Karena ya mungkin orang jarang tertarik ke sini kalo nggak "terpaksa" kayak gue. Ya, gue penempatan kerja di kabupaten ini.
Sebagai orang rantau, pertama kali gue shock banget ngeliat keadaan kabupaten ini. Bisakah gue sebut ini sebagai "just a big village"? Bukan kayak kabupaten, apalagi kota.
Perjalanan gue dimulai dari bandara Juwata Tarakan, lanjut ke pelabuhan. Ya, gue naik kapal motor yang kalo nggak salah namanya KM Mutiara. Dengan susah payah karena bawaan banyak, sampai juga gue duduk di kapal motor yang panasnya ampun deh itu. Sebuah pengalaman gue dapat di sana. Keramahan orang - orang. Gue kebetulan duduk di depan mas - mas dan di sebelah mbak - mbak yang tau tempat kerja gue. Mulailah mereka berkisah. Sepi. Selalu itu yang mereka katakan untuk pertama kali. Yang kedua, mahal. Ya, waktu itu mereka bilang harga di sini amat sangat mahal. Seiring dengan melajunya KM Mutiara, gue merenung sambil pandangin air laut yang kemudian ganti menjadi air sungai yang coklat, tentunya dengan pandangan nanar. Kemana gue setelah ini sebenernya?


Pemandangan sore itu tidak cukup menarik. Hanya air. Dan hamparan hijau, entah pohon apa saja itu yang diselingi dengan tumbuhan mangrove. Banyak asumsi yang berkelana di pikiran gue. Sesekali gue ngeliat orang - orang di kapal, banyak yang udah nunduk tidur. Dan sepertinya gue juga mengalami hal yang sama beberapa saat kemudian. Gue ketiduran, sampe kebangun di salah satu pelabuhan kecil. Udah dua jam gue ngambang di sungai. Belom sampai juga. Itu bukan pelabuhan kecamatan gue. Dermaganya kecil, seadanya. Gue mikir, apa dermaga gue ntar juga gitu?
Lanjut perjalanan 45 menit lagi, gue sampai di dermaga tujuan. Ternyata agak gede, meskipun yaaa, tetep seadanya. Buat yang belom pernah naek kapal motor, mungkin agak bingung gimana cara keluar dari kapal motor yang gue naikin ini. Hahahaha.
Sampai di situ gue dijemput bos. Ternyata kantor gue nggak jauh dari pelabuhan.
Jangan ditanya gimana kesan gue pertama kali. PASTI, shock. Sepi. Ya, bener. Emang sepi banget, bahkan di pelabuhan. Sebelum gue hilang kesadaran *apasih Ndah* si bos buru - buru ngajakin gue ke rumah salah satu rekan kerja buat nginep malam ini, berhubung gue nggak bisa nginep di kantor.
Sepanjang perjalanan ke rumah rekan gue itu, gue tertegun. Hampir semua bangunan terbuat dari kayu. Ya, wooden wall. Termasuk kantor gue. Entahlah, yang satu ini di luar bayangan gue sebelumnya. Hampir semua referensi yang gue dapet di google nggak menyebutkan hal ini. Tapi memang sih, kayu - kayu di sini amat sangat bagus kalo dijadiin rumah. Nggak keliatan seperti rumah yang dari kayu, udah banyak yang modern desainnya. Tapi ya, masih ada yang modelnya kayak rumah jadul gitu sih. Bukan itu masalahnya, gue sedang mempertanyakan, kenapa di Jawa nggak bisa kayak gini juga? Hutan yang minim? Bukankah Indonesia itu kaya? Ah sudahlah.
Okelah, gue nyerah. Gue udah mulai hopeless. Si bos lebih bikin gue galau lagi. Dia membenarkan kalo harga di sini selangit. Semangka bisa 20 ribu lebih sebutir. Dan gue ngebuktiin, makan nasi pake ayam goreng di warung pecel lele harganya 30 ribu rupiah! *kalo dibandingkan sama makan di mall di Jakarta, cita rasanya beda tapi harganya sama* #AkuRapopo



Satu lagi, tanpa persetujuan dari siapapun, gue memproklamirkan daerah ini memang sepi. Yak, sepi. Apalagi kalo udah mulai malem. Malam pertama gue nginep di tempat ini, astaga, di bawah bukit yang, ah sudahlah. Jangan dibayangkan kayak di puncak Bogor yang sejuk dan nyaman. Di sini benar - benar perbukitan yang seperti menyangga rumah - rumah penduduk yang terbuat dari kayu. Kalo siang panas banget, kalo malem dingin banget. Dan selama hampir seminggu gue stay di sini, cuma semalem yang nggak hujan. Hahaha. Untungnya, gue ternyata nggak tinggal di deket bukit itu. Gue dapet kos - kosan sederhana deket kantor.

Awalnya gue merenung, kenapa gue harus di sini.
Tapi semesta menjawab: iya, lu harus di sini.

Suatu pagi yang gerimis, gue berangkat ngantor.
OH MY GOSH, ini bener - bener aroma yang gue cari!
Hujan, tanah basah, rumput, ah KEREN!
No pollution! Sama sekali! Bau rumput dan pohonnya masih alami, banget! Beda sama atmosphere pulau Jawa, pun itu di pegunungannya. Entah aroma apa ini, tapi ada yang berbeda.
Dan begitu sore harinya gue bisa menyaksikan senja yang indah dari atas bukit. Sayang, kamera gue nggak begitu bagus nangkep remang - remangnya. Nggak perlu jauh - jauh "mendaki" juga karena di sini kan emang perbukitan, hahahaha. Gue nggak nyangka tempat ini ada bagus - bagusnya juga. Mungkin karena gue suka senja. Dan aroma seperti ini. Seperti Jawa, di tahun 90-an, mungkin. :))

Dari kabar yang gue dapet dari rekan  kantor sih, masih ada yang lebih menakjubkan di sini. Di bukit - bukit lain. Someday, gue bakal kisahkan lagi.
Sebagai orang kota yang haus aroma alam, gue rasa semesta emang manggil gue buat ke sini sejenak, beberapa saat, buat sekedar detoks dari polusi - polusi or just to refresh my mind.

Meskipun keadaan yang masih "alami" banget, tapi ternyata tempat ini nggak se"desa" yang gue pikirkan. Listrik udah nyala 24 jam, air ngalir lancar dan bisa juga ditambah dengan air tadah hujan yang "disaring" sama tangki yang disebut masyarakat dengan sebutan "profil". Dan yang paling menyenangkan, sinyal handphone masih bisa nangkep HSDPA/3G! Nggak cuma ngeblog, streaming pun lancar all day di sini. Makanan juga tersedia 24 jam, asal punya kocek lebih sih nggak masalah. Penginapan dan kos - kosan juga banyak tersedia, ya, meskipun kayak yang gue bilang tadi, kebanyakan masih berdinding dan berlantai kayu sederhana. Cuma satu yang kurang, nggak ada angkutan umum di sini. Begitulah, mau nggak mau lu harus bisa drive sendiri, entah motor atau mobil. Lebih seru lagi kalo lu suka off-road. Masih banyak jalanan yang "cocok" buat lu. Hahahaha!

Terkadang, manusia mengeluh pada apa yang tidak sesuai dengan keinginannya. Tapi manusia lama - kelamaan juga akan sadar, Tuhan sayang padanya. Apapun yang ternyata digariskan Tuhan, pasti ada maksud tersembunyi di dalamnya. Dan Tuhan tidak pernah bermaksud buruk. Tidak pernah.

Kesimpulannya, gue masih beruntung.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Surat dari Semesta

Ini bukan tentang kehidupan percintaan, bukan pula tentang kehidupan pribadi gue. Ini tentang hubungan gue dan semesta.
Kenyataan mengharuskan gue untuk move on ke tempat ini. Sebuah desa yang dipaksa mekar menjadi sebuah kabupaten baru di Borneo. Bukan hal penting kenapa gue bisa terdampar di sini, tapi yang jelas, ini bukan kemauan gue. Ini kemauan Tuhan.
Berangkat dari keengganan, akhirnya gue menginjakkan kaki di sini. Setelah mengapung di udara dan air sungai, gue sampai di pelabuhan sebuah negeri kecil. Kenapa gue sebut ini sebagai negeri? Karena inilah Indonesia, yang dulu pernah gue kenal sewaktu gue masih pakai pakaian merah putih dan bawa botol minum kemana - mana. Ya, kabupaten ini begitu mengerikan untuk pendatang, apalagi yang terbiasa hidup di Jakarta seperti gue. Tapi gue berusaha tetap melangkahkan kaki, menyusuri jalan raya yang menurut gue lebih mirip jalanan tanah desa - desa di Jawa.
Gue melempar pandangan. Waktu itu senja. Gue sangat suka senja. Keindahan sesaat yang dinanti banyak orang, sementara waktu datangnya tidak menentu. Tapi kali itu gue tidak mendapatkan senja, mendung. Alam seperti berkata, gue mencoba menerjemahkan tapi gagal. Lebih jauh gue menyusuri jalan, gue lihat hutan - hutan yang tak lagi perawan. Pohon ditebang dengan tidak manusiawi, tanah dibiarkan kosong tanpa ada yang tumbuh di atasnya. Tanahnya yang merah terlihat jelas tanpa akar dan batang pohon, mungkin seperti tanah neraka. Kering. Jalan yang gue tapaki makin menanjak naik. Daerah ini memang perbukitan yang cukup terjal. Gerimis mulai menyapa gue ketika gue mencapai puncak salah satu bukit.
God.....
Inikah pertanda kenapa gue harus di sini?
Hamparan mendung yang terlihat seperti payung langit yang berstrata, hutan - hutan hijau yang mulai basah, ditambah pemandangan sungai lebar yang berkelok - kelok. Gue merinding. Gue bakal tinggal di tempat ini. Dan gue mulai merasakan semesta memberikan isyarat di kulit gue. Isyarat untuk menjaga mereka yang tinggal beberapa ini. Isyarat untuk tetap ada di sini, bersedia membuat semesta yang sudah hampir jatuh agar bisa tetap berdiri.
Gue menghirup oksigen, mencoba mengalirkan suara semesta ini ke arteri - arteri tubuh. Gue biarkan isyarat semesta mengendap di aliran darah gue. Gue sekarang seperti terikat pada sebuah perjanjian.

Gue harus menjaga semesta.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

HAPPY WORLD RADIO DAY, OZRADIO JAKARTA!

Hei hei hei!

Selamat datang lagi di dunia pemikiran gue. Berhubung hari ini adalah WORLD RADIO DAY, gue mau nulis beberapa hal tentang “sesosok” radio yang sering banget (banget) jadi tempat persinggahan buat telinga gue selama beberapa tahun di Jakarta Raya ini. Well, welcome to 90.8 FM OZ RADIO JAKARTA.

*drum roll*


Radio yang punya tagline “Your Friendly Station” ini berdiri di sebuah bangunan di Jalan Bangka Raya nomor 5A Kemang Jakarta Selatan. Agak susah diakses pake public transportation sih. Buat kalian yang nggak punya kendaraan pribadi, kalo mau ke sana nggak usah bingung. Turun aja di halte busway Mampang Prapatan atau Duren Tiga, naek bajaj 15ribu perak, bilang mau ke OZRadio (atau kalo abang bajaj/ojeknya nggak tau, bilang aja mau ke McD atau KFC Kemang, nggak jauh kok dari situ). Gedungnya sekarang udah lumayan “keliatan” dibandingkan tiga tahun yang lalu pas gue pertama kali maen ke sana. Radio yang “dipimpin” oleh Kang @addrydanu (presenter !nsert) ini sebenarnya punya sodara – sodara kembar namanya Oz Radio Bandung, Bali, Aceh, Lampung (kayaknya sih masih ada semua). Tapi sayangnya, yang bisa kedeneran dari kamar kos gue ya cuma Oz Radio Jakarta. Katanya sih, dulu frekuensi ini dihuni sama radio dangdut. Hahaha!

Sebenarnya radio ini bukan yang pertama kali gue denger, tapi gue suka sama radio ini gara – gara satu programnya yang dinamai #LOVECINTA (udah gue kasih hastagnya, tinggal di search aja, hehe). Program ini dulu cuma ada di malem minggu jam 9 sampe 12. Jelas, gue suka karena seringnya malem minggu gue cuma dihabisin di kamar kos sama laptop dan kadang tugas – tugas kuliah (dulu, pas gue masih kuliah) jadinya biar nggak sepi (siaran tv pun nggak menarik waktu itu) makanya gue nyalain radio. Puas banget dengerin lagu cinta sambil nyiapin space di otak buat ngerekam love quotesnya. Gue inget banget waktu itu yang siaran si @hithoshi. Sejak itu, gue mulai pasang frekuensi ini tiap hari. Gue makin suka pas gue menang salah satu kuis, gue lupa waktu itu dapet apa tapi gara – gara itu gue bisa maen ke studio Oz (sayangnya makin ke sini kuisnya makin dikit, adain lagi dong!). Akhirnya sampe sekarang, frekuensi ini bener – bener ngisi kuping gue hampir tiap hari, dan di luar kota pun (kalo gue masih punya kuota internet yang kenceng) gue bakal streaming (walaupun lebih seringnya gue kesel dan gue matiin juga gara – gara internetnya lemot).

Studio Oz Jakarta itu sepi di luar tapi rame di ruang siaran. Kecil sih, sempit pula ruangannya. Jadi kalo dateng mending nggak usah rombongan sekelas sih ya, penuh. Apalagi kalo lagi ada penyanyi yang lagi ngehits ngisi acara #LIVENLOUD off air, buset, rasanya makin sempit aja itu studionya. Untungnya nih, untung banget, orang – orang di Oz termasuk ponggawanya ramah, banget malah. Di sinilah gue jadi tau, kalo siaran itu nggak sekedar ngomong atau baca script, tapi harus punya “wawasan” luas. Seperti yang udah gue bahas di postingan sebelumnya, selain ngomong, penyiar juga harusnya nggak pernah stop belajar. Itu tuntutan dan gue salut karena penyiar – penyiar favorit gue (kayaknya) nggak pernah stop meng-improve skill sekaligus wawasan mereka. Profesional! J

Oke, mendingan gue bahas aja ya mereka, beberapa ponggawa yang gue favoritkan dan udah lama banget siaran di radio ini (ini pendapat gue, kalo kalian nggak setuju ya salahkan tetangga sebelah aja, jangan gue.)


1. @hithoshi dan @ajisabha
Kenapa gue nggak pisahin mereka satu – satu? Karena gue emang nggak suka mereka siaran sendiri – sendiri. CATET YA, KALIAN KURANG SERU KALO SIARAN SENDIRI – SENDIRI! Mungkin mereka udah diciptakan berpasangan kali ya, saling melengkapi. Dan kenapa mereka gue letakkan di awal? Because they are my bestfriend! Love you both! J
Pertama kali gue kenal mereka kalo nggak salah sekitar 2010, acaranya namanya #SIJAGUNG (Siaran Jam Nanggung). Jaman itu, mereka masih garing banget candaannya. Lucu sih, tapi aneh. Dan bodohnya lagi, gue masih aja dengerin (Hahaha!). Tahun demi tahun, gue rasa mereka banyak belajar. Jam terbang makin tinggi dan kayaknya mereka juga makin banyak job nge-MC waktu itu (sekalian gue promoin nih yang mau jasa kalian buat MC ya kan) sekaligus sesekali nongol di TV, dua orang ini makin keren siarannya. Gue akhirnya ketemu mereka juga di beberapa acara off air dan sejak itu kami BERTEMAN dan sampe jadi TEMAN BAIK! (Thanks ya Bro! Hahaha!) Sayangnya mereka sempet pisah ranjang, eh maksudnya, pisah jam hampir setahun. Jujur, gue kecewa. Posisi gue bukan sebagai fans mereka sih (mereka bukan artis, catet!), tapi sebagai “pengamat” siaran pagi. Mereka udah cukup menarik waktu itu (walaupun gue nggak tau statistik pendengarnya sih). Dan akhirnya, 2014 ini bro, sist, mereka barengan lagi meskipun jadi siaran sore hari di #SORESANTAI. Gue nggak nyangka mereka udah bener – bener bisa keren gini sekarang! *terharu*  Nggak kalah sih kalo dibandingkan sama penyiar – penyiar radio lain. Ini nih penampakan mereka. (Numpang muka gue juga ya. Sorry kalo bikin mual, pusing, atau muntah)

Pasangan ini enak dikuping, Aji yang susah serius dan Itho yang susah ngelucu tapi ketawanya parah banget, bikin kemasan siaran mereka pas. Balance. Asli, kalo kalian maen ke studio pas mereka siaran, beuh, RAME! Studio dibikin heboh. Mereka bukan komedian, tapi “celetukan” spontan yang nggak ada di script justru bikin kelucuan mereka yang ancur jadi kelihatan berbobot. Jam terbang sih faktornya, mungkin.
Sukses terus buat kalian berdua tapi inget, jangan cerai lagi! Selalu jaga mulut dan jangan lupa sholat ya cong! Hahaha!

2. @ucanucanan
Ehm, penyiar yang satu ini selalu gue inget gara – gara postingan foto – fotonya di instagram yang keren banget! (nggak nyambung sih, tapi silahkan liat sendiri deh. Gue sih udah follow. Hahaha!). Penyiar yang satu ini suaranya khas banget, serak – serak aneh gitu deh dan SERINGNYA pake bahasa bule (kadang gue pengen denger dia siaran full bahasa arab). Dulu dia pernah siaran di #KAMUSOZZERS, juga di #OZDISCOLAND (selera musiknya keren nih si Ucan) dan favorit gue #LOVECINTA. Hobi gue nih, tiap Ucan siaran #LOVECINTA, gue siap – siap ngeRetweet love quotes yang dia tweet (entah itu dia nge-copy dari quotes orang lain, ngetweet yang udah pernah di tweet, hehe, atau quotes yang emang benar – benar fresh, nggak peduli. Yang penting ReTweet!). Minimal, gue catet di otak dan gue pake pas nasehatin temen – temen yang lagi galau, terus mereka bilang: “kok bisa dapet kata – kata gitu sih?”.
Gara – gara sering denger siarannya Ucan, gue jadi suka sama quotes – quotes yang ke-bule-bulean. Mulai sering ngomong dicampur – campur pake bahasa Inggris yang keIndonesiaan (maksudnya, bahasa Inggris gue masih ancur banget tapi kePDan ikut – ikutan). Dan karena banyak yang protes kesalahan bahasa yang gue pakai itu, gue jadi mulai suka belajar bahasa bule itu (lagi). Termotivasi! Dan gara – gara gue ngefollow twitter sama instagramnya, gue juga termotivasi buat JALAN – JALAN dan FOTO – FOTO! Hahaha!
Penyiar itu kadang dinilai dari materi yang “nyelip”, yang mungkin nggak ada dalam script siaran. Dan Ucan emang terbaik dalam urusan ini, terutama di #LOVECINTA. Kalo gue nyebut sih, siarannya pake "logika-yang-berperasaan" banget *tsaaaaah*. Pas banget kalo didengerin semua umur, mulai dari ABG di luar sana yang masih galau sama cinta monyetnya sampe manusia – manusia dewasa ibukota yang ngakunya udah banyak makan asam garam percintaan. Sayangnya, gue belom pernah sekalipun ketemu dia. Penasaran sih.

3. @sarahgadrie
Pinter! Itu kesan pertama gue sama ponggawa yang satu ini. Gue emang belum pernah ketemu Gadrie tapi gue yakin dia pinter. Punya gelarnya drg. loh! Dia punya klinik gigi karena dia berprofesi sebagai dokter gigi. Ponggawa cantik ini siaran di acara #KAMUSOZZERS dan yang terbaru #21FRIENDLYHITS. Motivasi yang gue dapet sih, nggak ada batasan kok buat jadi penyiar. Nggak harus full time penyiar atau kerjaan yang “jalan”nya mepet – mepet ke dunia penyiaran, dokter pun bisa siaran. Iya nggak? Jadi buat kalian adek – adek yang punya passion siaran tapi galau karena mau kuliah di jurusan selain penyiaran, nggak masalah! Gadrie contohnya! J

4. @sarahdeshita
Cantik! Gue pernah ketemu Deshita di salah satu acara off air. Keren banget lah kalo jadi MC. Nggak jauh beda sama Ucan, Deshita sering banget ngomong bahasa bule (yang sering juga gue kutip). Sempat nggak siaran di Oz Jakarta, tapi beberapa bulan lalu mulai siaran lagi *yeay*. Pertama kali gue denger Deshita siaran itu bawain #LOVECINTA versi lama (yang cuma seminggu sekali doang) dan ada satu quote yang gue inget – inget sampai sekarang. Bener – bener gue dibikin nangis sama quotesnya Deshita waktu itu (yaelah Ndah. Hahaha!).

5. @missciccone
Nah! Ponggawa ini gue inget karena gaya ngomongnya yang blak – blakan! Sempat ketemu di studio Oz dan emang orangnya apa adanya (bukan ada apanya). Bergelut di program gosip #CELACELI dengan “pembicaraan” yang pedes tapi bermutu (bukan cabe ya)! Gue suka cara bawain gosip yang beginian, menarik, fresh, lucu dan “agak nusuk” kata – katanya. Jadi enak didenger dan masuk di kepala. Hahaha! Kayaknya penyiar ini yang paling sering gue retweet deh tweet – tweetnya, sering “sependapat” sih. Kadang nyinyirin orang tapi kalo udah keluar kata – kata bijaknya, beuh, keren!


Selain mereka di atas sih sebenernya masih banyak lagi ponggawa yang gue kenal baik. Tanpa mengurangi rasa kagum sama mereka semua, gue cuma ngebatasin sekedar beberapa yang emang udah gue kenal sejak lama. Kebanyakan boooo! (ini aja udah bikin muntah paku abis baca tulisan gue yang gue-juga-nggak-tau-dimana-manfaatnya). Dan selain ponggawa – ponggawa yang suaranya menghiasi langit Jakarta tiap hari, di balik layar radio *duh bahasanya* juga ada orang – orang hebat loh. Misalnya aja para produser, operator, music director dan masih banyak lagi yang jago bikin kemasan materi jaadi menyenangkan pas didenger. Mereka juga keren! *angkat topi*

Di Oz Jakarta juga banyak selebritis yang jadi ponggawa loh, misalnya @ninokayam @Rayi_Putra (RAN), @inunumata (NUMATA) sama @bayu_sv (SOULVIBE). Jadi, yang ngefans dan pengen ketemu mereka kayaknya bisa deh bikin janji di Oz pas mereka siaran. J


Well, that’s all. Ini bukan blog berbayar, bukan promosi dan bukan sedang mengikuti kometisi menulis *tsaaah*. Bahkan pembaca blog ini juga belum banyak (“belum”, bukan berarti “enggak”). Ini cuma sekedar apresiasi gue sama radio ini sebagai frekuensi yang paling sering gue dengerin selama lebih dari 4 tahun di Jakarta, karena nggak lama lagi gue hengkang dari Ibukota tercinta ini *sedih*.

I just wanna make it immortal, karena ingatan manusia itu gampang kehapus. J

PERHATIAN! Tulisan ini subjektif, radio ini belum tentu bagus menurut kalian, tapi tulisan ini dibuat berdasarkan pemikiran gue yang absurd dan koneksi internet yang super lambat. Kalo ada salah kata, salah paham, atau mungkin salah urat (?) ya mohon dimaklumi, dimaafkan dan di follow ya blognya. Hahaha!



Thanks for reading. See you! J

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS