Oleh : INDAH "chy". Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Cerita dari Tana Tidung (2)

Hai.
Ketemu lagi di blog gue. Masih dengan judul yang sama.
Tepat sebulan gue menginjakkan kaki di bumi Borneo ini. Sebuah ukuran waktu yang cukup singkat untuk mendeskripsikan segala hal di sini, tapi lagi - lagi (yang selalu gue lakukan setiap kali gue nulis)  I just wanna make it immortal. Cuma itu tujuannya. Karena memori manusia terlalu percuma jika dipenuhi hal - hal yang bisa diingat oleh blog, google, instagram, tumblr atau sebagainya. :)

Kali ini, gue udah mulai mengenal beberapa daerah di KTT (Kabupaten Tana Tidung, begitu orang sini menyebutnya). Gue udah mulai menjelajahi kecamatan Sesayap. FYI, Tana Tidung sekarang terdiri dari 5 kecamatan dan "ibukota kabupaten"nya ya kecamatan Sesayap ini. Dan kebetulan, kantor plus kos-kosan gue ada di daerah ini. *beruntungnya*

Kecamatan Sesayap masih tergolong ramai, meskipun kalau sudah masuk ke desa - desa pelosok, mulai sepi juga. Kecamatan ini meskipun kecil tapi sudah mencukupi sarana dan prasarana umumnya. Ada rumah sakit (yang dulunya puskesmas) di jalanan atas bukit, ada sekolah - sekolah, ada pasar (yang lebih seringnya sepi dan harga barang - barangnya cukup tinggi), ada juga bank (BRI sama BNI doang sejauh ini), pertokoan dan warung - warung.
Efek dari penjelajahan tiap dinas luar atau tiap pulang kerja, gue jadi mengenal beberapa warga di lingkungan sekitar gue, mulai dari ibu - ibu muda jutek pemilik toko kelontong yang menjual barang - barang yang tergolong lengkap, sampai ibu - ibu tua penjual sanggar yang ramaaaaaaaaaah banget (soalnya ternyata ibu itu asal daerahnya nggak jauh dari kampung gue, jadi gue juga sering dikasih bonus).
Oiya, taukah kalian apa itu sanggar?
Bukan sanggar tari atau semacam tempat kursus. Kata orang sini, sanggar itu pisang goreng yang...emm..apa ya, dimakan dengan sebuah bumbu yang absurd rasanya. Kalau buat lidah gue, bumbu itu semacam bumbu siomay yang kacangnya nggak kebanyakan. *halah* Gue pribadi baru makan makanan ini ya di sini. :)
Bergaul dengan masyarakat sekitar membuat gue merasa "mendingan". Nggak ada hiburan yang bisa diharapkan dari kabupaten ini, makanya sebisa mungkin gue "cari" hiburan. Salah satu tempat yang rame di malam minggu di kota ini adalah (mungkin satu - satunya) tempat bilyard di jalan Jendral Sudirman (jalanan utama, dekat pelabuhan). Eits, tapi gue nggak ke tempat itu dong, gue cuma lewat, menuju ke tempat - tempat penjual makanan di sepanjang jalan.
Sejauh ini gue udah mengenal beberapa penjual makanan: mas - mas penjual es kelapa muda, ibu - ibu penjual sanggar dan gorengan lainnya, abang bakso dan mie ayam, dan ibu - ibu penjual es oyen. Heran ya, gimana es oyen bisa nyampe ke sini? Itulah hebatnya kaum migran. Para penjual makanan ini ngebantu gue banget kalo pas gue lagi suntuk. Gue cukup dateng ke mereka, beli, sambil memancing mereka buat cerita. Simpel, gue kenyang, nggak haus, dan gue dapet cerita tentang daerah ini. Tapi lebih seringnya, mereka yang keburu curhat. Entah tentang harga yang makin naek, tentang warung yang sepi, ataupun tentang kerinduan mereka akan keluarga di pulau seberang. Mendengar penuturan mereka, gue jadi ngerasa nyaman. Setidaknya, gue nggak sendirian. Dan jangan salah, orang sini umumnya ramah kok sama orang baru (asalkan si oran barunya nggak songong dan sombong yaaa).
Harga - harga yang selangit sebenarnya bisa diatasi, salah satunya dengan memasak di dapur masing - masing. Gue belajar itu dari orang - orang yang sekos sama gue di sini. Jadi, untuk mengantisipasi harga makanan di warung yang tinggi, mending masak lauk dan nasi sendiri di rumah soalnya harga beras di sini masih tidak jauh dari kota - kota di Jawa. Tapi ya, namanya juga gue, masak sendiri pun tetep aja jajan di jalanan dengan alasan menambah keakraban. Haha!

Selain bergaul di masyarakat, gue mulai coba jalan - jalan di perbukitan sekitar Sesayap. Kalau cuaca mendukung (soalnya seringnya di sini panasnya banget banget banget, jadi bikin mager di dalam rumah atau kantor), gue biasa jalan - jalan pake motor. Oksigen di sini bener - bener gratis dan diobral! Sepanjang jalan yang naek turun, lo bakal melintasi bukit - bukit yang masih hijau tapi sebagian udah agak gundul karena penebangan. lu nggak perlu takut masuk jurang karena umunya jalan di sini kayak punya dinding alami dari bukit, jadi kalaupun elu nggak terbiasa naek motor di daerah gunung, daerah sini masih tergolong aman. Lagipula, nggak banyak kendaraan yang melintas di jalanan bukit - bukit ini. Jalanannya pun sebagian sudah aspal. Tapi jangan coba - coba melintas di sini malam hari sendirian. Fasilitas lampu jalan masih belum ada. Agak serem, kan? :)
Selain itu, kalo gue lagi males bawa motor, gue prefer jalan kaki ke pelabuhan. Jaraknya emang deket banget sama kos gue. Biasanya gue jalan kalo pas pulang kerja, pas sore dan pas sunset. Nggak bagus - bagus amat sih, tapi not bad lah ya. Ini nih gambarnya, diambil pas lagi mendung. Hehe.



Kenyamanan dan kebahagiaan itu bisa diciptakan, kok.
Enjoy your life and see you on the next post. :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sebuah cerita dari Tana Tidung (1)

Sampai sudah keinginan gue buat nulis di blog kesayangan setelah hampir seminggu menyiapkan mental untuk sekedar nulis.
Adakah dari kalian yang mencari artikel atau sekedar tulisan ringan tentang salah satu kabupaten di Kalimantan Utara ini?
Gue harap, kalau benar kalian mencari, kalian bisa menemukan hal yang lebih dari yang pernah gue temukan. Hahaha.
Tidak banyak yang memberikan pubilkasi tentang wilayah ini. Karena ya mungkin orang jarang tertarik ke sini kalo nggak "terpaksa" kayak gue. Ya, gue penempatan kerja di kabupaten ini.
Sebagai orang rantau, pertama kali gue shock banget ngeliat keadaan kabupaten ini. Bisakah gue sebut ini sebagai "just a big village"? Bukan kayak kabupaten, apalagi kota.
Perjalanan gue dimulai dari bandara Juwata Tarakan, lanjut ke pelabuhan. Ya, gue naik kapal motor yang kalo nggak salah namanya KM Mutiara. Dengan susah payah karena bawaan banyak, sampai juga gue duduk di kapal motor yang panasnya ampun deh itu. Sebuah pengalaman gue dapat di sana. Keramahan orang - orang. Gue kebetulan duduk di depan mas - mas dan di sebelah mbak - mbak yang tau tempat kerja gue. Mulailah mereka berkisah. Sepi. Selalu itu yang mereka katakan untuk pertama kali. Yang kedua, mahal. Ya, waktu itu mereka bilang harga di sini amat sangat mahal. Seiring dengan melajunya KM Mutiara, gue merenung sambil pandangin air laut yang kemudian ganti menjadi air sungai yang coklat, tentunya dengan pandangan nanar. Kemana gue setelah ini sebenernya?


Pemandangan sore itu tidak cukup menarik. Hanya air. Dan hamparan hijau, entah pohon apa saja itu yang diselingi dengan tumbuhan mangrove. Banyak asumsi yang berkelana di pikiran gue. Sesekali gue ngeliat orang - orang di kapal, banyak yang udah nunduk tidur. Dan sepertinya gue juga mengalami hal yang sama beberapa saat kemudian. Gue ketiduran, sampe kebangun di salah satu pelabuhan kecil. Udah dua jam gue ngambang di sungai. Belom sampai juga. Itu bukan pelabuhan kecamatan gue. Dermaganya kecil, seadanya. Gue mikir, apa dermaga gue ntar juga gitu?
Lanjut perjalanan 45 menit lagi, gue sampai di dermaga tujuan. Ternyata agak gede, meskipun yaaa, tetep seadanya. Buat yang belom pernah naek kapal motor, mungkin agak bingung gimana cara keluar dari kapal motor yang gue naikin ini. Hahahaha.
Sampai di situ gue dijemput bos. Ternyata kantor gue nggak jauh dari pelabuhan.
Jangan ditanya gimana kesan gue pertama kali. PASTI, shock. Sepi. Ya, bener. Emang sepi banget, bahkan di pelabuhan. Sebelum gue hilang kesadaran *apasih Ndah* si bos buru - buru ngajakin gue ke rumah salah satu rekan kerja buat nginep malam ini, berhubung gue nggak bisa nginep di kantor.
Sepanjang perjalanan ke rumah rekan gue itu, gue tertegun. Hampir semua bangunan terbuat dari kayu. Ya, wooden wall. Termasuk kantor gue. Entahlah, yang satu ini di luar bayangan gue sebelumnya. Hampir semua referensi yang gue dapet di google nggak menyebutkan hal ini. Tapi memang sih, kayu - kayu di sini amat sangat bagus kalo dijadiin rumah. Nggak keliatan seperti rumah yang dari kayu, udah banyak yang modern desainnya. Tapi ya, masih ada yang modelnya kayak rumah jadul gitu sih. Bukan itu masalahnya, gue sedang mempertanyakan, kenapa di Jawa nggak bisa kayak gini juga? Hutan yang minim? Bukankah Indonesia itu kaya? Ah sudahlah.
Okelah, gue nyerah. Gue udah mulai hopeless. Si bos lebih bikin gue galau lagi. Dia membenarkan kalo harga di sini selangit. Semangka bisa 20 ribu lebih sebutir. Dan gue ngebuktiin, makan nasi pake ayam goreng di warung pecel lele harganya 30 ribu rupiah! *kalo dibandingkan sama makan di mall di Jakarta, cita rasanya beda tapi harganya sama* #AkuRapopo



Satu lagi, tanpa persetujuan dari siapapun, gue memproklamirkan daerah ini memang sepi. Yak, sepi. Apalagi kalo udah mulai malem. Malam pertama gue nginep di tempat ini, astaga, di bawah bukit yang, ah sudahlah. Jangan dibayangkan kayak di puncak Bogor yang sejuk dan nyaman. Di sini benar - benar perbukitan yang seperti menyangga rumah - rumah penduduk yang terbuat dari kayu. Kalo siang panas banget, kalo malem dingin banget. Dan selama hampir seminggu gue stay di sini, cuma semalem yang nggak hujan. Hahaha. Untungnya, gue ternyata nggak tinggal di deket bukit itu. Gue dapet kos - kosan sederhana deket kantor.

Awalnya gue merenung, kenapa gue harus di sini.
Tapi semesta menjawab: iya, lu harus di sini.

Suatu pagi yang gerimis, gue berangkat ngantor.
OH MY GOSH, ini bener - bener aroma yang gue cari!
Hujan, tanah basah, rumput, ah KEREN!
No pollution! Sama sekali! Bau rumput dan pohonnya masih alami, banget! Beda sama atmosphere pulau Jawa, pun itu di pegunungannya. Entah aroma apa ini, tapi ada yang berbeda.
Dan begitu sore harinya gue bisa menyaksikan senja yang indah dari atas bukit. Sayang, kamera gue nggak begitu bagus nangkep remang - remangnya. Nggak perlu jauh - jauh "mendaki" juga karena di sini kan emang perbukitan, hahahaha. Gue nggak nyangka tempat ini ada bagus - bagusnya juga. Mungkin karena gue suka senja. Dan aroma seperti ini. Seperti Jawa, di tahun 90-an, mungkin. :))

Dari kabar yang gue dapet dari rekan  kantor sih, masih ada yang lebih menakjubkan di sini. Di bukit - bukit lain. Someday, gue bakal kisahkan lagi.
Sebagai orang kota yang haus aroma alam, gue rasa semesta emang manggil gue buat ke sini sejenak, beberapa saat, buat sekedar detoks dari polusi - polusi or just to refresh my mind.

Meskipun keadaan yang masih "alami" banget, tapi ternyata tempat ini nggak se"desa" yang gue pikirkan. Listrik udah nyala 24 jam, air ngalir lancar dan bisa juga ditambah dengan air tadah hujan yang "disaring" sama tangki yang disebut masyarakat dengan sebutan "profil". Dan yang paling menyenangkan, sinyal handphone masih bisa nangkep HSDPA/3G! Nggak cuma ngeblog, streaming pun lancar all day di sini. Makanan juga tersedia 24 jam, asal punya kocek lebih sih nggak masalah. Penginapan dan kos - kosan juga banyak tersedia, ya, meskipun kayak yang gue bilang tadi, kebanyakan masih berdinding dan berlantai kayu sederhana. Cuma satu yang kurang, nggak ada angkutan umum di sini. Begitulah, mau nggak mau lu harus bisa drive sendiri, entah motor atau mobil. Lebih seru lagi kalo lu suka off-road. Masih banyak jalanan yang "cocok" buat lu. Hahahaha!

Terkadang, manusia mengeluh pada apa yang tidak sesuai dengan keinginannya. Tapi manusia lama - kelamaan juga akan sadar, Tuhan sayang padanya. Apapun yang ternyata digariskan Tuhan, pasti ada maksud tersembunyi di dalamnya. Dan Tuhan tidak pernah bermaksud buruk. Tidak pernah.

Kesimpulannya, gue masih beruntung.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Surat dari Semesta

Ini bukan tentang kehidupan percintaan, bukan pula tentang kehidupan pribadi gue. Ini tentang hubungan gue dan semesta.
Kenyataan mengharuskan gue untuk move on ke tempat ini. Sebuah desa yang dipaksa mekar menjadi sebuah kabupaten baru di Borneo. Bukan hal penting kenapa gue bisa terdampar di sini, tapi yang jelas, ini bukan kemauan gue. Ini kemauan Tuhan.
Berangkat dari keengganan, akhirnya gue menginjakkan kaki di sini. Setelah mengapung di udara dan air sungai, gue sampai di pelabuhan sebuah negeri kecil. Kenapa gue sebut ini sebagai negeri? Karena inilah Indonesia, yang dulu pernah gue kenal sewaktu gue masih pakai pakaian merah putih dan bawa botol minum kemana - mana. Ya, kabupaten ini begitu mengerikan untuk pendatang, apalagi yang terbiasa hidup di Jakarta seperti gue. Tapi gue berusaha tetap melangkahkan kaki, menyusuri jalan raya yang menurut gue lebih mirip jalanan tanah desa - desa di Jawa.
Gue melempar pandangan. Waktu itu senja. Gue sangat suka senja. Keindahan sesaat yang dinanti banyak orang, sementara waktu datangnya tidak menentu. Tapi kali itu gue tidak mendapatkan senja, mendung. Alam seperti berkata, gue mencoba menerjemahkan tapi gagal. Lebih jauh gue menyusuri jalan, gue lihat hutan - hutan yang tak lagi perawan. Pohon ditebang dengan tidak manusiawi, tanah dibiarkan kosong tanpa ada yang tumbuh di atasnya. Tanahnya yang merah terlihat jelas tanpa akar dan batang pohon, mungkin seperti tanah neraka. Kering. Jalan yang gue tapaki makin menanjak naik. Daerah ini memang perbukitan yang cukup terjal. Gerimis mulai menyapa gue ketika gue mencapai puncak salah satu bukit.
God.....
Inikah pertanda kenapa gue harus di sini?
Hamparan mendung yang terlihat seperti payung langit yang berstrata, hutan - hutan hijau yang mulai basah, ditambah pemandangan sungai lebar yang berkelok - kelok. Gue merinding. Gue bakal tinggal di tempat ini. Dan gue mulai merasakan semesta memberikan isyarat di kulit gue. Isyarat untuk menjaga mereka yang tinggal beberapa ini. Isyarat untuk tetap ada di sini, bersedia membuat semesta yang sudah hampir jatuh agar bisa tetap berdiri.
Gue menghirup oksigen, mencoba mengalirkan suara semesta ini ke arteri - arteri tubuh. Gue biarkan isyarat semesta mengendap di aliran darah gue. Gue sekarang seperti terikat pada sebuah perjanjian.

Gue harus menjaga semesta.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

HAPPY WORLD RADIO DAY, OZRADIO JAKARTA!

Hei hei hei!

Selamat datang lagi di dunia pemikiran gue. Berhubung hari ini adalah WORLD RADIO DAY, gue mau nulis beberapa hal tentang “sesosok” radio yang sering banget (banget) jadi tempat persinggahan buat telinga gue selama beberapa tahun di Jakarta Raya ini. Well, welcome to 90.8 FM OZ RADIO JAKARTA.

*drum roll*


Radio yang punya tagline “Your Friendly Station” ini berdiri di sebuah bangunan di Jalan Bangka Raya nomor 5A Kemang Jakarta Selatan. Agak susah diakses pake public transportation sih. Buat kalian yang nggak punya kendaraan pribadi, kalo mau ke sana nggak usah bingung. Turun aja di halte busway Mampang Prapatan atau Duren Tiga, naek bajaj 15ribu perak, bilang mau ke OZRadio (atau kalo abang bajaj/ojeknya nggak tau, bilang aja mau ke McD atau KFC Kemang, nggak jauh kok dari situ). Gedungnya sekarang udah lumayan “keliatan” dibandingkan tiga tahun yang lalu pas gue pertama kali maen ke sana. Radio yang “dipimpin” oleh Kang @addrydanu (presenter !nsert) ini sebenarnya punya sodara – sodara kembar namanya Oz Radio Bandung, Bali, Aceh, Lampung (kayaknya sih masih ada semua). Tapi sayangnya, yang bisa kedeneran dari kamar kos gue ya cuma Oz Radio Jakarta. Katanya sih, dulu frekuensi ini dihuni sama radio dangdut. Hahaha!

Sebenarnya radio ini bukan yang pertama kali gue denger, tapi gue suka sama radio ini gara – gara satu programnya yang dinamai #LOVECINTA (udah gue kasih hastagnya, tinggal di search aja, hehe). Program ini dulu cuma ada di malem minggu jam 9 sampe 12. Jelas, gue suka karena seringnya malem minggu gue cuma dihabisin di kamar kos sama laptop dan kadang tugas – tugas kuliah (dulu, pas gue masih kuliah) jadinya biar nggak sepi (siaran tv pun nggak menarik waktu itu) makanya gue nyalain radio. Puas banget dengerin lagu cinta sambil nyiapin space di otak buat ngerekam love quotesnya. Gue inget banget waktu itu yang siaran si @hithoshi. Sejak itu, gue mulai pasang frekuensi ini tiap hari. Gue makin suka pas gue menang salah satu kuis, gue lupa waktu itu dapet apa tapi gara – gara itu gue bisa maen ke studio Oz (sayangnya makin ke sini kuisnya makin dikit, adain lagi dong!). Akhirnya sampe sekarang, frekuensi ini bener – bener ngisi kuping gue hampir tiap hari, dan di luar kota pun (kalo gue masih punya kuota internet yang kenceng) gue bakal streaming (walaupun lebih seringnya gue kesel dan gue matiin juga gara – gara internetnya lemot).

Studio Oz Jakarta itu sepi di luar tapi rame di ruang siaran. Kecil sih, sempit pula ruangannya. Jadi kalo dateng mending nggak usah rombongan sekelas sih ya, penuh. Apalagi kalo lagi ada penyanyi yang lagi ngehits ngisi acara #LIVENLOUD off air, buset, rasanya makin sempit aja itu studionya. Untungnya nih, untung banget, orang – orang di Oz termasuk ponggawanya ramah, banget malah. Di sinilah gue jadi tau, kalo siaran itu nggak sekedar ngomong atau baca script, tapi harus punya “wawasan” luas. Seperti yang udah gue bahas di postingan sebelumnya, selain ngomong, penyiar juga harusnya nggak pernah stop belajar. Itu tuntutan dan gue salut karena penyiar – penyiar favorit gue (kayaknya) nggak pernah stop meng-improve skill sekaligus wawasan mereka. Profesional! J

Oke, mendingan gue bahas aja ya mereka, beberapa ponggawa yang gue favoritkan dan udah lama banget siaran di radio ini (ini pendapat gue, kalo kalian nggak setuju ya salahkan tetangga sebelah aja, jangan gue.)


1. @hithoshi dan @ajisabha
Kenapa gue nggak pisahin mereka satu – satu? Karena gue emang nggak suka mereka siaran sendiri – sendiri. CATET YA, KALIAN KURANG SERU KALO SIARAN SENDIRI – SENDIRI! Mungkin mereka udah diciptakan berpasangan kali ya, saling melengkapi. Dan kenapa mereka gue letakkan di awal? Because they are my bestfriend! Love you both! J
Pertama kali gue kenal mereka kalo nggak salah sekitar 2010, acaranya namanya #SIJAGUNG (Siaran Jam Nanggung). Jaman itu, mereka masih garing banget candaannya. Lucu sih, tapi aneh. Dan bodohnya lagi, gue masih aja dengerin (Hahaha!). Tahun demi tahun, gue rasa mereka banyak belajar. Jam terbang makin tinggi dan kayaknya mereka juga makin banyak job nge-MC waktu itu (sekalian gue promoin nih yang mau jasa kalian buat MC ya kan) sekaligus sesekali nongol di TV, dua orang ini makin keren siarannya. Gue akhirnya ketemu mereka juga di beberapa acara off air dan sejak itu kami BERTEMAN dan sampe jadi TEMAN BAIK! (Thanks ya Bro! Hahaha!) Sayangnya mereka sempet pisah ranjang, eh maksudnya, pisah jam hampir setahun. Jujur, gue kecewa. Posisi gue bukan sebagai fans mereka sih (mereka bukan artis, catet!), tapi sebagai “pengamat” siaran pagi. Mereka udah cukup menarik waktu itu (walaupun gue nggak tau statistik pendengarnya sih). Dan akhirnya, 2014 ini bro, sist, mereka barengan lagi meskipun jadi siaran sore hari di #SORESANTAI. Gue nggak nyangka mereka udah bener – bener bisa keren gini sekarang! *terharu*  Nggak kalah sih kalo dibandingkan sama penyiar – penyiar radio lain. Ini nih penampakan mereka. (Numpang muka gue juga ya. Sorry kalo bikin mual, pusing, atau muntah)

Pasangan ini enak dikuping, Aji yang susah serius dan Itho yang susah ngelucu tapi ketawanya parah banget, bikin kemasan siaran mereka pas. Balance. Asli, kalo kalian maen ke studio pas mereka siaran, beuh, RAME! Studio dibikin heboh. Mereka bukan komedian, tapi “celetukan” spontan yang nggak ada di script justru bikin kelucuan mereka yang ancur jadi kelihatan berbobot. Jam terbang sih faktornya, mungkin.
Sukses terus buat kalian berdua tapi inget, jangan cerai lagi! Selalu jaga mulut dan jangan lupa sholat ya cong! Hahaha!

2. @ucanucanan
Ehm, penyiar yang satu ini selalu gue inget gara – gara postingan foto – fotonya di instagram yang keren banget! (nggak nyambung sih, tapi silahkan liat sendiri deh. Gue sih udah follow. Hahaha!). Penyiar yang satu ini suaranya khas banget, serak – serak aneh gitu deh dan SERINGNYA pake bahasa bule (kadang gue pengen denger dia siaran full bahasa arab). Dulu dia pernah siaran di #KAMUSOZZERS, juga di #OZDISCOLAND (selera musiknya keren nih si Ucan) dan favorit gue #LOVECINTA. Hobi gue nih, tiap Ucan siaran #LOVECINTA, gue siap – siap ngeRetweet love quotes yang dia tweet (entah itu dia nge-copy dari quotes orang lain, ngetweet yang udah pernah di tweet, hehe, atau quotes yang emang benar – benar fresh, nggak peduli. Yang penting ReTweet!). Minimal, gue catet di otak dan gue pake pas nasehatin temen – temen yang lagi galau, terus mereka bilang: “kok bisa dapet kata – kata gitu sih?”.
Gara – gara sering denger siarannya Ucan, gue jadi suka sama quotes – quotes yang ke-bule-bulean. Mulai sering ngomong dicampur – campur pake bahasa Inggris yang keIndonesiaan (maksudnya, bahasa Inggris gue masih ancur banget tapi kePDan ikut – ikutan). Dan karena banyak yang protes kesalahan bahasa yang gue pakai itu, gue jadi mulai suka belajar bahasa bule itu (lagi). Termotivasi! Dan gara – gara gue ngefollow twitter sama instagramnya, gue juga termotivasi buat JALAN – JALAN dan FOTO – FOTO! Hahaha!
Penyiar itu kadang dinilai dari materi yang “nyelip”, yang mungkin nggak ada dalam script siaran. Dan Ucan emang terbaik dalam urusan ini, terutama di #LOVECINTA. Kalo gue nyebut sih, siarannya pake "logika-yang-berperasaan" banget *tsaaaaah*. Pas banget kalo didengerin semua umur, mulai dari ABG di luar sana yang masih galau sama cinta monyetnya sampe manusia – manusia dewasa ibukota yang ngakunya udah banyak makan asam garam percintaan. Sayangnya, gue belom pernah sekalipun ketemu dia. Penasaran sih.

3. @sarahgadrie
Pinter! Itu kesan pertama gue sama ponggawa yang satu ini. Gue emang belum pernah ketemu Gadrie tapi gue yakin dia pinter. Punya gelarnya drg. loh! Dia punya klinik gigi karena dia berprofesi sebagai dokter gigi. Ponggawa cantik ini siaran di acara #KAMUSOZZERS dan yang terbaru #21FRIENDLYHITS. Motivasi yang gue dapet sih, nggak ada batasan kok buat jadi penyiar. Nggak harus full time penyiar atau kerjaan yang “jalan”nya mepet – mepet ke dunia penyiaran, dokter pun bisa siaran. Iya nggak? Jadi buat kalian adek – adek yang punya passion siaran tapi galau karena mau kuliah di jurusan selain penyiaran, nggak masalah! Gadrie contohnya! J

4. @sarahdeshita
Cantik! Gue pernah ketemu Deshita di salah satu acara off air. Keren banget lah kalo jadi MC. Nggak jauh beda sama Ucan, Deshita sering banget ngomong bahasa bule (yang sering juga gue kutip). Sempat nggak siaran di Oz Jakarta, tapi beberapa bulan lalu mulai siaran lagi *yeay*. Pertama kali gue denger Deshita siaran itu bawain #LOVECINTA versi lama (yang cuma seminggu sekali doang) dan ada satu quote yang gue inget – inget sampai sekarang. Bener – bener gue dibikin nangis sama quotesnya Deshita waktu itu (yaelah Ndah. Hahaha!).

5. @missciccone
Nah! Ponggawa ini gue inget karena gaya ngomongnya yang blak – blakan! Sempat ketemu di studio Oz dan emang orangnya apa adanya (bukan ada apanya). Bergelut di program gosip #CELACELI dengan “pembicaraan” yang pedes tapi bermutu (bukan cabe ya)! Gue suka cara bawain gosip yang beginian, menarik, fresh, lucu dan “agak nusuk” kata – katanya. Jadi enak didenger dan masuk di kepala. Hahaha! Kayaknya penyiar ini yang paling sering gue retweet deh tweet – tweetnya, sering “sependapat” sih. Kadang nyinyirin orang tapi kalo udah keluar kata – kata bijaknya, beuh, keren!


Selain mereka di atas sih sebenernya masih banyak lagi ponggawa yang gue kenal baik. Tanpa mengurangi rasa kagum sama mereka semua, gue cuma ngebatasin sekedar beberapa yang emang udah gue kenal sejak lama. Kebanyakan boooo! (ini aja udah bikin muntah paku abis baca tulisan gue yang gue-juga-nggak-tau-dimana-manfaatnya). Dan selain ponggawa – ponggawa yang suaranya menghiasi langit Jakarta tiap hari, di balik layar radio *duh bahasanya* juga ada orang – orang hebat loh. Misalnya aja para produser, operator, music director dan masih banyak lagi yang jago bikin kemasan materi jaadi menyenangkan pas didenger. Mereka juga keren! *angkat topi*

Di Oz Jakarta juga banyak selebritis yang jadi ponggawa loh, misalnya @ninokayam @Rayi_Putra (RAN), @inunumata (NUMATA) sama @bayu_sv (SOULVIBE). Jadi, yang ngefans dan pengen ketemu mereka kayaknya bisa deh bikin janji di Oz pas mereka siaran. J


Well, that’s all. Ini bukan blog berbayar, bukan promosi dan bukan sedang mengikuti kometisi menulis *tsaaah*. Bahkan pembaca blog ini juga belum banyak (“belum”, bukan berarti “enggak”). Ini cuma sekedar apresiasi gue sama radio ini sebagai frekuensi yang paling sering gue dengerin selama lebih dari 4 tahun di Jakarta, karena nggak lama lagi gue hengkang dari Ibukota tercinta ini *sedih*.

I just wanna make it immortal, karena ingatan manusia itu gampang kehapus. J

PERHATIAN! Tulisan ini subjektif, radio ini belum tentu bagus menurut kalian, tapi tulisan ini dibuat berdasarkan pemikiran gue yang absurd dan koneksi internet yang super lambat. Kalo ada salah kata, salah paham, atau mungkin salah urat (?) ya mohon dimaklumi, dimaafkan dan di follow ya blognya. Hahaha!



Thanks for reading. See you! J

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

HAPPY WORLD RADIO DAY!

Hello World!

Selamat datang lagi di dunia pemikiran gue. Gue mau ngucapin dulu HAPPY WORLD RADIO DAY buat semua penyiar keren se-Indonesia Raya. Dan untuk kesekian kalinya gue berterima kasih sama penyiar – penyiar yang udah nemenin telinga manusia – manusia Jakarta tiap harinya, thanks a lot!

Gue sama sekali nggak terobsesi jadi penyiar, sama sekali. Gue bukan orang yang suka banyak omong. Gue lebih suka dengerin aja penyiar – penyiar radio cuap – cuap, tapi seringnya malah ketawa sampe sakit perut atau nangis sampe susah melek. Bener deh. Dan sejak gue di jakarta, gue jadi lebih tahu tentang seluk beluk dunia radio. Ya, berkat nekat main – main ke studionya sih. Overall sih mereka ramah kok sama pendengarnya, terlalu ramah malah. Rame, sama kayak kalo pas siaran. Heboh. Keren lah. Dan mereka adalah entertainer sejati, pekerja seni yang handal. Profesional, cerdas dan berwawasan luas. Indonesia emang udah nggak berada di jaman perang dimana radio sangat memegang peranan penting buat mewujudkan kemerdekaan, tapi menurut gue, meskipun hanya sebatas audio, radio nggak pernah kalah dari media televisi bahkan media internet sekalipun.

Ini nih penyiar – penyiar yang menurut gue kece sekaligue radio tempat mereka sekarang bernaung (ini subjektif, yang sering gue dengerin aja sih).
@ozradiojakarta (almost all! Love you!), @mustang88fm (Tara Rosevana, Narendrapawaka, Molan, Surya, Erlan, Ibel, Adjidaravania), @Prambors (Nycta Gina), @TraxFMJKT (Aldy, Derry, Radhini), @MOTION97.5FM (Hilbram, Miund), @101Jakfm (Ronald, Tike)

Kalian semua keren! Terus berkarya dan terus menjadi inspirasi buat pemuda – pemudi Indonesia!

See you J



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

RADIO

Kali ini postingan gue bukan tentang jalan - jalan atau shopping. Sedikit lebih serius dan agak berat. Masih membahas tentang pengalaman - pengalaman gue, salah satunya tentang RADIO. Tulisan ini nggak penting dibaca, nggak penting juga sebenernya dibahas. Gue cuma nggak mau kehilangan salah satu part penting dalam perjalanan gue di ibukota.

Oke, kita mulai. Gue ngaku kalo gue adalah seorang radioholic. Bukan cuma pas di Jakarta, sejak gue SD, gue udah bawa - bawa radio AM kepunyaan Mbah Putri kemana - mana. Radio yang gue punya pertama kali itu kotak item, ada puterannya dua, volume dan tunning (yang sekaligus sebagai on-off). Plus antena yang bisa dipanjang-pendekin, diputer - puter sampe ketemu frekuensi yang jelas, atau dipake buat korek kuping. Kira - kira bentukannya kayak gini nih, tapi punya gue warna hitam, merknya m*spion:


Radio ini pake batere gede - gede dua biji, yang seringnya kalo udah habis dan nyokap gak ngasih duit buat beli, gue jemur tuh batere, terus gue pake lagi. (It doesn't work well, trust me!)
Berhubung radio itu gampang dibawa - bawa, gue kemana aja bawa radio itu, kecuali ke sekolah. Maen, makan, bahkan mandi pun gue bawa radio itu asal nggak ketahuan nyokap.
Program radio jaman tahun 90-an sebenarnya nggak jauh - jauh dari berita tentang politik dan keadaan wilayah - wilayah di Indonesia. Salah satu favorit gue adalah ramalan cuaca. Berhubung gue orangnya males becek - becekan, kalau ada ramalan mau hujan, udah deh seharian gue nggak bakalan keluar rumah (walaupun seringnya ramalan itu nggak bener).
Nah, seiring perkembangannya, radio mulai memasukkan unsur "musik kekinian" ke dalam program - programnya. di sinilah gue mulai kecanduan. Gue udah lupa, apa nama acara musik yang pertama kali gue denger dan di radio apa, tapi kalo nggak salah pas jamannya Keluarga Cemara masih tayang di RCTI. Musik - musik jadul sekelas Scorpions, Queen, atau kalo dari Indo ya lagu - lagunya Nike Ardila (almarhumah) itu yang sering diputer di radio (sekarang kalian tahu kan, gue kira - kira masuk angkatan tahun berapa). Oh iya, satu lagi, gue seneng banget dengerin program - program mistis di salah satu radio, gue lupa namanya. Horor - horor gitu deh, suka cerita - cerita serem di siang bolong. Keren, menurut gue, dulu.
Tapi anehnya, gue bukan termasuk orang yang suka ngomong walaupun hampir tiap hari gue dengerin orang cuap - cuap. gue juga sama sekali nggak terobsesi jadi penyiar radio. Just listen, and be a good listener. Hehehe.
Setelah gue kenal Jakarta, gue mencoba mengeksplore lebih jauh tentang radio - radio di kota ini. Dan haasilnya, buset, banyak banget! Macem - macem! Dari situlah gue makin tertarik dengan dunia yang satu ini. Awalnya, gue cuma tertarik sama program - program musik mereka, tapi lama kelamaan, gue bisa tahu karakter masing - masing radio. Ada yang menonjolkan komedinya, ada yang menonjolkan konten beritanya, ada yang menonjolkan ke-update-an nya, ada yang menonjolkan variasi lagunya, bahkan ada yang menonjolkan penyiarnya (karena dari kalangan artis). Tapi yang paling gokil sih, radio yang mengandalkan IKLAN nya! Ada, Bro, Sist, ada!

Back to the topic, akhirnya telinga gue kesangkut di salah satu frekuensi, yang jelas ketangkep dari kamar kos gue. Gue nggak nyebut lah ya frekuensinya berapa, ntar malah gue dikira promosi (dia nggak bayar gue sih, hahahaha!). Kata mbak kos gue sih dulunya frekuensi itu "dihuni" sama radio dangdut, tapi pas gue dengerin, itu radio anak muda banget. Usut punya usut, itu ternyata emang radio yang belom lama berdiri. Semuanya baru, termasuk penyiarnya. Dibanding radio lain sih, kalah jauh. Bukan cuma masalah kualitas siaran, tapi juga kualitas frekuensi. Agak jauh dikit, masih nggak bisa nangkep (sampe sekarang sih sebenernya, hehehe). Nah berhubung itu radio baru, gue jadi tertarik mengamati perubahannya dari waktu - ke waktu. Awalnya gue "parkir" di siaran pagi mereka. Gue bandingin sama radio lain. Kalah. Gue coba ngasih kritik dan saran yang gue sampaikan melalui penyiarnya (walaupun sedikit banget, paling nggak mereka tahu kalo ada pendengar yang respect). Kerennya, makin hari radio ini makin meng-improve kualitas siaran mereka.
Nggak cuma itu, saking tertariknya, gue bahkan maen ke studionya. Nah! Di situlah gue jadi tahu gimana sebenernya dunia penyiaran itu. Mulai dari kenalan sama mereka - mereka yang selama ini gue denger suaranya doang, ngeliat orang mixing lagu, sampe coba - coba menangin kuis (yang terakhir itu agak nggak penting). Ternyata ada beberapa sisi yang berbeda antara apa yang gue denger sama apa yang gue lihat. Tuntutan buat menghibur orang itu tanggung jawab yang gede banget. Sama kayak pemain sinetron yang harus peran nangis padahal dia lagi seneng banget. Susah. Awalnya gue mikir kerja mereka itu seneng - seneng aja, have fun. Bahkan gue kadang sampe sakit perut ketawa dengerin mereka nge-lucu pas siaran. Tapi nggak semuanya bener. Mereka juga punya rasa capek. Gue salut, karena gue belum tentu bisa ngelakuin hal yang mereka lakukan itu. Ketawa - ketawa, ngehibur orang, ngobrol sana - sini padahal otak lagi penuh sama masalah. Profesional. Yap, kata itu yang harus selalu nempel. Sekali lagi, gue salut. *applause*

Selain acara yang bikin ketawa, eksplorasi gue merambah ke program - program malam. Curhat. Itu yang jadi andalan beberapa radio. Topiknya apalagi kalo bukan cinta. Mereka cukup ngebacain curhatan kita, ngasih saran, terus ngasih lagu yang pas. Dan anehnya, banyak pendengarnya yang merasa terbantu. Se-simpel-itukah membantu orang? Pernah kebayang nggak di benak kalian, ngebantu orang itu nggak susah? Even itu saran lo dipake atau enggak sama dia, kayaknya cuma dengan menampung curhatan dan ngasih "sentuhan" lewat lagu, kelar deh semua. Salut, sekali lagi, salut.

Buat para penyiar yang cuap - cuap, baik itu tentang hal penting ataupun yang nggak penting, gue sangat mengapresiasi karya kalian (gue sebut itu karya, karena lahir dari sebuah passion). Meskipun nggak semuanya, gue yakin sebagian besar dari kalian adalah orang cerdas. Nggak mungkin kalian bisa ngomong kalo belum "belajar" tentang apa yang kalian omongin. Belajar, kalian mau nggak mau harus belajar. Selain itu, kalian juga pasti "memikul" tanggung jawab sama apa yang kalian omongin kalo nggak mau berurusan sama KPI. Hahaha. Dan gue pribadi sadar, itu nggak segampang tekan tombol off di radio terus gedein volumenya. Tanpa tatap muka, tanpa tahu siapa yang ngomong, pendengar kalian bisa ketawa - ketawa, terhibur, atau mungkin nangis dan makin galau. Terlepas dari itu pekerjaan atau tuntutan, gue pengen bilang, kalian hebat.



*tulisan sederhana ini spesial buat sohib gue, aji dan itho. Met siaran!*

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

LANGKAH MEMBUAT PASSPOR DENGAN CARA ONLINE (DI IMIGRASI CIPINANG)

Oke, sekarang bukan jalan - jalan dulu ya isinya..

Gue mau nge-share pengalaman gue bikin paspor beberapa hari yang lalu. Ini sistemnya trial and error sih, temen gue bikin dulu dan gue tinggal follow instruksi dari dia aja. Itu juga masih aja nyasar. That's why, better gue tulis di sini deh buat semua yang mungkin butuh panduan.
But just noted ya, ini dibuat berdasarkan pengalaman gue bulan Januari 2014. Kalo ada perubahan ya mohon maaf. Foto yang diambil juga iseng aja sih, sekedar mau ngasih informasi lebih detil aja. So, enjoy!

STEP UPLOAD:

  1. Scan dulu fomulir yang akan dilampirkan. Kalo gue kemarin sih cuma KTP, KK, sama AKTA KELAHIRAN. Kalo buat anak di bawah 17 tahun beda aturannya. Semua dokumen asli di scan grayscale dengan resolusi yang tepat, sesuai aturan. Gue kemaren terkendala di sini. Gue nge-scan warna dan gue edit pake sotoshop dan hasilnya masih gede resolusinya. harus di edit berkali kali. Kenapa harus tepat? Karena nggak mau diupload kalo kurang atau lebih.
  2. Buka website imigrasi dan pilih paspor online. Silahkan isi identitias, lalu upload dokumen. Kemudian pilih lokasi pembuatan paspor mana yang ingin didatangi. Khusus di sini gue pilih di Jakarta Timur, Cipinang. Ada halte busway nya kok kalo mau ke sana. :)
  3. Step selanjutnya adalah dikasih bukti pembayaran. Slip itu dikirim ke email kita. Harus bayar ke BNI terdekat. Ingat, bukti pembayarannya harus disimpan ya! :)
  4. Step upload dokumen selesai. Saran aja sih, kalo mau upload mending lepas tengah malem. Gue pribadi upload baru lancar jam 3 pagi. Hehehe.
STEP DATENG BUAT WAWANCARA SAMA FOTO:
  1. Peralatan perang yang perlu disiapin: dokumen asli (pastinya), fotocopy semua dokumen termasuk slip bukti pembayaran dari bank, ballpoint, lem, materai 6000, dan makanan/minuman (ngantrinya lama booooo'). Mending siap dari awal daripada cari fotocopy dan ngantri buat sekedar fotocopy aja, ya kan? Oh iya, fotocopy KTP nya jangan dipotong dan jangan bolak balik. Jadi, satu lembar itu jangan dipotong, full buat satu KTP. Peletakannya atas bawah. Bagian yang ada fotonya di atas, bagian yang belakang itu di bawah.
  2. Dateng sebelum jam 6 pagi sangat disarankan. Gue kemarin sih jam 6 pagi baru nyampe sana. dan antriannya panjaaaaaaaaaaang. Tapi ternyata itu buat antrian yang manual. Buat yang pake sistem online, nggak perlu ikutan antri. Lagsung masuk ngelewatin pintu kaca (resepsionis) menuju ruang pengambilan formulir. Yan gperlu dicatet: don't trust anyone kecuali petugas imigrasi. Bisa jadi mereka sama - sama nggak tahu, sok tahu, atau emang pengen elu antri jauh di belakang. INGAT!
  3. Di ruang pengambilan formulir itu elu dikasih form, cuma selembar buat yang passpor online ya! Diisi terus ditempet materai. Udah. :p
  4. Naek ke lantai 2, ke costumer service buat ngambil nomer antrian selanjutnya. Di sana ada pengecekan lembar - lebar yang difotocopy. Banyak yang udah ngantri di awal di suruh balik gara - gara salah fotocopy KTP nya. Naaaah loooh. Hehehe.
  5. Nomor antrian yang tadi dibawa menuju ruang loket. Tunggu di loket 5 (khusus online) sampe nomor kalian dipanggil. Ruang tunggu ini dicampur antara yang manual sama yang online, jadi jangan heran kalo rame banget. Liatin aja nomor antrian di atas loket 5. Selamat menunggu! :)
  6. Setelah dari loket 5, elu bakal langsung disuruh ke sebelah, alias loket 6 buat tukerin struk yang dikasih di loket 5 tadi. Untuk loket 6, nggak ada nomor antrian. Jadi.....semoga elu bisa sabar karena antrian mengular dan kadang - kadang ada yang nyalip mendadak. Hahahaha! Selamat antri!
  7. Di loket 6 ntar elu bakal dikasih nomer antrian lagi buat loket 10.
  8. Pas udah nyampe loket 10, perjuangan kesabaran dimulai. Setelah masuk pintu, loketnya terbagi menjadi dua ruangan. Yang dalem buat foto sama wawancara, yang luar (luas) buat ruang tunggu. Tenang, nomer lu bakal muncul di atas pintu kaca kok. Perhatiin aja, soalnya intervalnya kadang kacau, cepet, terus berhenti lamaaaaaa banget. Gue kemaren sih bawa buku bacaan, headset sama camilan dan air minum. Jadi nggak bosen meskipun sendirian, bisa baca sambil dengeri MP3 sekaligus makan cemilan. Hehehe. Selamat menunggu, LAGI! :)
  9. Selamat! Anda lolos dan masuk ke tahap akhir! Hahaha! Kalo nomer lu udah muncul di atas pintu kaca dan dipanggil, masuk aja ngelewatin pintu kaca itu. Nah di sana langsung tanya ke petugasnya, sebutin nama lu. Petugasnya langsung nyuruh foto sama cap jari. Buat yang pake jilbab, jangan pake jilbab putih, INGAT! Senyum manis yaaa!
  10. Setelah foto, tunggu bentar, duduk aja dulu di deket situ, jangan kemana - mana. Nama lu bakal dipanggil buat wawancara. Nah, di sini lah baru segala berkas asli diperiksa, sekaligue nanyain mau bepergian kemana. Hehe. Jawab aja semua pertanyaannya. Daaaaaaaan, FINISH! elu bakal dapet tanda bukti buat ngambil passpor itu ntar di tanggal yang udah ditentukan.
Nggak ribet, kan?
Gampang kok, cuma ya itu, butuh kesabaran ekstra. SABAR BANGET deh pokoknya. Hahaha. Kalo lu ngeliat orang - orang marah atau bentak - bentak atau bicara - bicara kasar, biarin aja. wajar, yang manual itu prosesnya agak ribet dan lama, mungkin mereka udah capek. Hehehe. Positif thinking aja dan tetep nikmatin dunia lo sendiri.

Semoga tulisan ini bermanfaat ya! Maaf kalo ada salah - salah. Namanya juga manusia kan ya...hehe...
(Maaf kalo seandainya foto belum juga berhasil di upload, koneksi payah)\

Sampai ketemu di postingan berikutnya! :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS